Kumpul-Tidak Kumpul yang Penting Bermanfaat
Belanja, membungkus bingkisan, masak besar adalah beberapa kegiatan khas Ramadan di keluargaku. Semua dilakukan marathon dari awal Ramadan sampai lebaran. Bisa dikatakan tidak ada waktu gabut saat Ramadan karena masih ada bingkisan yang harus dibungkus. Sayangnya, sudah dua tahun aku tidak merasakan asiknya menimbang gula, membagi bingkisan ke saudara dan keluarga, serta belanja barang-barang lebaran. Hal tersebut menimbulkan kenangan sendiri di kepala.
Ibuku (aku yakin juga ibu-ibu yang lain) pasti sedih, minimal cemberut kalau anaknya tidak pulang saat lebaran.
“Ya gimana lagi bu, kondisinya kayak gini. Belum boleh mudik,” kataku pada ibu.
“Wah ya gimana le, kamu kerja jauh. Mbok ya yang deket aja biar gampang kumpul di sini,” jawab ibuku.
Hmmm… Andai saja setiap kota memiliki semua jenis industri di dalamnya, tidak ada yang namanya merantau dan bepergian. Semua berkumpul di kotanya masing-masing.
*
Sebagai orang Jawa keluarga besarku memegang ungkapan ‘Mangan ora mangan sing penting kumpul‘ atau “Makan tidak makan yang penting kumpul”. Aku nggak mau kualat dengan mengatakan bahwa ungkapan tersebut kuno atau ketinggalan zaman. Tapi untuk kondisi saat ini mungkin sudah tidak relevan lagi. Pertama, “ora mangan” atau tidak bisa jadi mati. Kedua, sedang pageblug covid, dilarang berkumpul.
Aku rasa ungkapan ‘Mangan ora mangan sing penting kumpul‘ menjadi dasar bahwa mudik menjadi tradisi yang “wajib” dilakukan. Makan menjadi tidak penting jika dibandingkan dengan kumpul. Atau kumpul bersama menjadi penting daripada makan bahkan kenyang & makmur. Kayak romantisme dua bocah yang lagi kasmaran “Mau gimanapun pokoknya sama kamu terus!”
Beberapa dekade yang lalu, mungkin masih bisa dimaklumi bahwa keluarga harus berdekatan satu sama lain. Mengingat Jawa hanyalah sebuah pulau, dengan infrastruktur dan teknologi transportasi yang belum seberapa bagus. Selain itu juga karena memiliki gunung api aktif yang banyak, maka tanahnya subur dan hampir di semua tempat. Tidak perlu jauh-jauh kalau mau menanam, pekarangan depan juga bisa. Kalau kata Koes-Plus dalam lagu Kolam Susu: “Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”
Keluar pulau bisa berarti hilang dan tercerai-berai. Minimnya informasi beberapa dekade yang lalu bisa menjadi momok yang menakutkan. Bagaimana kalau hilang, bagaimana kalau tidak ketemu, dan lain-lain. Sehingga daripada hilang dan tercerai berai, lebih baik berkumpul saja. Berkah alam dan minimnya informasi menjadikan masyarakat, terutama masyarakat jawa, memiliki ungkapan “Mangan ora mangan sing penting kumpul”
*
Saat ini dengan kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi, jarak bisa diakali. Jalan aspal sudah menyentuh halaman depan rumah. Sinyal ponsel sudah mencapai puncak gunung. Kumpul bisa dilakukan dengan banyak cara. Tidak terbatas pada jarak tempat tinggal yang berdekatan. Dunia sudah begitu maju sampai kita di Indonesia bisa melakukan selebrasi sesaat setelah Messi mencetak gol di jantung kota Barcelona, di Spanyol sana.
Teknologi informasi yang sudah berkembang pesat juga berperan dalam perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Dalam buku Indonesia 2020: The Urban, Middle Class, and Millenials, dijelaskan bahwa usia produktif saat ini adalah kaum millenial. Sedangkan millenialis memiliki karakter yang terbuka dengan perubahan dan kreatif. Hal tersebut turut menggerakan manusia millennials untuk selalu mobile dan tidak terpaku hanya pada satu tempat.
Ungkapan ‘Mangan ora mangan sing penting ngumpul’ menjadi tidak relevan lagi. Dunia berubah, begitu juga dengan manusia. Sesuatu yang sudah tidak relevan sejatinya ditinggalkan atau akan berubah dengan hal yang lain. Pun begitu dengan ungkapan di atas, karena sejatinya nilai manusia bisa bermacam-macam, tidak hanya berkutat pada kemakmuran, kekayaan, silaturahmi, tapi juga ada nilai kebermanfaatan untuk manusia yang lain.
Nilai kebermanfaatan inilah yang seharusnya menonjol di masa sulit seperti sekarang ini. Apa yang bisa dilakukan ya dilakukan saja. Sekecil-kecil peran, kalau niatnya baik dan dilakukan dengan baik dan benar maka akan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Kadang manfaat sesuatu tidak terasa sampai sesuatu tersebut hilang. Mesin yang kehilangan sebuah skrup bisa ambyar. Skrup tidak berperan, mesin menjadi tidak bermanfaat.
*
Selain itu, kebermanfaatan dan kebaikan individu itu tidak mengenal tempat. Orang Bali bisa bermanfaat di Lampung, orang Jawa bisa bermanfaat di Aceh, dan sebagainya. Sesuatu yang tidak mengenal tempat bersifat abadi dan universal, begitu pula peran yang dilakukan dengan baik dan benar akan menimbulkan manfaat yang baik.
Untuk itu, tanpa bermaksud menggugat ungkapan lama, mari ubah ungkapan dan utamanya mindset. Dari “mangan ora mangan sing penting kumpul” menjadi “kumpul-ora kumpul sing penting anggawe manfaat” atau “kumpul-tidak kumpul yang penting membuat manfaat”. Maksudku, daripada berlarut-larut meratapi kesedihan akibat tidak mudik, kenapa tidak membuat sesuatu yang bermanfaat di tanah rantau?
Petroleum-Database Engineer yang nyambi jadi peternak lele & patin.
