f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Ramadan anak

Ramadan dan Nostalgia yang Hilang: Masih Adakah Ruang Aman bagi Anak- Anak

Ramadan selalu menjadi bulan yang membawa nostalgia, terutama bagi mereka yang masa kecilnya diisi dengan tawa, permainan, dan kebersamaan. Saya teringat dulu, begitu adzan maghrib berkumandang, bukan hanya suara sendok dan piring yang beradu, tetapi juga tawa renyah anak-anak yang bergembira setelah seharian berpuasa.

Masa kecil di bulan Ramadan adalah tentang berlarian di masjid setelah sholat tarawih, bermain petasan di gang-gang kecil, berburu takjil dengan uang saku seadanya, atau menghabiskan waktu jalan setelah subuh dari ketika langit masih gelap hingga matahari sudah terasa terik. Tidak ada ketakutan, tidak ada rasa was-was.

Namun, kini semua terasa berbeda. Berita tentang anak-anak yang menjadi korban kekerasan, pelecehan, bahkan pembunuhan, muncul hampir setiap hari. Ruang aman bagi mereka seolah semakin menyempit, bahkan menghilang sama sekali. Anak-anak yang seharusnya bebas bermain dan belajar kini terjebak dalam dunia yang tak lagi ramah. Ini bukan lagi sekadar nostalgia yang melankolis, tetapi sebuah realitas yang memaksa kita untuk bertanya. Apakah anak-anak masih memiliki ruang yang aman di dunia ini?

Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2023, terdapat peningkatan signifikan dalam kasus kekerasan terhadap anak. Deputi Perlindungan Khusus Anak Kemen PPPA, Nahar, menyatakan bahwa tingginya angka kasus kekerasan terhadap anak menjadi tantangan luar biasa yang perlu diatasi secara komprehensif, baik kekerasan kontak maupun non-kontak di ranah luring dan daring.

Terbatasnya Ruang Aman Anak dan Persoalan Sistemik

Perubahan fenomena menyempitnya ruang aman bagi anak-anak tidak bisa dipandang sebagai kebetulan semata. Ada banyak faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya kasus kriminalitas terhadap anak. Salah satunya adalah berkembangnya teknologi dan media sosial yang, meskipun membawa banyak manfaat, juga menjadi gerbang bagi predator anak.

Selain itu, dari aspek sosial, Robert K. Merton mengemukakannya dalam teori social strain, ketika individu mengalami ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan, mereka cenderung mencari jalan keluar yang menyimpang. Dalam konteks ini, banyak pelaku kejahatan anak yang berasal dari lingkungan penuh tekanan, entah itu tekanan ekonomi, sosial, atau psikologis, sehingga mereka mencari pelampiasan pada yang lebih lemah.

Baca Juga  Mana Lebih Penting, Raih Mimpi atau Ranking?

Di sisi lain, teori belajar dari Albert Bandura juga menyoroti bagaimana individu mempelajari perilaku dari lingkungan mereka. Jika seorang anak tumbuh di lingkungan yang penuh dengan kekerasan dan eksploitasi, maka mereka akan menginternalisasi pola tersebut dan menganggapnya sebagai sesuatu yang normal. Hal ini menjelaskan mengapa kasus kekerasan terhadap anak sering kali berulang dalam siklus yang terus menerus. Karena banyak dari pelaku juga merupakan korban kekerasan di masa kecil mereka.

Tradisi Masyarakat Menjaga

Kita juga harus melihat bagaimana perubahan gaya hidup masyarakat turut mempengaruhi keamanan anak-anak. Dulu, anak-anak bermain di luar rumah dengan pengawasan kolektif dari orang tua dan tetangga. Ada semacam budaya komunal yang membuat anak-anak merasa aman karena mereka tahu bahwa ada banyak mata yang mengawasi. Sekarang, dengan meningkatnya urbanisasi dan individualisme, banyak keluarga yang tidak lagi mengenal tetangga mereka sendiri.

Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah dengan gadget. Bukan karena mereka tidak ingin bermain di luar, tetapi karena orang tua merasa lebih aman jika mereka tetap di dalam. Ironisnya, ancaman terhadap anak kini tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam rumah melalui media digital yang membuka akses bagi orang asing untuk masuk ke kehidupan mereka. Belum lagi ancaman dari orang terdekat, banyak kasus pelaku kekerasan justru dari anggota keluarga.

Tidak bisa dipungkiri bahwa permasalahan ini lebih kompleks dari sekadar pengaruh internet. Sistem hukum yang lemah, kurangnya pendidikan seksual sejak dini, serta minimnya kesadaran akan pentingnya perlindungan anak juga menjadi faktor utama. Banyak kasus pelecehan dan kekerasan terhadap anak yang tidak pernah terungkap karena berbagai alasan. Entah karena korban takut berbicara, orang tua merasa malu, atau sistem hukum yang tidak cukup berpihak pada korban. Ini menunjukkan bahwa permasalahan ini bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab sosial yang lebih besar.

Baca Juga  Belajar dari Kesalahan dalam Mendidik Anak
Implementasi dari Campaign Perlindungan Anak yang Masih Belum Optimal

Dalam perspektif kritis, kita bisa menggunakan teori hegemoninya Antonio Gramsci untuk memahami bagaimana sistem yang ada membentuk cara kita melihat masalah ini. Negara dan media sering kali mengontrol narasi tentang keamanan anak dengan memberikan ilusi bahwa mereka sudah melakukan yang terbaik. Kampanye-kampanye perlindungan anak terus digaungkan, tetapi implementasinya sering kali tidak maksimal.

Akibatnya, banyak orang tua yang merasa cukup hanya dengan memberikan peringatan kepada anak-anak mereka, tanpa benar-benar memahami bagaimana cara menciptakan ruang aman bagi mereka. Ini juga sekaligus perenungan bagi kita yang selama ini bergerak dalam aksi-aksi edukasi perlindungan anak. Baik dari pendekatan, atau strategi agar aksi ini bisa massif.

Jika kita ingin mengembalikan ruang aman bagi anak-anak seperti di masa lalu, maka kita harus mulai dari sekarang. Orang tua harus lebih sadar akan lingkungan tempat anak-anak mereka tumbuh. Pendidikan seksual dan kesadaran tentang bahaya predator anak harus menjadi bagian dari kurikulum sejak dini, bukan hanya sebagai pelajaran tambahan. Masyarakat juga harus kembali menghidupkan budaya kepedulian sosial, di mana setiap orang merasa bertanggung jawab terhadap keselamatan anak-anak di sekitarnya. Selain itu, hukum harus ditegakkan dengan lebih tegas terhadap para pelaku kekerasan terhadap anak, tanpa ada celah bagi mereka untuk lolos dari hukuman.

Sementara itu, pendidikan di sekolah juga sudah seharusnya diarahkan untuk membekali anak-anak dengan pengetahuan tentang cara melindungi diri. Kurikulum yang mengajarkan tentang batasan pribadi, mengenali perilaku mencurigakan, dan cara melaporkan kejadian yang tidak diinginkan harus diintegrasikan. Selain itu, sekolah harus menjadi tempat yang aman dan bebas dari kekerasan. Caranya dengan menerapkan kebijakan zero tolerance terhadap segala bentuk bullying dan pelecehan.

Baca Juga  Refleksi Pengasuhan Dari Drama Korea

Kurikulum harus mengakomodasi pembelajaran tentang gender, hak anak, serta pencegahan kekerasan seksual. Saat ini, banyak sekolah masih mengabaikan pendidikan tentang gender, sehingga anak-anak tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang konsep kesetaraan. Guru dan tenaga pendidik juga harus dibekali dengan pemahaman tentang bagaimana mendidik anak-anak agar lebih kritis terhadap ketimpangan gender yang bisa berujung pada kekerasan.

Ramadan, yang dulu menjadi bulan penuh kebahagiaan bagi anak-anak, seharusnya tetap bisa menjadi waktu yang aman bagi mereka, bahkan di bulan-bulan lainnya. Sebab ini bukan hanya soal romansa Ramadan, namun perenungan yang lebih substansial, yakni tentang lingkungan yang ramah anak.

Nostalgia tentang masa kecil yang penuh keceriaan bukan hanya sekadar kenangan para pendahulu. Tetapi juga seharusnya menjadi refleksi tentang bagaimana kita bisa menciptakan dunia yang lebih baik untuk mereka saat ini juga. Dunia di mana anak-anak bisa bermain tanpa rasa takut, di mana tawa mereka tetap nyaring terdengar saat mereka berlarian selepas tarawih, dan di mana tidak ada lagi berita tentang anak-anak yang kehilangan nyawa karena kejahatan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Jadi, apakah ruang aman bagi anak-anak masih ada? Jawabannya ada pada kita semua. Bukan hanya sebagai orang tua, guru, atau pemangku kebijakan, tetapi sebagai manusia yang memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa dunia ini masih layak dihuni oleh mereka yang paling berharga, anak-anak kita.

Bagikan
Post a Comment