f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
saya di

Saya Diduplikasi Oleh“nya” (bagian akhir)

Teror yang dialami oleh beberapa kawan yang–sialnya–dialamatkan kepada saya pun berlanjut. Sekira dua pekan setelah kejadian di jemuran itu, saya mendengar kesaksian Azmi yang mengalami kejadian yang benar-benar tak bisa dinalar.

Dalam penuturannya, kisah ganjil itu bermula saat ia, Rudi, dan Adit kembali dari masjid menuju asrama pada pukul 23.45 WIB. Malam itu sebagian besar santri telah kembali ke asramanya masing-masing untuk tidur.

Di tengah perjalanan menuju asrama yang jaraknya sekira 15 meter itu, dari kejauhan, mereka bertiga mendapati saya sedang duduk-duduk santai di teras rumah Ustaz Farhan (salah satu pengasuh santri). Saat mendapati saya sedang duduk, awalnya mereka bertiga tidak menaruh curiga pada saya, Azmi bilang hanya merasa tumben, sebab saya belum tidur.

…

Saat berpapasan dengan saya, Azmi bertanya, “Zi, sudah malam tumben belum tidur, nggak kembali ke asrama, tah?” tanya Azmi. Saya hanya tersenyum, menatapnya tanpa sepatah kata pun, lalu menggelengkan kepala.

“Yasudah duluan ya,” katanya diikuti dengan Rudi dan Adit. Lagi-lagi tanpa sepatah kata pun, saya menatap mereka lalu menganggukkan kepala. Saat menaiki tangga menuju kamar, Rudi dan Adit merasakan ada yang aneh, tapi mereka tak berpikir berlebihan, sebab saya memang suka menyendiri.

Saat mereka sudah memasuki kamar dengan satu lampu yang masih menyala, di sana mereka kaget bukan kepalang. Tepat 3-5 langkah saat masuk kamar, mereka mendapati saya sedang tidur pulas tepat di depan lemari. Saat itu juga, mereka reflek menuju teras untuk mengecek saya yang mereka temui di teras rumah Ustaz. Dan benar saja, “saya” yang di teras itu sudah raib entah kemana. Mereka saling tatap, menyisakan tanda tanya besar.

“Jadi tadi itu siapa sebenarnya?” tanya Azmi kepada dua kawannya. Dan sampai saat ini, pengalaman itu masih menjadi misteri.

***

Kali lain, Rei–kawan sekamar saya yang lain–menceritakan perihal pengalaman ganjil yang pernah ia alami via voice note WhatsApp pada Senin (7/9/20) pukul 19.32 WIB. Pengalaman yang dituturkan oleh Rei ini terjadi pada tahun 2011 saat kami masih menginjak kelas 1 SLTA.

Baca Juga  (H)Ati Yang Runtuh

Saat senja menjelang maghrib (baca: sorop) seluruh santri diharuskan sudah berada di masjid untuk mengaji bersama. Dengan begitu, seluruh asrama harus benar-benar dalam keadaan kosong kecuali yang bertugas jaga sore. Usai seluruh santri meninggalkan asrama, kami pun membagi wilayah kebersihan. Rei membersihkan asrama bagian depan, sedangkan saya di bagian belakang asrama.

“Sore itu tidak seperti jaga sore seperti biasanya, feeling-ku tidak enak. Aku merasa bulu kudukku merinding semua,” katanya.

Setelah Rei memeriksa seluruh kamar untuk memastikan seluruh santri sudah berangkat ke masjid. Ia lantas ke belakang asrama. Di sana, ia mendapati saya sedang duduk sendirian di pagar sembari menghadap sawah. Dari jarak yang lumayan jauh, Rei mencoba untuk mengobrol dengan saya. Namun, dari percakapan itu, saya hanya manggut-manggut dan geleng-geleng. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut saya.

“Zi, kamu sapu teras belakang dan aku teras depan, ya,” katanya tanpa ada kecurigaan sedikit pun terhadap saya, saya hanya menganggukkan kepala. Setelah pembagian kerja itu, kami pun bekerja sesuai kesepakatan.

…

Usai menyapu teras depan asrama, Rei kembali ke teras belakang.

Namun tak dinyana, di sana ia tak lagi mendapati saya. Saya lagi-lagi raib begitu saja. Ia kebingungan dan semakin ketakutan. Ia lantas kembali ke teras depan, dan mak tratap! Dari atas asrama tempat ia berdiri, Rei melihat saya berjalan dari kamar mandi menuju asrama dengan membawa ember dan handuk. Ia kaget dan heran bukan kepalang, “Lha! bukannya tadi di belakang? Kenapa sekarang muncul dari kamar mandi?” pikirnya heran.

Setelah saya (yang asli) di asrama, Rei pun bertanya, “Habis dari mana kamu?” tanyanya dengan wajah bingung.

Baca Juga  Sari

“Aku dari kamar mandi, cuci baju,” yang kesekian kalinya Rei terkejut. “Lha, kok malah cuci baju? Terus yang di belakang tadi itu siapa?” batinnya.

Logikanya, jika ingin mengambil ember dan ke kamar mandi, saya–dan santri pada umumya–musti lewat teras depan dulu, ke kamar untuk mengambil ember, barulah ke kamar mandi. Sedangkan Rei menyapu teras depan, otomatis ia tahu kalau saya ke kamar mandi. Namun kala itu, tetiba saja saya muncul dari kamar mandi tanpa terlebih dulu mengambil peralatan mandi macam ember, gayung, dsb di kamar. Kamar saya Al-Azhar I pun kondisinya tertutup rapat.

…

Malam harinya sekira pukul 23.00 saat seluruh santri sudah terlelap. Rei belum juga tidur dan masih bertanya-tanya, “Siapakah gerangan yang kuajak bicara sore tadi?” malam itu, tanda tanya besar atas kejadian ganjil itu masih mengelayuti pikirannya.

“Tapi aku mencoba untuk berpikiran positif,” katanya. Namun beberapa saat kemudian, di dalam kamar yang remang-remang karena cahaya lampu teras depan dan belakang masuk ke dalam kamar lewat kaca jendela. Di jendela teras belakang (letter L), Rei merasa ada yang mengintipnya. Ia pun gelisah dengan tatapan itu. Di situasi yang sudah sangat sunyi, Rei memberanikan diri untuk melihat langsung ke letter L. Namun sesampainya di sana, ia tak mendapati seorang pun.

“Aku sempat kepikiran kalau yang tak lihat itu bayi ijo, tapi selama aku mondok, aku nggak pernah sama sekali mendapati sosok itu. Kemungkinan besar bayi ijo itu hanya urban legend yang sudah mengakar kuat di pondok,” terangnya.

Ya, bayi ijo ini memang menjadi urban legend pondok kami. Mitosnya, sosok satu ini suka menempati lemari santri yang terlampau jorok sehingga ia nyaman berada di sana. Namun entahlah. Selama mondok pun saya tak pernah mendapati sosok yang masih satu famili dengan kolor ijo itu.

Baca Juga  Kisah Para Pria Bersarung (1)
…

Bukan hanya itu saja. Di pondok kami pun terdapat tiga anak kecil yang menggenakan jubah hitam yang suka bermain-main di masjid. Menurut kesaksian salah satu santri saat ia tidur di masjid, tepat pukul satu dini hari, ia terbangun dan tak sengaja melihat ketiga anak kecil itu berlarian di lantai dua masjid.

Mendapati hal itu, ia pun langsung lari tunggang-langgang menuju asrama tanpa menggenakan sandal. Yang membuat ia shock adalah ketiga anak ini tak memiliki wajah. Datar begitu saja. Sialnya, saat malam hari ketika saya dan kawan-kawan yang lain sudah tidur di masjid, tetiba saya terbangun oleh karena langkah kaki yang sedang berkejaran. Gaduh sekali. Namun, saya tak mendapati ada orang yang berlarian di dalam masjid. Sunyi sekali malam itu.

Saat masih tidur, saya merasa ada yang melangkahi kepala saya, tapi siapa? Beberapa hari kemudian, saya pun mendapatkan jawabannya. Dan ya, mereka bertigalah pelakunya.

***

Arkian, dari rentetan kejadian ganjil yang pernah saya alami, yang bergesekan secara langsung ataupun tidak. Saya semakin percaya bahwa “mereka” memiliki seribu cara untuk menjerumuskan manusia kedalam jurang kesesatan.

Salah satu caranya yakni dengan menyamar sebagai sosok suci atau bahkan para leluhur dengan petuah-petuah bijaknya yang membuat siapa saja–terutama yang lemah imannya–akan terpukau, lalu secara perlahan kita ditarik menuju jurang kesesatan.

Karena hidup “mereka” jauh lebih lama dibanding manusia, tentu saja mereka paham betul kelemahan-kelemahan manusia. Karenanya, selalu berlindung kepada Tuhan, menunaikan ibadah yang membikin iman kita kokoh, dan tetap saling menghormati sesama makhluk-Nya adalah tiga dari sekian banyak cara agar kita terhindar dari bujuk rayunya dan selalu berada dalam lindugan-Nya.

Bagikan
Post a Comment