f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
biawak

Pandemi Mengubah Tradisi Penghormatan Kita

Satu hal yang membuat saya kesal dengan Covid-19 ini adalah dampak yang ia berikan pada keluarga kami. Bukan dalam hal ekonomi, sebab walau terdampak kondisi kami masih terkendali. Dampak yang saya maksud adalah rusaknya sebuah tradisi penghormatan yaitu cium tangan.

Jadi, kini setiap pulang ke rumah saya harus menghadapi sebuah dilema yang mengiris-iris kalbu. Anak laki-laki saya yang berusia dua tahun pasti lari ke luar rumah menyambut saya. Ia akan mencoba meraih tangan saya untuk menciumnya. Tapi, gara-gara Covidini saya tentu tak bisa merespon dengan semestinya. Di situlah saya merasa sedih.

Sebagai keluarga yang baru menjalani hidup seusia tenor cicilan motor, saya sangat idealis mencoba membangun nilai-nilai positif pada anak. Seturut budaya dimana saya bergumul didalamnya tentu. Dan, salah satu yang umum dilakukan adalah kebiasaan anak mencium tangan orang yang lebih tua. Tapi membiasakan anak sekecil itu tentu tak mudah.

Singkat kata, kami berhasil membangun kebiasaan itu. Tapi tak selang berapa lama  pencapaian kami harus diruntuhkan dengan alasan yang mungkin tak dapat anak saya pahami. Corona? Virus? Ya jelas anak saya tidak paham, karena itu dia masih sering bertanya, why, why, why? (maksudnya kenapa saya menolak dicium tangan).

Perubahan Penghormatan dan Kebiasaan

Hal serupa pun terjadi ketika ia berinteraksi dengan orang lain. Cium tangan adalah  salah satu syarat sah untuk diakui sebagai anak yang tau sopan santun dalam budaya kita bukan? Tapi, itu tak mungkin dilakukan selama pandemibelum berakhir. Dan entah kapan berakhir.  Setahun? Dua tahun? Seandainya berakhir akankah semua kembali normal?

Melihat kebiasaan baru yang demikian ketat dilakukan, saya menduga itu akan menjadi sebuah kemapanan. Setelah pandemi berakhir, kita masih tak bisa lepas dari protokol kesehatan Covid. Kita masih rajin membawa handsanitizer, semprot sana-semprot sini sebelum menyentuh sesuatu, menggunakan masker, dan tidak bersentuhan tangan.

Baca Juga  Mengakrabi Model Pembelajaran Jarak Jauh

Nah, yang terakhir saya sebut itu agak mengkhawatirkan. Jangan-jangan anak saya akan tumbuh dengan kesadaran protokol Covid hingga tak akrab dengan tradisi mencium tangan. Karena untuk melakukannya pasti ribet,  cuci tangan dulu atau harus semprot alkohol, maka muncul memakluman. Ya sudah, tidak usah cium tangan dari pada ribet. Boros juga kan.

Bisa karena Terbiasa

Alah bisa karena terbiasa, demikian kata orang minang. Sesuatu yang berat menjadi mudah sebab terbiasa. Suatu yang lazim dan mengakar pun bisa ditinggalkan.  Tradisi cium tangan itu pun  demikian. Bisa jadi anak-anak yang tumbuh bersamaan dengan budaya new normal ini tak lagi mengenal cium tangan orang yang lebih tua.

Mungkin ada yang mengaggap pikiran saya terlalu ekstrem. Tapi coba anda ingat, betapa sebuah tradisi dapat hilang dengan mudahnya karena zaman atau peraturan. Misal tradisi petasan saat lebaran yang menyenangkan itu kini sudah lenyap di banyak tempat. Ya terlepas dari pro dan kontranya, saya masih merindukan masa-masa itu.

Atau fenomena munculnya kebiasaan mukbang jumbo. Padahal, kebiasaan makan kenyang apalagi kekenyangan dulu tabu di banyak masyarakat kita. Kalau sampai nenek tahu bisa marah besar. Iya kan? Tapi tren dari negeri gingseng ini malah populer di Indonesia.

Cium Tangan sebagai Penghormatan

Kembali ke cium tangan. Saya jadi teringat sebuah peristiwa unik yang terjadi di Red Bull Stadium, Amerika. Saat itu tim sepak bola U-12 kita mencium tangan wasit setiap menjelang dimulainya pertandingan. Pemandangan itu sempat menjadi perbincangam warganet sejagad. Bahkan, perbuatan itu ditiru oleh tim dari Afrika Selatan.

Saya yakin yang dilakukan oleh para pemain kita tidak dibuat-buat. Itu merupakan wujud penghormatan anak-anak kita kepada orang yang lebih tua. Tak peduli mereka kenal atau tidak , tak peduli para wasit itu mengerti maksud dari cium tangan itu atau tidak. Siapa saja yang lebih tua dihormati, tak memandang sekat bahkan sekat bangsa. Luar biasa bukan?

Baca Juga  Keterlibatan Orang Tua dalam Menjaga Kesehatan Mental Anak

Cium tangan sebagai bentuk penghormatan juga bisa hadir di ranah politik yang kerap dianggap kotor. Misal pada pemilu 2019, saat salah satu calon wakil presiden mencium tangan lawannya. Peristiwa itu menegaskan bahwa nilai kesantunan layak ditempatkan di atas sebuah kontestsi kekuasaan.

Kesantunan juga tak memandang kelas dan jabatan, sebagaiman yang ditunjukan oleh Bupati Tapanuli Tengah beberapa waktu lalu. Ketika ia hendak melantik seorang kepala sekolah, rupanya yang dilantik adalah ibu gurunya saat masih kecil. Seketika ia pun mencium tangan guru tersebut sebagai wujud penghormatannya.

Cium Tangan sebagai Berkah

Dalam kultur masyarakat muslim tradisional di Indonesia (NU) lebih ngeri lagi. Cium tangan adalah wasilah mencari berkah.  Mencium tangan orang tua, atau orang yang dianggap mulia diyakini mendatangkan tambahan pahala dan kebaikan dunia dan akhirat.

Bagi kalangan pesantren, mencium tangan kyai bisa jadi merupakan cita-cita tertinggi para santri. Maka tak jarang masyarakat sampai berebut mencium tangan para ulama itu. Seorang kawan santri pernah bercerita seandainya dia diberi pilihan mendapat uang 100 juta atau bisa mencium tangan kyainya, tanpa ragu pilihan jatuh ke yang kedua.

Nah, rupanya cium tangan tak sesederhana kelihatannya bukan? yang bisa digantikan dengan misalnya menundukan kepala, membungkukan badan atau salam namaste. Atau, diribetkan dengan handsanitizer dulu. Ia merupakan simbol kultural yang memiliki makna sangat penting. Sayangnya, tradisi cium tangan itu terancam hilang karena pandemi.

Tradisi Baik yang Berubah

Tak hanya cium tangan, sebelumnya kita kehilangan tradisi komunal yakni mudik, silaturahmi dan berkumpul saat lebaran. Tradisi menyuguhkan lauk komplit juga hilang di banyak restoran padang, mereka kini hanya menghidangkan apa yang dipesan.

Baca Juga  Mengatasi Kebosanan Belajar di Masa Pandemi

Belum lagi tradisi yang bersifat ritus semisal perayaan idul adha, syukuran, hingga ziarah Dan, kita masih bisa menyebut contoh lain. Pandemi ini benar-benar mengubah kita dengan sangat banyak, tak hanya kesehatan dan ekonomi tapi juga budaya.

Bagikan
Comments
  • erkan

    Penulis bisa memberi perspektif baru atas pandemi ini, good job..

    Oktober 28, 2020
Post a Comment