Lansia Produktif, Lansia Bahagia
Oleh : Anita Aisah
Pada tanggal 25 Mei 2020, tepatnya hari kedua idul fitri, ada seorang yang menyampaikan pesan di whatsapp group organisasi. Beliau berusia 73 tahun yang juga merupakan salah satu ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah. Beliau mengirim pesan berupa tautan youtube yang berisi kegiatannya saat menyampaikan khutbah Idul Fitri. Selain itu, beliau juga telah menjadi imam sholat tarawih full selama bulan Ramadan di rumahnya, di mana anggotanya semua perempuan. Saya dan teman-teman di whatapp grup sudah tidak heran aktivitas beliau di bulan ramadan dan idul fitri. Bagi kami beliau memang panutan yang luar biasa, selain memiliki kompetensi agama yang bagus, beliau juga melek teknologi.
Bertepatan dengan hari lansia, 29 Mei, ada seorang sahabat yang menceritakan aktivitas ibunya selama masa pandemi covid-19 di sebuah status sosial media. Seorang ibu yang diceritakan oleh sahabat saya, berusia 75 tahun. Selama masa karantina karena pandemi, ibu tersebut memiliki aktivitas membuat power point sebagai bahan saat mengisi pengajian secara online, aktif membaca dan membalas pesan di whatsapp, membaca buku serta memiliki kesenangan baru yaitu mencari informasi baru melalui google. Aktivitas membaca buku inilah yang paling digemari oleh ibu sahabat saya. Beliau meminta hadiah satu set ensiklopedi AlQuran di saat tanggal kelahirannya.
Berdasarkan dua cerita lansia yang saya paparkan di atas membuat saya teringat satu mata kuliah bernama Psikologi Faal. Melalui mata kuliah tersebut saya belajar tentang proses fisiologis yang mendasari suatu perilaku. saya mencoba menganalisis perilaku dua lansia produktif tersebut berdasarkan Psikologi Faal karena perilaku produktif pada dua lansia tersebut sangat menginpirasi bagi penulis dan semoga pada pembaca.
Manusia memiliki tugas perkembangan sesuai dengan usianya. Siklus perkembangan manusia dimulai dari anak-anak, remaja dan dewasa. Tahap perkembangan dewasa terbagi lagi menjadi dewasa awal, madya dan akhir. Fase dewasa akhir ini disebut juga sebagai lanjut usia atau lansia. cerita pertama adalah seorang ibu berusia 73, kedua berusia 75 tahun. Keduanya masuk pada fase pekembangan lansia, karena usianya di atas 60 tahun. Di usia lansia beberapa lansia mengalami kepikunan, namun ada sebagian lain yang daya ingatnya masih baik. Daya ingat terkait dengan cara kerja otak. Menurut Nelson (2005) melalui buku yang ditulisnya berjudul Mencegah Kepikunan, memaparkan bahwa sejak usia 50 tahun sebagian besar orang mengalami perubahan otak. Perubahan otak tersebut mempengaruhi ingatan dan fungsi kognitif lainnya. Nelson (2005), menjelaskaan secara fisiologis bagaimana perubahan otak pada lansia. Ada penurunan jumlah sinapsis atau titik temu antar neuron di dalam otak.
Penurunan jumlah sinapsis akan secara langsung menyebabkan pengurangan kerapatan sinapsis. Hal ini juga akan berdampak pada pengurangan derajat keterkaitan antarneuron. Dampak psikologisnya adalah penurunan kecepatan dan kapasitas pemrosesan informasi. Dari teori yang dipaparkan oleh Nelson memang demikian, jadi dimulai usia separuh baya (50 tahun), proses otak yang semakin menua mengganggu pemrosesan informasi yang efektif seperti kemampuan mengingat dan belajar sesuatu yang baru. Saya juga mempelajari penyakit-penyakit yang terkait penurunan sinapsis di otak meliputi penyakit alzheimer, stroke, demensia serta parkinson.
Berdasarkan analisis perkembangan otak yang dipaparkan oleh Nelson, manusia yang berusia lanjut memang mengalami penuaan otak berakibat pada fungsi ingatan yang menurun. Berdasarkan dua lansia di atas, sepertinya kita harus belajar mengala beliau berdua masih memiliki ingatan yang baik sehingga masih aktif melakukan aktivitas membaca, memilki komunikasi dua arah yang baik serta senang bersosialisasi.
Nelson memaparkan beberapa trik untuk merawat ingatan sampai usia lanjut. Individu yang memiliki semangat belajar pengetahuan baru merupakan salah satu trik merawat ingatan. Kedua lansia ini sangat gemar belajar hal yang baru melalui membaca dan browsing ilmu pengetahuan di web. Aktivitas membaca dapat memengaruhi proses kognitif pada individu. Membaca merupakan bentuk latihan otak yang sangat kuat. Berdasarkan penelitian tentang aktivitas membaca yang dikutip di web liputan 6 (bit.ly/2Bj6F4L) menguji ingatan dan kemampuan berfikir setiap tahun selama enam tahun pada 300 orang dewasa. Hasil penelitian tersebut memaparkan bahwa otak peserta yang sering mabaca terbukti membantu melindungi otak dari lesi otak, kerutan serta penurunan memori lebih dari 30%. Individu lansia yang paling sering membaca menunjukkan tanda fisik penyakit demensia paling rendah. Nelson juga menyatakan bahwa membaca merupakan cara terbaik untuk mencedah penyakit demensia.
Baik lansia pertama maupun kedua, sangat gemar bersosialisasi. Keduanya sering menjadi pemateri pengajian. Individu yang menjaga hubungan yang positif dengan keluarga dan teman bermanfaat secara sosioemosional dan kesehatan. Keterlibatan interpersonal dapat meningkatkan stimulasi secara intelektual. Keterkaitan sosial juga membantu individu dari serangan kejadian yang membuat stres. Stres dapat berdampak buruk pada gangguan ingatan. Stres yang intensif dapat memicu gelombang pelepasan kortisol yang dapat mengganggu ingatan. Melalui bersosialisai, maka stres berkurang, sehingga pelepasan kortisol tidak terjadi dan tidak akan menganggu ingatan.
Mari kita mempersiapkan masa tua dengan baik melalui aktivitas aktivitas positif yang dimulai dari sekarang. Lansia yang memiliki aktivitas membaca, belajar hal yang baru serta bersosialiasi akan lebih menikmati masa tuanya. Lansia produktif lansia bahagia. Selamat hari lansia.
*)Anita Aisah, Pengajar Psikologi Perkembangan Prodi PAI UMY, Ig: aisahanita
