f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
anak

Anak dan Kedekatannya dengan Gawai

Tak bisa kita pungkiri, teknologi adalah bagian penting dalam hidup ini, terlebih teknologi digital. Semua hal menjadi mudah dengan bantuan teknologi digital, baik dalam aspek ekonomi, sosial, politik, hiburan maupun pendidikan. Tetapi, dengan segala kemudahan itu, tentu memiliki dampak pada setiap penggunanya, terlebih jika penggunanya adalah anak-anak.

Pada dasarnya anak merupakan kanvas kosong yang bisa kita lukis dengan kehendak pelukisnya. Tetapi alangkah berbahayanya jika yang melukis pada kanvas itu bukanlah orang tuanya. Coba bayangkan, akan menjadi lukisan seperti apa kanvas kosong itu jika semua orang bebas melukisnya?

Salah satu hal yang penting untuk diperhatikan adalah penggunaan media sosial, sebab ini adalah salah satu media tempat anak-anak menghabiskan waktunya. Mengutip mediaindonesia.com yang menyampaikan hasil riset dari Neuosensum yang berjudul “Neurosensum Indonesia Consumers Trend 2021: Social Media Impact on Kids”, rata-rata anak Indonesia mengenal media sosial di usia yang belia yaitu 7 tahun; 54% di antaranya diperkenalkan ke media sosial sebelum mereka berusia 6 tahun dan mirisnya adalah fenomena ini banyak terjadi dari keluarga berpenghasilan menengah dan rendah.

Beberapa media sosial yang sering anak-anak gunakan, di antaranya YouTube (78%), Instagram (54%), Facebook (54%), WhatsApp (61%), dan Twitter (12%). Selain itu anak-anak juga banyak menghabiskan waktunya untuk menonton film atau serial di platform online (42%), membuat video di Tik Tok atau platform lainnya (37%), serta membaca buku online atau komik di internet (30%).

Menjadi Seorang Pelukis

Orang tua adalah pelukis pertama seorang anak, ayah dan ibu adalah orang pertama yang akan memberi warna, cinta pertama, pelukan dan teladan pertama. Hilangnya peran orang tua akan berdampak buruk bagi perkembangan anak. Salah satu faktor hilangnya peran orang tua adalah ekonomi dan teknologi.

Baca Juga  Penghormatan Tak Ternilai kepada Orang Tua

Kegelisahan perihal ekonomi pasti sebagian besar orang tua rasakan, terlebih orangtua muda. Sehingga orangtua sibuk bekerja sedangkan buah hatinya dengan terpaksa dititipkan kepada neneknya atau tempat penitipan anak. Kurangnya bonding orangtua membuat anak mencari dunianya sendiri.

Selain itu, hadirnya gawai bisa menjadi orang ketiga di tengah keluarga. Tak jarang orang tua sibuk dengan gawainya, bahkan mirisnya masih banyak pula orang tua yang candu dengan media sosial dan juga game online. Beberapa waktu lalu sempat beredar sebuah video viral penganiayaan seorang anak akibat ayahnya merasa terganggu saat bermain game online dan kalah dalam bermain.

Gawai berikut isinya seperti media sosial memang tak bisa kita salahkan, sebab itu hanyalah alat yang tak bisa kita hukumi. Tetapi dengan adanya media sosial dan aktivitas di dunia maya seringkali membuat kita sibuk dan lalai. Bahkan banyak orang tua yang mengambil jalan pintas dalam pengasuhan anak. Anak yang rewel mereka berikan gawai untuk menenangkannya dengan menonton video, bermain game, berselancar di media sosial dan yang lainnya.

Apakah kita tidak menyadari bahwa gawai telah mengganti posisi orangtua di hati anak? Apakah kita tidak bisa menghibur atau mengalihkan perhatian mereka untuk hal lain selain bermain gawai? Ataukah kita tidak bisa sejenak meluangkan waktu untuk bermain atau menemani mereka?

Dalam tumbuh kembang anak, dua hal yang akan berperan aktif. Pertama adalah orang tua, dan kedua adalah lingkungan. Lingkungan bukan berarti area sekitar tempat tinggal kita saja. Tetapi dunia maya tempat anak-anak berselancar juga termasuk lingkungan. Dan ini adalah lingkungan yang sangat luas dan kompleks. Menjadi tidak aman jika begitu saja kita membiarkan anak-anak seorang diri berada di lingkungan tersebut.

Baca Juga  Menjadikan Anak Berprestasi atau Anak Berakhlak?
Membangun Madrasah

“Ketika orang tua telah kehilangan perannya,
ia hanyalah alat untuk melahirkan dan mencetak uang”

Anak adalah titipan yang perlu kita jaga dan kita arahkan. Kita berharap anak adalah generasi Islam dan bangsa di masa yang akan datang. Jika mereka telah dirusak, maka rusak pula generasi kedepannya. Konon, orang tua adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Tetapi jika orang tua telah kehilangan peran dalam hidup si anak, barangkali anak tersebut akan diasuh oleh media mainstream, akun-akun yang tidak jelas, konten yang liar, dan influencer-influencer yang tidak pantas untuk dicontoh oleh si anak.

Pelonggaran orang tua terhadap pemberian gawai kepada anak menjadi sebab utama seorang anak mengabaikan orang tuanya. Terlebih, jika sejak balita si anak sudah orang tua perkenalkan dengan gawai. Kedekatan anak dengan orang tua akan tergantikan oleh keasyikannya menggunakan gawai, bermedia sosial atau bermain game online. Sehingga media sosial menjadi taman bermain sekaligus madrasah utama bagi si anak.

Memberikan gawai kepada anak adalah tindakan yang sah-sah saja, tetapi kecenderungan orang tua yang selalu memberikan gawai di kala si anak sedang rewel menjadi faktor utama anak-anak mengalami candu. Sehingga anggapan mereka bahwa jika mereka rewel dan merengek maka akan diberikan gawai oleh orang tuanya.

Menjadi orang tua memang tugas yang berat, namun jika kita melihat dan menikmati proses tumbuh kembang si anak, keduanya akan saling belajar bersama-sama. Teknologi hanyalah alat, sedangkan orang tua adalah peran utama untuk tumbuh kembang si anak. Maka menjadi penting sebagai orang tua untuk bijak dalam menggunakan teknologi dan mengontrol seluruh aktivitas kegiatan si anak.

Bagikan
Post a Comment