f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mencari

Mencari Kebenaran

” DICARI ! Jika menemukan, harap menghubungi nomor xxxx…”

Lamat-lamat kubaca tulisan yang terpampang di baliho besar di perempatan jalan raya ini. Berhubung traffic light sedang menyala merah, dan track record menyala merahnya hingga satu menit lebih, bisa kupandangi dengan seksama pengumuman tersebut. Ini sebenarnya bukan baliho pertama yang kulihat hari ini. Di belokan arah TB Simatupang, begitu pula di jalan Panjang dan Pondok Indah tadi, woro-woro yang sama juga tertera.

Aku membaca lagi keterangan yang tertulis di bawah tulisan besar ‘DICARI’ tadi. Ternyata ada hadiah bagi yang menemukan; 500 juta rupiah jika membawanya dalam keadaan mati, dan 2 milyar rupiah bagi yang bisa membawanya hidup-hidup! Luar biasa, besar sekali harganya ia.

Seketika aku teringat ibu yang sedang menunggu di rumah. Tumor payudaranya yang semakin membesar tiap hari, membutuhkan dana yang tidak sedikit agar penyakit itu bisa dioperasi. Jaminan Kesehatan yang kami punya tak mengcover semua biaya. Otomatis aku pontang panting untuk mencari sisanya, plus harus memenuhi kebutuhan perut kami setiap harinya.

Gajiku sebagai kurir pengantar barang sebenarnya sudah sangat mepet untuk mencukupi kebutuhan hidup kami. Bukan mencukupi sih, karena sejujurnya memang tak pernah cukup. Padahal asupan makan kami yang paling mewah hanyalah telur ayam. Bahkan di tanggal-tanggal tua di mana gajiku sudah sepenuhnya habis, aku harus berhutang untuk membeli beras dan selonjor tempe yang panjangnya 20 centi, yang harus kami berdua makan untuk durasi lima hari.

***

Untungnya ibu selalu mengajariku untuk bersyukur. Syukur masih bisa bernapas, syukur masih bisa merasakan makan nasi pakai lauk, dan masih bisa kerja halal. Karena ada beberapa tetangga kami yang lebih sengsara. Makannya hanya pakai nasi aking dengan lauk garam. Ada yang menderita penyakit menular seksual karena pernah bekerja di tempat prostitusi malam. Ah benar sekali petuah ibu. Syukur memang membuat kita selalu cukup. Tak merasa kurang bahkan mungkin akan terasa lebih. Inilah sesungguhnya lauk paling nikmat, yang bagi orang kaya sekalipun belum tentu dapat dimiliki.

Membaca pengumuman ini membuat hatiku melonjak seketika. Aku punya peluang untuk bisa membuat ibu sembuh. Penyakitnya yang kemarin-kemarin masih ragu untuk diangkat karena keterbatasan dana, kini telah mendapatkan solusinya. Aku hanya tinggal menemukan sosok itu. Aku harus mencarinya. Tak peduli dia ada dimana.

Sesampainya di rumah, kutengok ibu yang tengah berbaring. Beliau masih mengenakan mukena dengan tangan menekan area dada. Sepertinya ibu habis salat. Namun aktivitas itu mungkin terhenti karena di dadanya muncul kembali rasa perih. Melihat itu, bayangan hadiah 2 milyar seakan-akan melambai padaku.

Baca Juga  Ujian Tanda Cinta

Segera kubuka laptop dan menghubungkannya dengan jaringan internet. Aku akan mencari data sebanyak-banyaknya dulu. Karena tak mungkin aku bisa mencarinya, jika mengidentifikasi substansi dan membedakannya dengan yang lain saja aku tak bisa. Maka segera kuarahkan kursor dan mengetikkan nama di layar pencarian.

Aku sedang Mencari Kebenaran

Pencarianku di dunia maya selama seminggu tak membuahkan hasil. Memang ada beberapa percakapan tentang kebenaran yang terlintas di linimasa media sosial yang sempat aku buka; tapi itu berkaitan dengan sayembara itu saja. Tak ada informasi yang bisa membantuku mengendus keberadaannya. Aku hopeless. Tak tahu lagi harus mencari jejaknya dimana.

Kuputuskan untuk melupakan pencarian kebenaran tersebut dan memilih mendapatkan uang lewat jalan bekerja. Lagipula, mendapatkan uang 2 milyar tersebut seperti mimpi di siang bolong. Tidur siang saja aku tak pernah karena seminggu full terus bekerja. Boro-boro bermimpi. Beuh, menghayal memang sungguhlah mudah.

Maka kugiatkan bekerjaku. Hari istirahat yang selalu diberikan oleh kantorku, tak kuambil agar aku bisa mendapatkan honor lebih. Hilir mudik ke timur dan ke barat, meluncur dari utara ke selatan, berpeluh dengan ikhlas aku jalankan. Ini semua demi ibu.

Namun hari itu, paket yang kuantarkan ternyata beralamat di luar kota. Jaraknya sekitar tiga puluh kilometer dari kantor. Lumayan jauh. Kata pengawasku isinya harus diantarkan segera karena pemesan paket ingin segera menggunakannya. Tak butuh lama, segera kunaiki motorku dan menuju kesana.

Perjalananku ternyata cukup berliku. Rutenya tidak hanya melintasi jalan beraspal saja, namun juga jalan yang dipenuhi batu kerikil tajam disertai material yang tak jelas ukurannya. Aku berulang kali menahan napas dan hampir mengumpat. Kalau bukan karena embel-embel tambahan fee, tak akan kuteruskan perjalanan ini.

***

Setelah kembang kempis mengendalikan laju motorku, sampailah aku di gerbang desa yang menjadi alamat dari paket ini. Segera kucari nomor rumahnya dan menyerahkan paket tersebut ke pemiliknya. Mungkin karena kasihan melihat wajahku yang terpanggang matahari dan penuh debu, si pemilik paket memberikan aku tips seratus ribu. Lumayan juga.

Sebelum pulang, kusempatkan mampir ke warung kopi yang terletak di dekat gerbang desa ini. Aku perlu menyegarkan diri. Secangkir kopi pahit mungkin bisa membantuku termotivasi untuk melanjutkan perjalanan kembali. Maka kulangkahkan kakiku menuju ke warung kopi itu.

Lari dan lepaslah segala impian

Akan indahnya hari depan

Nikmatnya kedamaian yang kudambakan

Masih tetap impian

Lagu Menanti Kejujuran dari godbless terputar kencang dari warung kopi ini. Warung Pak Jamil, begitu namanya, dipenuhi dengan poster-poster yang mengingatkan tentang kebaikan dan beramal saleh. Sungguh unik. Tak hanya desainnya saja yang indah, teks kalimat yang tertera juga cukup menggugah.

Baca Juga  Lagu Tidur

Karena penasaran, aku bertanya ke pemiliknya tentang latar belakang dan tujuan dari pendirian warung kopi ini. Dan mengalunlah cerita dari mulut Pak Jamil, yang sekaligus menyalakan kembali harapanku untuk membuat ibu sembuh.

Ternyata Kebenaran yang aku cari-cari ada di desa ini! Kebenaran hidup dan berkembang baik di sini. Ia memberikan cahaya dan pertolongan bagi warga di daerah yang ia tempati. Ia mengajari pak Jamil si pemilik warung kopi untuk tidak menjual minuman keras. Ia mendidik ibu-ibu penjual sayur mayur dan daging di pasar untuk jujur dan tidak mengurangi timbangan. Ia membantu para pemuda begajulan yang sebelumnya tak tahu arah hingga menjadi tahu apa itu cita-cita. Serta banyak lagi testimoni lainnya berkaitan dengan kebaikan Kebenaran yang aku terima.

***

Aku menjadi ragu-ragu. Apakah akan kulaporkan keberadaan kebenaran ya? Ataukah kubiarkan saja dia hidup dengan baik di sini? Tapi jika kubiarkan, bagaimana nasib uang 2 milyar dan pengobatan ibu yang bisa dijalani dengan hadiah uang tersebut? Ah, bingung sekali aku. Namun mengingat banyaknya berkah yang dibagikan kebenaran di sini, kuurungkan niatku untuk melaporkannya dan kembali ke kantor dengan segera.

Seminggu berlalu semenjak aku menemukan kebenaran, sebenarnya sudah hilang sama sekali niatku untuk membawa hadiah uang. Biarlah kebenaran tetap di sana. Toh belum tentu ketika ia dibawa ke kota, kebermanfaatan yang sama akan tercipta juga. Bisa jadi ia malah akan dimusuhi. Bisa jadi cahaya yang hendak ia pancarkan akan ditafsirkan kebalikannya. Sehingga, biarkan saja ia tetap menebar hal baik di desa.

Tapi keadaan yang aku dapati di rumah sepulang kerja, merubah semua. Ibu tergeletak di lantai sambil memegang dadanya. Badannya gemetar menahan sakit. Omongannya yang kudengar sebagai suatu rintihan, membuyarkan pertahananku. Aku harus melaporkan keberadaan Kebenaran. Kalau perlu, aku sendiri yang membawanya dari desa menuju ke pembuat pengumuman yang mencari kebenaran. Tak butuh lama, kutelepon nomor xxxx yang sempat aku catat dari baliho, dan menyampaikan informasiku.

***

Aku janjian bertemu dengan Tuan A si pemilik nomor xxxx, di sebuah rumah yang terletak di pojokan kompleks ini. Suasananya sepi. Tak kelihatan ada lalu lalang orang maupun kendaraan melintas. Sebenarnya aku tadi meminta untuk bertemu di tempat yang lebih ramai. Namun Tuan A beralasan tak ingin adanya publikasi terkait ditemukannya kebenaran. Maka, ku-iya-kan saja permintaannya. Toh setelah ini, uang 2 milyar rupiah sudah bisa aku terima.

Baca Juga  Suatu Hari di Canberra

Setelah menunggu selama satu jam, sosok yang aku nanti tiba juga. Perawakannya sedang, wajahnya teduh, gesturnya mengayomi. Selama ini aku hanya bisa melihat orang ini di televisi. Ternyata melihat aslinya, ia jauh lebih tampan dan berwibawa. Tentu sosok ini juga baik hati. Karena ia yang selama ini sibuk mencari kebenaran sampai-sampai membuat sayembara untuk menemukannya.

Waktu kutanyai alasannya kenapa ingin menemukan Kebenaran, beliau menjawab jika Kebenaran adalah jawaban dari pertanyaannya selama ini. Kebenaran juga jawaban yang dibutuhkan setiap orang Mas, begitu tambahnya. Iya juga sih, dalam melakukan sesuatu, kita pasti membutuhkan kebenaran. Pijakan kita adalah kebenaran. Jika Kebenaran tak ada, kita pasti melakukan hal-hal yang salah. Jika kita meneruskan hal-hal yang salah, tentu bencana dan tidak bahagia adalah hasil yang akan kita terima. Dan Tuan A ingin kebenaran selalu nyata, menjauhkan bencana dan memberi bahagia bagi seluruh masyarakat yang ada.

Kuserahkan kebenaran yang tengah dorman kepadanya. Kusampaikan jika aku memiliki harapan agar kebenaran semakin besar dan bisa memberi cahaya bagi warga kota. Tuan A lantas memberikan uang 2 milyar sesuai janjinya. Aku tersenyum lebar, tak henti mengucapkan terima kasih sembari pamit untuk pulang ke rumah.

***

Baru beberapa langkah aku keluar dari pintu ruangan setelah serah terima kebenaran dan uang tadi, kakiku terhenti. Aku mendengar suara tembakan dari dalam. Disusul suara tawa keras dan teriakan. Ia berteriak jika Kebenaran harus mati, kebenaran tak boleh bersuara lagi, serta rutukan lain yang membuatku bergidik ngeri. Astaga, apa yang aku lakukan? Apakah aku telah keliru dengan menyerahkan kebenaran? Apakah aku telah turut membungkam dan membunuh kebenaran? Aku tak niat begitu. Sungguh, itu sama sekali bukan mauku.

Tiba-tiba kurasakan hantaman keras di belakang kepalaku. Seketika aku terjerembab dengan kepala membentur tanah terlebih dahulu. Dan detik-detik sebelum mataku menutup dengan sempurna karena rasa sakit yang tak terkira, terlintas bayangan Kebenaran dan ibu di rumah. Entah mengapa, lagu godbless yang kudengarkan di warung Pak Jamil dua minggu yang lalu tiba-tiba turut menggema di telinga.

Tak pernah ku mengerti

Arti kedamaian

Yang pernah kau janjikan

Bagikan
Post a Comment