f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tantrum

Memahami dan Menangani Anak Ketika Tantrum

Apa itu tantrum?

Apakah dari kita familiar dengan kata “Tantrum” ? Tantrum bisa dikatakan suatu ledakan emosi yang dilakukan oleh anak yang berusia 0-3 tahun. Hal itu disebabkan ada beberapa hal salah satunya tidak mampuan anak dalam menyampaikan apa yang ia kehendaki, terkhusus pada lingusitiknya. Pada usia tersebut anak belum mampu menguasai bahasa sehingga bingung bagaimana sang anak untuk menyampaikan apa yang ia kehendaki namun hal tersebut umum terjadi pada anak.

Tantrum memiliki dua jenis, tantrum amarah dan kesedihan. Tantrum amarah bisa dilihat dari tingkah laku anak seperti, menghentakkan kaki, menendang, dan memukul sedangkan tantrum kesedihan itu seperti menangis menjerit jerit dan melukai diri sendiri.

Rentang usia 0-6 tahun merupakan masa emas perkembangan anak, yang apabila pada masa tersebut anak diberi pendidikan dan pengasuhan yang tepat akan menjadi modal penting bagi perkembangan anak di kemudian hari. Apabila tantrum terjadi pada usia 0-3 tahun namun tidak ditangani dengan tepat dapat bertambah hingga umur 5-6 tahun dan seterusnya.

Peran Orang Tua

Hal ini juga berpengaruh pada penanganan orang tua terhadap anak. Apabila orang tua tidak mengenal dan mengetahui tantrum itu sendiri maka akan berimbas pada kesehatan mental anak. Orang tua yang tidak mengetahui dan memahaminya bisa saja terjadi dua kemungkinan Child abuse, tindak penganiayaan terhadap anak atau anak akan menjadi pribadi yang mudah dalam melakukan kekerasan pada setiap orang karena terus membiarkan anak ketika terjadinya tantrum.

Pada dasarnya untuk menghadapi anak tantrum tidaklah membutuhkan kekerasan atau pengabaian terhadap anak. Orang tua harus mampu untuk ada disamping anak dan memeluk anak ketika tantrum itu muncul, peluklah anak dengan rasa kasih sayang dan penuh rasa aman. Anak akan merasa bahwa keberadaan orang tua sebagai peredam emosi atau obatnya.

Baca Juga  Bayi Gumoh; Penyebab dan Mengatasinya

Sekalipun anak melakukan tantrum amarah, tidak menjadi masalah ketika badan menjadi amukannya. Hal itu akan menjadi sebuah pengorbanan bagi orang tua demi terciptannya pribadi anak yang baik, ramah dan penuh kasih sayang. Berbeda halnya ketika orang tua memukul anaknya, alih-alih agar anaknya diam dan menurut dengan apa yang orang tua katakan.

Tidak dengan Kekerasan

Ketika orang tua terus melakukan tindakan child abuse maka anak akan terus menjadi korban kekerasan dari orang tua. Anak menngalami perkembangan otak yang terbelakang, Ketidakseimbangan antara kemampuan sosial, emosional dan kognitif. Serta, gangguan berbahasa yang spesifik. Bisa dikatakan anak tidak mampu tumbuh berkembang, atau bahkan degradasi.

Sama hal nya ketika orang tua mengabaikan anaknya ketika tantrum itu kambuh. Anak akan merasa bahwa apa yang ia lakukan itu benar terlebih pada tindakan kekerasan dan mungkin bisa saja menjadi senjata bagi anak ketika keinginan tidak terpenuhi. Maka, ketika anak tantrum tidak diberi arahan dan pemahaman kepada anak, tindakan kekerasan itu akan tumbuh subur di dalam diri anak.

Mengedepankan Kasih Sayang

Sudah semestinya orang tua melindungi anak dari kekerasan dan memberi pemahaman anak terutama dalam linguistic atau kemampuan berbahasa anak. Ketika anak mampu menyampaikan emosi nya dengan bahasa yang baik atau kemampuan verbal mudah dipahami, maka mudah juga bagi orang tua dalam memenuhi kebutuhan sang anak, secara kognitif, biologis ataupun emosi.  Kendalanya anak belum mampu untuk menyampaikannya dengan bahasa yang dapat dipahami orang tua, hanya bisa lewat emosi.

Keberadaan orang tua adalah sebagai panutan bagi anak. Ketika orang tua mampu mengendalikan tantrum yang terjadi pada anak dengan penuh kasih sayang, tenang, dan juga dengan pelukan akan membantu perkembangan yang dihadapi anak dan menyelesaikannya. Ketika orang tuanya bertindak penuh kasih sayang, tenang, dan juga dengan penuh rasa aman maka anak menirunya, sehingga menjadi pribadi yang penuh kasih sayang, tenang, dan lembut. (s)  

Baca Juga  Kriminalitas Anak, Salah Siapa?

Bagikan
Post a Comment