f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bahasa idonesia

Mengkhayal

Oleh: Affan Safani Adham*

Setelah lama menganggur karena terdampak pandemi Covid-19, beberapa hari terakhir ini David terlihat berseragam sopir taksi.

“Bapak narik taksi ya? Jadi sopir taksi pasti pekerjaan yang menantang.” Kata Lia, anaknya.

“Bukan sopir, tapi pengemudi,” ralat David.

Ia kemudian menjelaskan kebijakan perusahaan taksi tempatnya bekerja.

“Sebutan pengemudi terdengar lebih terhormat. Jangan sekali-sekali memanggil sopir. Ingat, jangan panggil sopir, tapi pengemudi.” Tukasnya.

Sopir atau pengemudi, tidaklah penting. Yang penting Lia senang melihat bapaknya memiliki pekerjaan lagi setelah tiga bulan ia hanya duduk termenung di rumah saja.

Sebelumnya, David menutup warung nasi yang telah dirintis enam tahun terakhir. Gara-garanya, awal tahun lalu anak bungsunya meninggal di sebuah rumah sakit. Surat kabar dan televisi memberitakan kematiannya dengan judul: “IW, anak pemilik warung nasi meninggal karena virus Korona”. Sub judulnya: kasus kedua puluh tujuh di negeri ini, kasus pertama di kota ini.

Yang tidak disadari para wartawan yang bersemangat meliput peristiwa itu, bahwa yang mati bukan hanya anaknya. Tapi juga penghasilan utama keluarganya. Yang dikubur di keesokan harinya bukan hanya jasad anaknya yang malang itu, tapi juga harapan dua anaknya yang lain. Untuk melanjutkan ke sekolah kejuruan tata boga dan Akademi Bahasa Asing. Juga harapan David sekeluarga.

Setelah kejadian itu, David murung. David pun menangis. Warga kampung dan kedua anaknya tidak bisa banyak membantu. Ibunya, wanita tuna rungu yang sabar dan diam, hanya bisa ikut menangis sambil mengeluarkan suara mirip lolongan. Dan lolongan ibunya itu pertanda kesedihan yang lebih dalam dari sekadar tangis.

“Sedih yang paling sedih,” kata Nurhayati, anak sulung David.

***

“WARUNG nasi harus ditutup. Untuk apa dibuka bila yang datang hanya wartawan bersama petugas Dinas Kesehatan yang mengendus-endus di setiap sudut warung. Dan, bukannya memesan nasi rawon atau nasi rames?” kata David.

Kepada anaknya yang sehari-hari membantu berjualan, David pernah mengatakan setidaknya mereka harus menjual 50 piring nasi rawon, nasi ayam, atau nasi rames. “Kalau terjual semuanya baru bisa balik modal,” kata David yang harus menjual 100 piring nasi mulai pagi hingga malam untuk bisa bernapas lega menghitung untung.

Ketika David menutup warung nasi itu, bukan hanya tenda kusam bertuliskan: “Warung Nasi Dunia. Sedia Nasi Ayam, Nasi Rames, Nasi Rawon” yang harus rela menjuntai lesu, diturunkan dari dua tiang penyangga di depan warung. Yang juga ikut menjuntai adalah harapannya sekeluarga. Harapan yang luruh ke tanah.

Baca Juga  Ayah Pahlawanku

Untunglah, kesuraman itu pada gilirannya berhasil terusir oleh semangat baru yang dimiliki David. Beberapa hari terakhir ini, David yang berseragam pengemudi taksi memberikan harapan baru di rumahnya. Kesegaran semangat yang ditunjukkan di balik seragamnya itu, sama persis dengan kesegarannya sehabis mandi dan keramas di pagi hari. Kesegaran sabun mandi murahan beraroma jeruk yang meruap dari tubuhnya memenuhi hampir seluruh bagian rumah. Kesegaran yang membuat seisi rumah bergembira.

Ibunya pun tidak lagi menangis dengan suara lolongan aneh. Ibunya berkali-kali menganggukkan kepala dan menaikkan jempol tinggi-tinggi: bahasa diam yang melukiskan kegembiraannya. Ibunya juga memuji penampilan David, anaknya.

***

DAVID sudah bersikeras melupakan episode kematian anaknya yang diberitakan terpapar Covid-19. Kadang, David masih bersedih bila lewat di depan warung nasi yang tendanya kini menjuntai ke tanah. Tapi kesedihan itu tidak lagi mematahkan David dan telah terkalahkan oleh semangatnya yang baru. 

Kehidupan keluarga David mulai kembali berjalan seperti sebelum tragedi kematian anaknya dan penutupan warung. Kedua anaknya yang lain, yang terpaksa menunda rencana sekolah, tidak keberatan menunggu tahun depan untuk mendaftar ke sekolah impian mereka.

Rumah David bersinar lagi. Keluarganya pun  bergembira lagi. Di rumahnya itu David sering duduk di jendela. Untuk menghalau cuaca panas, David selalu membuka jendela dan duduk di atas bingkai jendela itu sambil menatap langit. David pun mengkhayal sambil mengusir cuaca panas. Kadang dengan koran bekas yang dilipat dua dan yang dijadikan kipas.

“Izinkan aku mengkhayal, ya Tuhan!”

David mengkhayalkan anak perempuannya dipinang seorang laki-laki kaya. Entah bagaimana caranya, anaknya yang dulu hanya tenggelam di dapur warung nasi, pada akhirnya bertemu seorang pemuda yang tidak terlalu tampan, tapi kaya-raya dan baik hati.

Entah bagaimana caranya si pemuda itu mampir di warung nasinya dan memesan seporsi nasi ayam. “Tentu, kejadian ini harus muncul sebelum kematian anakku yang diduga terinfeksi Covid-19,” batin David.

Lalu, entah bagaimana caranya, anak perempuannya yang wajahnya selalu berminyak karena sepanjang hari menggoreng ayam dan menanak nasi di dapur warung, bertemu pandang dengan si pria yang baik itu. Dan simsalabim, mereka saling jatuh cinta, lalu menikah, dan memiliki anak-anak yang lucu.

Baca Juga  Si Jalak dan Si Kerbau

Anak perempuannya sangat baik hati. Sehingga di akhir pekan ia bersama suaminya yang tidak terlalu tampan tapi kaya itu, sering menjemputnya untuk diajak berbelanja ke mal. “Bapak tentu nyaman berada di tempat yang sangat luas, berhawa sejuk, wangi, penuh etalase kaca dan disesaki orang kaya,” kata anak David.

Suami anaknya tidak kalah baik hatinya, karena bersedia menyisihkan sebagian kekayaannya untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah kejuruan tata boga, dan yang satunya lagi dibiayai melanjutkan kuliah ke Akademi Bahasa Asing.

Nasib baik menghampiri keluarga David melalui suami anaknya itu. Ia membiayai renovasi rumahnya, menyiapkan tabungan haji untuknya, dan bahkan berjanji memberinya modal membuka restoran bila anaknya telah menyelesaikan sekolah tata boga.

Kalaupun setelah semua keajaiban ini terjadi, lantas keluarganya ditimpa musibah, dia pikir kehidupannya tidak terguncang hebat. Katakanlah, meninggalnya anaknya yang diberitakan surat kabar dan televisi sebagai korban wabah Covid-19 akhirnya membuat David terpaksa menutup warung nasinya. “Toh kami telah memiliki seorang menantu yang meski tidak terlalu tampan, tapi kaya raya dan baik hati? Kami sekeluarga tentunya akan merasa tenang dan aman,” batin David.

***

CUACA tidak lagi panas. David pun meninggalkan jendela dan menghentikan khayalannya. Saat beranjak meninggalkan jendela di ruang depan, David melihat ibunya duduk menyulam kain serbet makan. Rutinitas yang menjelma pemandangan pilu. David terpaku menyaksikan kesibukan ibunya membubuhkan inisial “WD” di salah satu ujung setiap serbet makan bercorak batik itu.

“WD” adalah singkatan Warung Dunia, warung yang telah menjadi sejarah dalam rumahnya. Ketika David membuka Warung Dunia, ibunyalah yang bertugas membubuhi inisial “WD” di setiap perlengkapan makan mulai dari sendok, garpu, piring dan kain serbet. Tapi sekarang, untuk apa ibunya melakukannya?

Ibunya menatap David, lalu tersenyum dan mengacungkan serbet yang baru selesai disulamnya. Dalam kebisuan, ia menggerakkan kedua telapak tangannya membentuk atap rumah, lalu menggerakkannya saling menjauh, menciptakan gerakan atap yang terbuka.

Anak David menerjemahkannya: “Kata nenek, nanti kalau Warung Dunia dibuka lagi, ia sudah punya persiapan kain serbet yang baru.”

Ibu David tampak begitu bersemangat. Ia juga tampak berbahagia. Ia menyulam khayalannya pada setiap inisial “WD” di ujung kain serbet itu. Adakah benaknya juga riuh dengan berbagai khayalan seperti khayalan David ketika duduk di jendela sembari membayangkan. “seandainya hidup berjalan dengan skenario yang sedikit lebih menggembirakan dan dengan nasib baik yang sedikit lebih berpihak?”

Baca Juga  Pilkada Serentak dan Bayang-bayang Kelam Demokrasi

David lalu menarik lengan anaknya. Mengajaknya ke sudut ruang makan. Kepada anaknya itu, David mengatakan kalau siang tadi mengkhayalkan dia menikah dengan seorang pria yang tidak begitu tampan, tapi kaya raya dan baik hati.

“O, ya? Aku justru mengkhayalkan bapak memiliki taksi banyak,” kata Nunung.

Anaknya yang satunya berkata, “Oooh… aku sih belum sempat mengkhayalkan apa-apa hari ini. Pikiranku kosong saja mengamati awan yang tak jelas menjelma seperti apa?”

Mereka bertiga tertawa dan merasa cukup berbahagia dengan khayalannya masing-masing. Meski dengan mimpi yang mereka ciptakan sendiri siang tadi, David berbahagia menyaksikan ibunya yang tidak lagi pilu, tapi bersemangat menyulam kain serbet. Ibunya menyulam harapan bahwa warung nasinya akan dibuka lagi, meski entah kapan?

***

HARI ini David dan kedua anaknya cukup berbahagia dengan khayalan masing-masing. Meskipun kenyataannya besok harus bangun pagi-pagi sekali menjajakan alat tulis, air kemasan, tissue dan permen, di depan stasiun kereta api dan dua sekolah di dekat rumahnya.

Tidak ada realitas tentang sopir taksi berseragam biru muda dengan wangi sabun mandi aroma jeruk. Yang ada hanyalah seorang laki-laki berkulit legam yang tengah sibuk mengatur susunan terpal, payung dan alat tulis di dalam kardus, dengan lelehan keringat di wajah dan lehernya.

Kepada anaknya David menjelaskan, besok pagi ribuan orang di kota ini akan mengikuti tes penerimaan CPNS. “Aku yakin bisa meraih rejeki. Cuaca akan sangat panas dan orang butuh payung, air minum dan tissue,” kata David.

Katanya lagi, diperkirakan kursi di sekolahan itu tidak akan cukup menampung peserta ujian, maka mereka pun akan menjajakan terpal plastik untuk alas duduk. Orang-orang pun butuh permen untuk mengusir rasa tegang saat mengerjakan soal ujian.

“Kita juga perlu menjajakan alat tulis, siapa tahu ada peserta ujian yang lupa membawa bolpoin,” kata David lagi.

Malam ini David dan kedua anaknya harus tidur lebih awal agar tidak kesiangan. Sebelum memejamkan mata, David pun berdoa semoga rejeki yang diharapkan di depan stasiun dan sekolahan itu benar-benar menjadi kenyataan.

Bagikan
Post a Comment