Stigma Cantik di Tengah Masyarakat Dampak Beragam Produk Kecantikan (1)
Kapitalisme didefinisikan sebagai suatu organisasi komersial, dimana dua kelompok orang yang berbeda dihubungkan melalui pasar dan kerjasama secara tetap. Pemilik alat produksi mengendalikan dan menjadi subjek dalam ekonomi, dan orang yang tidak memiliki kekayaan menjadi objek dalam ekonomi. Istilah ini muncul pertama kali pada abad ke-12, yang mengandung arti dana, persediaan barang, sejumlah uang dan bunga uang pinjaman.
Pengertian terkait kapitalisme terus berkembang, pada abad ke 18 istilah ini diartikan sebagai modal produktif. Karena uang memang digunakan untuk menghasilkan barang-barang yang dijual untuk memperoleh keuntungan secara bebas (Winarni, 2013: 98-100).
Kapitalisme adalah sebuah sistem yang dewasa ini telah menguasai setiap sendi kehidupan, tidak hanya ekonomi. Sistem ini sudah mengakar dalam negeri dan telah menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan lagi.
Dalam sistem ini, pencarian keuntungan sangat diutamakan dan terkadang tidak mengindahkan ketentuan-ketentuan yang berlaku sehingga dominasi kelas sangat jelas. Ketimpangan antara kaum menengah ke bawah dan kaum borjuis begitu nampak. Yang kaya akan semakin kaya dan menimbun kekayaannya, sementara yang tidak berdaya secara ekonomi hanya akan menjadi objek.
Sebab pasar bebas, terkadang pemerintah pun tidak memiliki andil yang besar dalam mengendalikan sistem ini. Terkadang justru pemerintah bergandengan tangan dengan pemilik modal untuk meraup keuntungan tanpa mengindahkan hal-hal krusial seperti kerusakan alam yang di timbulkan.
Industri kecantikan seperti tak ingin ketinggalan untuk mengambil peran dalam pasar bebas ini. Di luar sana banyak sekali berseliweran produk-produk kecantikan (makeup dan skincare) yang menjanjikan banyak hal, seperti kulit putih bersih, bebas jerawat, mencegah kerutan, melindungi dari sinar UV, meremajakan kulit dan banyak lagi.
Selain itu hal ini juga didukung oleh iklan yang menampilkan wajah artis-artis hits tanah air bahkan luar negeri. Yang setelah memakai salah satu produk kulit mereka akan putih bersih, bebas jerawat dan noda hitam, dan cerah sepanjang hari. Penggambaran ideal tentang cantik yang seperti mereka mendorong masyarakat yang melihatnya menjadi ingin seperti yang digambarkan. Jadilah masyarakat yang diiming-imingi hal tersebut akan memborong semua produk kecantikan yang ada.
Padahal artis sebagai model iklan tersebut wajahnya sudah glowing dari sananya, jauh sebelum ia menjadi bintang iklan. Tidak tiba-tiba menjadi cantik setelah dalam hitungan menit memakai sebuah produk, bukankah hal tersebut sungguh luar biasa? Pengaruh iklan memang memberikan dampak yang sangat besar terhadap selera dan pikiran masyarakat.
Mungkin sudah fitrahnya, setiap manusia ingin tampil maksimal di mana saja ia berada. Sebab ada kepuasan tersendiri jika telah berhasil mempersembahkan yang terbaik. Baik itu dengan motif menyenangkan diri sendiri maupun agar membuat orang lain terkesan.
Hal tersebut berhasil memberikan angin segar pada industri kecantikan. Produk kecantikan yang bermunculan semakin beragam, mulai dari harga puluhan ribu yang ramah di kantong pelajar dan mahasiswa sampai harga ratusan ribu bahkan puluhan juta rupiah.
Produk yang digunakan juga tidak akan cukup jika hanya mengandalkan satu atau dua jenis. Sebab katanya hasil yang didapatkan tidak akan maksimal. Untuk makeup tidak cukup jika hanya bedak dan lipstik, harus ada maskara, eye shadow, eyeliner, fondation, dan masih banyak lagi. Itu hanya untuk rangkaian makeup. Beda lagi dengan skincare yang terdiri dari beragam jenis pula seperti masker, sabun wajah, serum, toner, moisturizer, dan beragam jenis lainnya yang penulis sendiri kurang paham fungsi dan kegunaan produk-produk tersebut.
Makeup dan skincare tentu berbeda fungsi dan manfaatnya, makeup dianggap sebagai produk instan yang dapat hilang ketika kita mencuci wajah namun berbeda dengan skincare yang merupakan infestasi jangka panjang untuk wajah. Penulis sendiri masih agak asing dengan rangkaian produk tersebut, namun tidak bisa di pungkiri iming-iming yang di tawarkan berhasil mempengaruhi pikiran dan tindakan manusia, terlebih perempuan.
Rangkaian produk kecantikan yang berseliweran memang kebanyakan diperuntukan untuk perempuan, sebab perempuan dianggap sangat mementingkan estetika dan lebih cepat terpengaruh oleh pasar.
Tak jarang banyak perempuan di luar sana rela menghabiskan uangnya hanya untuk membeli rangkaian produk yang banyak dan beragam tersebut. Tak jarang pula penulis mendapati, pembelian make up dan skincare lebih penting dibanding buku-buku yang menambah pengetahuan, bahkan lebih penting di banding membeli makanan. Banyak orang yang rela makan apa adanya, yang penting make up dan skincare aman terkendali. Di sini, sifat materialisme dan konsumerisme perempuan sangat terlihat jelas.
