f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
murakami menulis

Mengadaptasi Kedisiplinan Haruki Murakami dalam Menulis

Saya memang suka melakukan kardio, khususnya lari dan jogging. Namun, aktivitas itu saya lakukan dengan durasi yang sangat jarang. Ini saya lakukan biasanya saat pinggang sudah mulai terasa engga enak karena terlalu banyak duduk untuk membaca dan menulis. Saat situasi pinggang sakit, itu tandanya saya harus kembali melakukan kardio. Padahal  aktivitas membaca dan menulis ini bagian dari pekerjaan saya.  Yang dalam banyak hal memaksa saya untuk sering begadang dengan melewatkan waktu tidur di atas jam 12.00 malam, khususnya saat tenggat waktu untuk menyelesaikan tulisan, baik untuk konferensi dan membikin laporan hasil dari turun lapangan. Harus diakui, hal itu bukan hanya tidak sehat, melainkan bisa merusak badan saya sendiri. Sementara bagi seorang peneliti dan ataupun profesi yang terkait dengan dunia menulis, investasi terbesar jangka panjang itu tubuh adalah tubuhnya sendiri.

Menjaga kesehatan tubuh dan praktik dunia kepenulisan tampak merupakan dua hal yang terpisah. Ini setidaknya yang seringkali saya ikuti dalam pelatihan dunia kepenulisan. Bagi dunia kepenulisan, mengolah ide menjadi gagasan yang tajam, reflektif, dan artikulatif dalam tulisan merupakan perkara utama yang dibahas. Sementara itu kondisi tubuh yang sehat seolah-olah sesuatu yang terberi begitu saja. Karena itu, proporsi cara menuangkan ide, membangun imajinasi, menguatkan argumen, dan mengungkapkan data memiliki ruang yang lebih besar.

Padahal dua hal itu sesuatu yang terkait erat. Ini karena, aktivitas menulis beriringan kuat dengan stamina badan. Semakin orang bisa menjaga stamina tubuhnya untuk tetap bugar, semakin ia bisa memproduksi tulisan dan nafas kepenulisan dengan panjang. Kesimpulan ini saya dapatkan karena saya pernah dalam fase menulis terlalu banyak tetapi tidak menjaga kondisi badan. Memang, ada banyak tulisan yang saya hasilkan, tapi itu berdampak terhadap kesehatan saya, membuat saya ngedrop.

Saat situasi yang ngedrop ini membuat saya berpikir lebih jauh, “apakah benar dunia akademisi ini merupakan pilihan saya sesungguhnya?”. Karena tidak pernah bercita-cita menjadi akademisi yang meriset dan menulis, seperti salat lima waktu, saya selalu memperbaiki niat sesering mungkin sambil terus mempertanyakan dan kemudian meyakinkan bahwasanya dunia akademik merupakan jalan pilihan hidup saya. Untuk meyakini itu, saya biasanya melakukan proses pencarian terkait dengan tips menulis dari para pesohor yang memang memiliki kemampuan keren di bidangnya.

Baca Juga  Yang Harus Dirawat Jika Pandemi Telah Lewat

Saat pencarian di Youtube, saya menemukan nama Haruki Murakami. Saya tahu Murakami adalah seorang novelis,  meskipun demikian, saya belum pernah membaca satupun karya-karyanya. Namun, ada seorang Youtuber yang membahas bagaimana aktivitas kepenulisan Murakami dan proses kedisiplinannya untuk menjaga badan tetap sehat. Melalui rekomendasi itu, saya membaca buku Haruki Murakami yang berjudul What I talk About When I talk About Running (2007) tersebut. Saya membutuhkan waktu setengah hari untuk membaca buku tersebut. Buku ini sebenarnya refleksi dunia kepenulisan Murakami dan bagaimana ia berusaha bertahan dalam dunia kepenulisan sebagai seorang novelis. Setelah mencatat perihal penting selama setengah hari, kesimpulan saya cuma satu. Ide Murakmi ini keren sekali, saya harus mempraktikkannya.

Secara garis besar, Murakami menjelaskan bahwasanya aktivitas kepenulisan itu berkaitan dengan bahasa. Bahasa berurusan dengan toksik, yang jika diabaikan bisa merusak badan. Dengan kata lain, memproduksi tulisan itu berurusan dengan pikiran. Sementara pikiran itu menautkan banyak hal, termasuk emosi dan pergolakan pemikiran. Karena aktivitas toksik ini terjerembab dengan rokok, begadang, alkohol, kopi, dan pola makan yang buruk, banyak dari penulis terjerembat dalam persoalan tersebut.

Murakami menyadari ini saat ia melihat tangannya mulai menguning di mana ia menghabiskan 6 slot rokok setiap harinya. Jika itu gaya hidup yang toksik itu tetap dipertahankan, maka karir kepenulisannya tidak akan bertahan lama. Mulai saat itu ia mengubah pola hidupnya kalau ingin bertahan dalam dunia kepenulisannya dengan cara melawan toksik tersebut dengan imunitas tubuh yang bagus. Hal yang paling murah melakukan olahraga adalah dengan berlari. Murakami lalu melakukan itu setiap hari dengan memberikan jeda waktu satu hari tubuhnya beristirahat. Dengan cara ini ia melakukan disiplin dalam lain dalam pola makan dan tidur. Seperti atlit, ia mulai memakan makanan yang bergizi dan disiplin untuk tidur mulai jam 9 malam. Sementara itu, aktivitas menulisnya dilakukan dalam rentang waktu jam 4-9 pagi. Rutinitas itu yang terus ditekuni hingga sekarang.

Baca Juga  Serupa Bilik yang Rapuh di Beberapa Bagiannya

Saya mencoba menerapkan apa yang Murakami lakukan. Nasib, ternyata saya hanya bertahan 3 hari. Apa yang dilakukan Murakami itu ternyata memiliki kedisiplinan yang gila. “Mana mungkin saya bisa tidur jam 9 malam, sementara itu momen terbaik untuk nonton netflix ataupun ngobrol dengan teman atau keluarga?”, batin saya memaki. Akhirnya, saya mengadaptasi gaya Murakami sebisa yang saya lakukan. Saya berlari setiap hari dan memberikan satu hari jeda untuk tubuh beristirahat. Selain itu, saya menghentikan asupan gula dan karbohidrat semaksimal yang saya bisa. Seminggu pertama saya melakukan itu. Hasilnya? badan saya remuk redam. Namun, karena saya memaksakan diri untuk tetap melakukannya dalam sebulan ini mulai terbiasa.

Resiko dalam menjalankan ini adalah saya jadi sering menginvestasikan waktu untuk kesehatan badan. Selain itu, jadi lebih boros, karena saya harus mengalokasikan uang untuk membeli lebih banyak buah dan sayur. Lebih jauh,  hal ini berdampak terhadap intensitas kerja menulis dan membaca saya yang turun drastis. Bahkan, saya cenderung menjadi pemalas. Setelah olahraga, saya biasa rebahan berjam-jam dan bermalas-malasan. Saat tubuh mulai pulih dari rasa capek, tiba-tiba waktu sudah menjelang sore.

Di sini, saya merasa tidak melakukan aktivitas apa-apa kecuali berolahraga. Namun, saya percaya, ini soal penyesuaian. Pelan-pelan dalam sebulan ini saya mulai menemukan ritme terbaik untuk melakukan dua aktivitas itu; berlari dan menulis. Kini badan saya jauh lebih ringan. Saya bisa bertahan duduk dan berhadapan di depan laptop selama seharian dengan stamina badan yang jauh lebih baik. Di sisi lain, emosi dan konflik batin yang menguras energi dalam aktivitas menulis mulai relatif bisa saya kendalikan. Ya, olah raga membangun kondisi senang dalam perasaan kita.

Baca Juga  Menulis Sebagai Self Healing Therapy

Saya tidak tahu, sampai kapan kebiasaan ini bisa saya pertahankan. Namun, selagi saya mau bertahan dalam dunia akademis yang penuh toksik, melakukan aktivitas kardio menjadi hal utama yang harus saya lakukan. Jika tidak, racun pikiran dalam pengetahuan akademis akan melumat badan saya pelan-pelan tapi pasti. Memang, tidak semua orang bisa melakukan ini. Apalagi dalam struktur sosial masyarakat Indonesia yang tidak mendukung. Di tengah miskinnya infrastruktur bagi pejalan kaki, kita tidak pernah tidak pernah mendapatkan wilayah yang aman dan terhormat di pinggir jalan itu. Ini karena mesin pembunuh otomotif yang mudah didapatkan sedang mengintai dan mengancam setiap hari di jalan. Jika kita tertabrak karena berjalan kaki di area pinggir pejalan kaki, itu justru kita yang kerapkali disalahkan.

Di sisi lain, kesibukan sebagai orang dewasa kerapkali membuat kita memiliki prioritas mana yang terpenting untuk dilakukan, berakibat pergerakan badan menjadi lebih sedikit ketimbang pikiran. Sementara itu kita sangat sulit menghindari dunia karbo dan gula serta apapun makanan yang digoreng. Namun, jika tidak meluangkan waktu untuk bergerak agar badan berkeringat, kita sedang menunggu tubuh yang siap-siap rusak seiring dengan bertambahnya umur.

Jika tidak menjaga asupan makan, kita hanya tinggal menunggu betapa beratnya berjalan di jalan terjal dan kemudian ngos-ngosan. Ironisnya, di tengah sedikitnya pergerakan dan menjaga pola asupan makan, teknologi internet dan kecanggihan filter aplikasi media sosial bisa mengkompensasi kita akan banyak hal; terlihat kurus dan keren. Sementara realita hidup membuat kita sebenarnya tidak baik-baik saja. Hal semacam ini yang kerapkali membuat motivasi kita untuk olahraga menjadi turun drastis.

Bagikan
Comments
  • Anis Fuadah Z.

    Terima kasih tulisannya, Mas. Keren.

    Juni 9, 2022
  • Melinda Busra

    wihh,keren nih tulisan nya,, sukses mas

    Juni 10, 2022
  • Bisa ditiru, nih. Apalagi bagi penuis yang malas olah raga. Terima kasih.

    Juli 4, 2022
Post a Comment