Menembak dan Stabilitas Emosi; Tentukan Targetnya
Kira-kira dalam setengah bulan ini, saya menggeluti hobi baru yang mahal yaitu, menembak. Tidak ada alasan khusus selain mencoba hal baru. Lapangannya pun sangat dekat, dan saya tinggal jalan kaki kurang lebih 100 meter dari tempat kerja setelah jam kantor selesai. Harga sewa olahraga Ini juga tidaklah murah, dan ini mungkin bisa membuat kapok. Apakah saya kapok? Saya sih tidak, tapi dompet saya iya. Untung, instrukturnya gratis.
Bagi yang ingin berlatih menembak, anda cukup membayar pelurunya dan satu kotak peluru berisi 50 butir, harganya 550 ribu. Itu artinya 11.000. Saat mengenai sasaran, rasanya lega. Jika tidak kena, rasanya dongkol dari hati turun ke dompet. “Duh, 11 ribu meleset sia-sia”, begitu kira-kira keluhan dalam hati saya.
Mengenal Olahraga Menembak yang Digemari Setiap Kalangan
Menembak memang mudah. Ia sekedar memuntahkan peluru dari laras senjata dengan memicu pelatuk untuk mengenai target. Soal kena atau tidak, itu urusan lain. Di situlah letak kesulitan dan kemisteriusannya. Saat pertama kali memasuki shooting range, Anda akan mengenali senjata yang nantinya akan kamu gunakan. Kami menggunakan senjata laras pendek di sini. Orang-orang sering menyebutnya pistol, atau biasa disebut hand-gun oleh komunitas menembak. Hal paling penting yang diajarkan di awal kepada para pemula adalah tentang keamanan. Karena bagaiamana pun senjata api bisa mematikan apabila digunakan oleh orang yang salah.
Sebelum mengisi senjata dengan peluru, ada istilah dry-firing, menembak kering. Artinya tidak ada peluru dalam senjata. Ini semacam pemanasan sekaligus untuk membentuk kebiasaan aman dalam memperlakukan senjata. Latihan membidik dan penekanan soal keselamatan dilakukan di sesi ini kemudian arahkan moncong senjata ke tempat yang aman (jika di lapangan, berarti arahkan ke arah plat-plat besi atau papan presisi), selalu anggap bahwa senjata itu terisi peluru, dan selalu letakkan jari di luar bingkai trigger hingga Anda benar-benar ingin menembak sebuah objek. Lakukan ini berulang-ulang hingga menjadi memori ototmu.
Manfaat Olahraga Menembak Bagi Kesehatan Mental
Mari kita bahas soal psikologi dalam menembak. Manfaatnya antara laian:
1) menguatkan lengan;
2) meningkatkan fokus penglihatan;
3) melatih konsentrasi;
4) meredakan stress.
5) kestabilan emosi. Hal ini lah yang tidak dibahas dalam artikel-artikel lain. Mari kita bahas!
Pertama kali menembakkan senjata api, ketika melakukan dua tembakan pertama di papan presisi, saya mendapatkan skor 8 dan 10, dari jarak 15 meter. Itu mengejutkan. Kemudian pada jarak yang sama kedua, saya dengan jitu mengenai dua plat besi. Temanku di belakang pun terkejut lagi. “Mantaaab!”, begitu katanya. Dia mengatakan bahwa saya lebih jago padahal baru pertama kali. Tapi, saya rasa itu hanya keberuntungan.
Empat tembakan pertama sukses senilai 44 ribu rupiah.
Melatih Konsentrasi dan Fokus
Latihan berikutnya, saya tidak seberuntung sebelumnya. Saya hanya menembak 3 kali dan mengenai sasaran 1 kali. Saya pikir penyebabnya adalah waktu itu lebih banyak orang dari pada latihan pertama. Di pertemuan kedua itu, muncul 2 orang penembak handal lain selain pak instruktur. Jadi, menurutku, menurunnya performa saya saat latihan kedua ini adalah terlalu percaya diri sekaligus grogi. Percaya diri karena bagusnya akurasi di latihan pertama, dan grogi karena kedatangan dua penembak profesional. Di latihan kedua ini, untungnya saya mendapat 3 peluru gratis. Hal itu sedikit melegakan.
Di latihan ketiga, saya menembak 5 kali. Tiga kali, pertama kena semua, dan dua kali kedua meleset. Hanya dengan berbekal 3 latihan itu lah, saya ikut kompetisi menembak. Hasilnya, di kategori PNS dan Honorer, dari 12 kali, aya mengenai target 2 kali. Kemudian di kategori umum, saya 11 kali dan 4 kali mengenai sasaran. Artinya, di kategori umum, yang pesertanya adalah para jago dan membawa pistol masing-masing, justru Saya merasa lebih tenang. Sementara itu, pistol yang kupakai adalah pinjaman dari panitia.
Ada satu cerita yang menurut saya paling menarik. Di jeda waktu istirahat, saya memanfaatkannya untuk berlatih. Lima kali ke arah plat besi, saya pikir cukuplah. Dengan mengandalkan pemandu dari Brimob, saya menghambur lima peluru ke target tanpa meleset. Semangat dan kepercayaandiri pun meningkat. Saya coba lagi lima tembakan, hasilnya 4 meleset dan 1 nyrempet saja. Ada apa ini?
Menembak, Ajang Melatih Konsentrasi dan Emosi
Saya mencoba mereview cara saya menembak. Genggamanku sudah benar telapak tangan kanan erat penuh memegang gagang, telapak kiri menyangga untuk menguatkan. Cara membidikku juga sudah pas dua titik bidikan di belakang kuluruskan dengan satu titik di depan, kemudian kusejajarkan dengan target. Semua sudah terasa benar tapi satu yang saya rasa salah, level emosi.
Dari sejak latihan dan perlombaan, saya bisa menembak dengan tepat ketika emosi stabil. Kegagalan-kegagalan yang terjadi adalah ketika Saya terlalu bersemangat, terlalu percaya diri, dan tekanan karena dikejar waktu dan rival di sebelah. Saat pertama kali berlatih pun, saya merasa nothing to lose saja. “Ya namanya juga baru latihan pertama. Meleset juga nggak apa-apa”. Tapi justru itu, emosi yang datar-datar saja menjadikan Saya lebih fokus dan santai tanpa beban. Orang-orang menyebutnya keberuntungan pemula.
Alasan olahraga ini saya sebut bisa melatih kestabilan emosi. Akurasi tembakan memang berhubungan dengan hal-hal teknis lain seperti kelayakan senjata yang dipakai, cara menggenggam senjata, cara membidik. Ledakan dan daya tolak senjata pun bisa mengubah arah peluru. Tapi ternyata, terlalu semangat, terlalu pede, grogi, panik juga bisa membuat tembakan tidak akurat.
Jika ada kesempatan, cobalah olahraga menembak dengan senjata api. Anda akan tahu bagaimana susahnya berusaha tetap tenang ketika dikelilingi suara-suara ledakan sejata yang mengintimidasi, sedangkan Anda harus menjaga stabilitas emosi. Saya sendiri berani langsung ikut lomba karena quotes dari dua orang penembak yang Saya sebutkan di atas. Ucapan dua orang itu sengaja saya rangkaikan “Ya begitulah menembak. Kadang kena, kadang enggak. Saat ada tembakan meleset, sesama penembak nggak akan saling menertawakan. Karena kita semua tahu bagaimana sulitnya menembak.”
Menembak memang bisa melatih stabilitas emosi. Namun, bagaimanapun ini bukan lah hobi murah. Pastikan Anda punya uang lebih. Jangan sampai untuk mengejar stabilitas emosi, Anda mengabaikan stabilitas ekonomi.
Editor: Kholifatul Husna
