Menyekolahkan Anak Terlalu Dini, Apa sih Dampaknya ?
Menurut Dinas Kesehatan, pada usia 0-5 tahun otak anak berkembang cepat hingga 80%, sehingga anak-anak ini akan menyerap berbagai informasi dengan baik. Pada usia ini fisik, mental dan spiritual anak juga mulai terbentuk; karena pada rentang usia ini anak kerap disebut dengan masa-masa emas atau biasa juga disebut dengan the golden age.
Sebagai orang tua tentunya para ayah dan ibu ingin memberikan yang terbaik untuk si buah hati, yakni salah satunya dengan memberikan pendidikan formal (sekolah). Tapi apakah ayah dan ibu sudah tahu berapa usia ideal anak untuk bersekolah? Dan apakah kalian sudah tahu pendidikan apa yang ingin kalian berikan kepada buah hati?
Menurut Bunda Elly Risman yakni salah satu psikolog di Indonesia, beliau mengatakan penyebab orang tua menyekolahkan anaknya terlalu dini yakni kurang ilmu; tidak memiliki prinsip; dan hanya ikut ikutan orang lain atau mengikuti trend saja.
Namun ternyata yang sebenarnya anak perlukan pada usia awal adalah kedekatannya dengan orang tua. Dan permainan yang paling ampuh untuk meningkatkan motorik si anak yakni permainan dari gerak tubuh ayah ibunya. Contohnya seperti bermain cilukba, atau memberikan ekspresi yang lucu saat bercerita kepada anak.
Jika anak sudah mulai mengerti dan beranjak besar, berikan permainan sederhana dengan cara membuatnya sendiri dengan melibatkan anak di dalam pembuatan mainan tersebut. Hal ini untuk melatih keaktifan anak, kreativitas dan merekatkan kedekatan anak dengan orang tuannya. Seperti bermain telepon kaleng, bermain menginjak benda tanpa menyentuh lantai, memakaikan sarung di punggung anak supaya mirip superman, dll.
***
Lalu, berapa usia yang ideal bagi anak untuk bersekolah? Yakni pada saat pusat-pusat otaknya mulai menyambung, sekitar umur 7 tahun. Jika ayah dan ibu ingin memulai pendidikan dari PAUD atau TK maka anak dapat ayah ibu sekolahkan pada umur 4-5 tahun.
Mengapa sih ayah dan ibu harus mengetahui usia ideal menyekolahkan anak? Apa dampaknya untuk anak?
Ya, terdapat banyak sekali dampak negatif yang akan diperoleh jika menyekolahkan anak terlalu dini, yakni:
Pertama menurut Neil Potsmen (1970) pada bukunya mengatakan anak–anak akan kehilangan dunia masa kecil. Mereka merasa dunia bermainnya berkurang dan seakan dunia main tersebut dicabut oleh kedua orang tuannya; sehingga saat si anak dewasa akan tetap bersikap seperti anak-anak.
Yang kedua yakni dari teori tapal kuda, jika seorang anak disekolahkan terlalu muda maka ia akan merasa bosan yang tak menentu di jenjang pendidikan. Dan para guru akan kesulitan untuk menemukan di mana letak titik bosan anak.
Yang ketiga yakni kreatifitas, daya kembang dan cara mengekspresikan anak terhadap suatu hal akan terbatas. Loh, kok bisa sih disekolahkan terlalu dini malah membuat daya kembang anak terbatas? Kan di sekolah pasti para guru mengajarkan hal hal yang baik untuk meningkatkan daya kembang dan kreatifitas anak? Pasti terdapat pertanyaan seperti ini di kepala para orangtua.
Jawabannya, karena di sekolah hal hal yang diajarkan kepada anak sudah dibuat strukturnya dengan baik seperti menata sepatu, belajar menata buku dll. Jadi anak tersebut harus patuh dengan perkataan dan peraturan tersebut. Sehingga mereka tidak bisa mengekspresikan keinginan mereka dengan maksimal sesuai keinginannya sendiri. Akibatnya anak tersebut tidak akan memiliki prinsip di hidupnya dan akan mengikuti ajakan teman atau trend yang sedang booming saja.
***
Sebelum bersekolah, sebaiknya motorik kasar anak harus dimatangkan terlebih dahulu dan jika motorik kasarnya sudah bagus maka perlahan kita sebagai orangtua mengajarinya untuk mengenal motorik halusnya agar anak tersebut tidak kaget.
Namun, motorik kasar dan motorik halus tersebut berkaitan juga dengan perasaan, karena yang berkembang pertama kali di dalam tubuh anak itu adalah perasaannya. Oleh sebab itu, pada umur 0-8 tahun sebagai orangtua kita harus mengajari anak untuk mengenal dirinya; perasaannya sendiri; dan perasaan orang lain yang dekat di sekitarnya. Agar pada saat anak itu bertemu orang baru, ia dapat bersosialisasi dengan baik dan mengekspresikan dirinya di lingkungan yang baru sesuai dengan prinsip dan keinginannya sendiri tanpa mengikuti orang lain.
Jadi sebagai orang tua yang baik, ayah dan juga ibu harus mengerti usia yang ideal untuk membawa anak ke jenjang pendidikan (formal) pertamannya. Jangan sampai hanya mengikuti trend saja atau mengikuti tetangga lain untuk menyekolahkan anak sedini mungkin. Hal ini dilakukan agar nantinya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti dampak negatif yang terdapat pada penjelasan di atas.
Sebelum mengambil keputusan untuk menyekolahkan anak, ayah dan juga ibu bisa menanyakan atau berkonsultasi kepada psikolog; atau orang yang ahli di bidang ini terlebih dahulu; agar tidak salah mengambil keputusan untuk si buah hati tercinta.
Mahasiswa Semester 2 di UIN Sayyid Ali Rahmatullah, Tulungagung.
