f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
trisula muhammadiyah

Trisula Baru Gerakan Kemanusiaan Muhammadiyah Abad Kedua: LAZISMU, MDMC dan MPM

Muhammadiyah menyebut dirinya gerakan. Bukan organisasi, apalagi yayasan. Dalam lagu Sang Surya, ditemukan kata-kata “Al-Islam agamaku, Muhammadiyah gerakanku.” Sementara itu dalam Anggaran Dasar Pasal 4 Ayat (1) disebutkan “Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dan tajdid”.

Salah satu jargon gerakan Muhammadiyah adalah sedikti bicara banyak bekerja. Semboyan Hizbul Wathan berbunyi: “Sedikit bicara banyak kerja”. Karena itu, Muhammadiyah tidak terlalu memandang penting perdebatan teologi dan lebih mementingkan perbuatan. Muhammadiyah mengutamakan mobilisasi amal yang sistematis dan dinamis.

Satu hal yang amat gencar di Muhammadiyah adalah gerakan filantropisme. Sebagaimana juga yang telah diperintahkan oleh Al-Qur’an, yaitu memberi, berinfak, sadaqah dan seterusnya. Di dalam Muhamadiyah, itu sudah melembaga seperti LAZISMU, MDMC dan MPM.

Anjuran Memberi dalam Al-Quran

Dalam Al-Quran, banyak sekali perintah berzakat, berinfak, sedekah, memperhatikan anak yatim dan seterusnya. Misalnya dalam surat Al-Baqarah disebutkan bahwa: “Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka” (Q.S. Al-Baqarah: 3).

Begitu juga di dalam surat Luqman yang menyatakan bahwa: “Yaitu orang-orang yang melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan mereka meyakini adanya akhirat.” (Q.S. Luqman 31: Ayat 4). Juga di dalam surat Al-Fajr menyebutkan bahwa “Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim. Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 17-18).

Di dalam surat Al-Ma’un juga disebutkan demikian. “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un 107: Ayat 3). Ayat dalam surat Al-Ma’un ini sangat terkenal di Muhammadiyah.

Dan masih banyak ayat-ayat sejenis ini dalam Al-Quran yang pada intinya menganjurkan untuk berzakat, berinfak, sedekah, memperhatikan anak yatim dan seterusnya. Yang artinya, Islam begitu menekankan gerakan filantropi. Karena itu, tidak diragkan bahwa seorag muslim harus menanamkan nilai-nilai filantropi ini.

Baca Juga  Hak Anak Atas Non Diskriminasi
Filantropisme

Filantropisme adalah kedermawanan atas dasar welas asih kepada sesama. Bentuknya bisa memberi, membantu, menolong, dan seterusnya. Filantropi memperkuat kebangsaan. Selain itu, rasa kemanusiannya juga akan menjadi semakin tajam. Filantropisme bisa menjadi sarana untuk menyejahterakan rakyat yang fakir dan miskin.

Filantropisme ini juga bisa menjadi instrumen keadilan. Keadilan memang hanya bisa dirasakan namun sulit didefinisikan. Contoh dari kurang meratanya keadilan adalah masih adanya kemiskinan. Kemiskinan adalah masalah yang dihadapai negara. Untuk menghadapi itu, negara juga mengakomodir gerakan filantropi ini dengan membentuk Baznas, Badan Wakaf dan seterusnya.

Filantropi beberda dengan pajak. Filantropi memang memungut uang dari publik, tapi bersifat sukarela. Tidak sebagaimana yang dilakukan oleh negara. Ini berbeda dengan pajak yang bersifat memaksa. Jadi filantropi juga bisa dikatakan sebagai kritik pada negara.

Abad Pertama: Trisula Lama

Dalam satu abad pertama usiannya, titik gerakan Muhammadiyah berfokus pada trisula pendidikan, kesehatan, dan sosial. Dan itu telah menghasilkan hal yang luar biasa. Dalam ketiga bidang itu Muhammadiyah sudah berada di posisi lepas landas (take off) dengan baik dan aman. Bisa saja terjadi goncangan-goncangan akibat cuaca buruk. Tetapi, secara umum, sedang menempuh perjalanan menuju pelabuhan harapan, stabil, aman dan terkendali.

Amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan dan kesehatan sudah cukup besar. Antusiasme gerakan Muhammadiyah dalam ketiga bidang itu secara numerikal malah sudah sampai pada tingkat harus direm secara kuantitas, agar bisa fokus membenahi aspek kualitasnya.

Pada abad kedua usianya ini Muhammadiyah tidak lagi relevan jika kita bandingkan dengan gerakan Ikhwanul-Muslimin (Mesir dan Dunia Arab), Wahabisme (Arab Saudi), atau Jama’at Islamiyah (Al-Maududi di Pakistan).

Muhammadiyah justru sedang harus berlomba dalam kebaikan dengan The Gülen movement (Turki) yang telah berhasil melakukan internasionalisasi gerakannya melalui pendidikan sebagai ujung tombaknya di seluruh dunia. Gerakan transnasional yang dipimpin oleh pendakwah Turki ini, Fethullah Gulen, telah berhasil mendirikan ratusan sekolah dan universitas privat di 180 negara di dunia yang menjadi pusat-pusat keunggulan.

Baca Juga  Wonder Woman Pendidikan Indonesia
Abad Kedua: Trisula Baru

Di awal abad kedua usianya, Muhammadiyah memulai mencanangkan apa yang disebut dengan Trisula Baru Gerakan Muhammadiyah. Yaitu: Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), dan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Shadaqah (LAZISMU). Ketiganya merupakan penerjemahan dari jati diri asli gerakan Muhammadiyah yang berdimensi kemanusiaan universal yang melintasi golongan, agama, dan sektarianisme.

MPM dirintis oleh almarhum Dr. Moeslim Abdurrahman dan almarhum Dr. Said Tuhuleley. Keduanya merupakan kekuatan operasional dari gagasan teologi Al-Ma’un yang Ahmad Dahlan gagas, sekaligus peletak dasar-dasar gerakan pemberdayaan masyarakat. Said Tuhulely yang berhasil secara gemilang melanjutkan, menyempurnakan, dan mengonkretkan langkah-langkah awal Moeslim Abdurrahman.

Adapun MDMC memiliki spirit Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang fenomenal sejak 100 tahun yang lalu itu. Adapun MDMC bergerak dalam kegiatan penanggulangan bencana baik pada kegiatan kesiapsiagaan, tanggap darurat, maupun rehabilitasi. MDMC mengadopsi kode etik kerelawanan dan piagam kemanusiaan yang berlaku secara internasional dengan mengembangkan misi pengurangan risiko.

Selain itu MDMC juga mengembangkan basis kesiapsiagaan di setiap tingkat komunitas, sekolah, dan rumah sakit sebagai basis gerakan. MDMC mengembangankan pusat penanggulangan krisis (recovery center) di tingkat regional dan wilayah yang berfungsi sebagai respons cepat dan antisipasi terhadap problem-problem sosial di masyarakat.

*

Sedangkan LAZISMU, tokoh yang sangat berpengaruh adalah Prof. Dr. Syafii Maarif dan Prof. Dr. Din Syamsuddin. Keduanyalah yang meletakkan dasar-dasar ideologis dan teologis pada masa-masa formasi gerakan filantropi Islam ini. LAZISMU, pada sejatinya merupakan lembaga yang menggerakkan penghimpunan dana dari masyarakat secara profesional untuk mendanai kegiatan-kegiatan yang MPM maupun MDMC lakukan. Kerja sama yang sistematis dari tiga lembaga ini telah menjadikan Muhammadiyah sebagai salah satu gerakan keagamaan di dunia yang memiliki kemampuan pengelolaan bencana alam sekaligus kesiapan dana yang baik.

Baca Juga  Healing Ala Rasulullah: Menilik Kembali Peristiwa Isra Miraj

MPM, MDMC, dan LAZISMU adalah tiga institusi filantropisme yang merupakan manifestasi baru dari semangat Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Itu akan semakin mengokohkan Muhammadiyah sebagai salah satu gerakan volunterisme yang bekerja secara profesional dan modern. Muktamar ke-47 Muhammadiyah pada tanggal 3-7 Agustus 2015 di Makassar yang lalu merupakan Muktamar pertama di abad kedua usianya menjadi momentum pengembangan Trisula Baru gerakan kemanusiaan Muhammadiyah ini.

Sejak awal, apa yang Muhammadiyah lakukan adalah gerakan filantropi. Namun, secara kelembagaan, gerakan filantropi itu diwadahi oleh MPM, LAZISMU, dan MDMC supaya lebih fokus dan sistematis. Pendistribusian dana juga lebih efektif karena dikelola secara profesional, transparan dan akuntabel. Gerakan Muhammadiyah adalah gerakan untuk mengentaskan masyarakat dari keterbelakangan, kemiskinan, dan seterusnya. Upaya itu lebih efektif jika dilakukan secara kelembagaan dan terorganisir. Terutama untuk memastikan keberlanjutannya.

Bagikan
Post a Comment