f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
derma

Mengenal Tradisi Tilik Calon Haji

Berbagai cara ditempuh demi terwujudnya suasana rukun dan damai antar warga desa. Salah satu wujud tepaselira yang sering saya jumpai adalah acara tilik calon haji yang biasanya dilakukan sebulan hingga beberapa hari sebelum hari H. Mengapa calon haji mesti “ditiliki”? Inilah yang sering membuatku tak habis pikir.

“Jadi ikut ke rumah bu Heni nanti sore?” tanya tetangga samping rumahku ketika kami berpapasan di depan rumah.

“Bu Heni kenapa,  sakit? ” Aku balik bertanya.

“Lho,  masak gak tau sih,  beliau mau berangkat haji bersama suami dan anak-anaknya bulan depan?”

“Ooo… ” Aku manggut-manggut tanpa dikomando.

Tradisi Tilik Calon Haji

Bukankah calon haji adalah orang yang memang sudah mampu?  Kalau hanya sekedar tilik mungkin tidak apa-apa karena silaturrahmi sangat dianjurkan dalam agama. Tapi ini lain, tilik dengan membawa sejumlah barang dan yang paling sering adalah membawa gula dengan jumlah tertentu.

Sudah menjadi tradisi, kata mereka, orang-orang di sekitarku. Bagi sebagian orang tidak menjadi masalah membawa buah tangan tilik ke calon haji sebagai wujud peduli atau bahkan wujud “penghormatan” kepada sang calon. Tentu saja ini berlaku bagi yang kehidupan ekonominya tidak bermasalah. Karena kadang satu desa calon hajinya ada 5 orang yang ditiliki juga 5 orang. Bisa dibayangkan ada berapa anggaran yang dialokasikan ke sana.

Bagi yang kemampuan ekonominya menengah ke bawah lain lagi ceritanya. Untuk menyikapi hal seperti ini, biasanya bu RT setempat yang mengelola sekaligus menjadi ketua rombongan jama’ah tilik. Misalnya ada berapa lokasi yang akan ditiliki berapa anggota yang ikut rombongan tilik. Masing-masing anggota dikenakan iuran dengan jumlah tertentu yang sama. Setelah dana terkumpul, dibelikan gula atau bahan sembako lainnya dan dibagi ke beberapa lokasi yang mau ditiliki.

Tradisi yang Sulit Berubah

Cara seperti itu membuat beban ibu-ibu yang hendak tilik menjadi lebih ringan. Tapi ada juga yang tetap merasa berat, karena di satu sisi ingin ikut tilik di sisi lain tidak ada dana untuk itu. Sehingga ada juga yang terpaksa berhutang hanya karena ada rasa tidak enak hati bila tak ikut tilik (nah lho…). Ini yang sangat membuat kita prihatin. Kalau memang tidak ada anggaran mbok hiyao tidak usah ikut tilik, toh bu dan pak calon sudah tahu keadaan para tetangganya.

Tidak semua calon haji setuju dengan cara ini. Sayang sekali setiap calon yang mau berangkat sudah pasti para tetangga tahu karena diumumkan di kelompok- kelompok kecil majlis taklim. Pernah ada sepasang calon yang benar-benar tidak ingin merepotkan orang-orang khususnya para tetangga dengan cara menutup pintu rumah dan menyatakan tidak menerima tamu. Apa yang terjadi? Disebut sombonglah,  angkuhlah dll. Padahal niat tulusnya tak mau merepotkan. Beliau berdua hanya membuka pintu persis di hari pemberangkatan sekaligus mohon maaf, mohon pamit dan mohon doa kepada tetangga sekitarnya.

Ada juga yang oleh calon, bawaan ibu-ibu yang tilik tsb dikembalikan dan bahkan ditambahi tentengan ringan yang biasanya berisi kue. Namun yang model seperti ini bisa dihitung dengan jari. Yang selama ini terjadi justru bagi para ibu yang tilik disamping dapat jamuan ala kadarnya, pulangnya masih dapat tentengan alias brekat dalam bahasa Jawa.

Tilik Tanpa Sumbangan

Hanya beberapa daerah yang mengenal budaya tilik calon haji seperti itu. Alangkah baiknya dicari cara yang lebih enak di kedua belah pihak. Yang mau tilik dan mendoakan silahkan datang. Tidak harus membawa sesuatu sebagai sumbangan. Toh sudah paham hampir semua calon haji adalah orang-orang yang “mampu”.

Bagi sang calon ada rasa bahagia ditiliki meski tanpa membawa sesuatu, karena yang paling penting adalah mereka dengan ihlas mendoakan sang calon mendapatkan keselamatan dan kelancaran dalam perjalanan hingga pulang kembali ke tanah air sehingga menjadi haji yang mabrur.

Apakah salah bila tilik calon haji sambil membawa sesuatu? tidak selalu salah. Bisa saja saking bahagianya mendengar teman, sahabat, kerabat atau tetangga yang akan berangkat ibadah ke tanah suci terus kita datang dan memberi sedikit hadiah sebagai rasa syukur. Tapi tidak semua orang dengan niat yang sama kan?

Dua Sisi

Ada dua sisi yang sudah pasti dialami oleh para calon haji. Bukan untung rugi tapi lebih pada sisi positif dan negatif. Sisi positif, banyak teman, kerabat dan tetangga yang mendoakan. Meski untuk menjamu mereka ketika datang sudah bisa kita bayangkan karena berlangsung berhari-hari sebelum calon berangkat. Dan ini sudah sangat disadari oleh calon dianggap sebagai sedekah.

 Sisi yang lain, karena selama berhari-hari menerima tamu baik yang dekat maupun yang jauh membuat kondisi para calon menjadi kurang fit saat keberangkatan karena kurang istirahat dan kurang tidur. Ini terbukti sangat berpengaruh pada kesehatan calon jamaah. Dan momen seperti ini akan berulang terjadi saat jamaah kembali ke tanah air.

Bagikan
Comments
  • Bu Guru Wiendy

    Lain daerah lain tradisi..Kalau di daerah saya Semarang ,2-3 hari sebelum keberangkatan sang calon mengundang warga utk minta doa restu dg acara pengajian kalau perlu malah mengundang ustadz/ ustadzah sebagai pembicara nya..

    Oktober 19, 2020
Post a Comment