Mengenal Masyarakat Jahulu (Part 2)
Mengenal Masyarakat Jahulu (Part 1)
Oleh: Vella Rohmayani*
Perjalanan pun berlanjut hingga kami memutuskan untuk berhenti dan singgah di kebun milik Pak Narsan (63 th) saat itu beliau sedang sibuk menanam cabe yang telah berumur 3 bulan hasil dari menanamnya di sawah. Lekaki ini juga merupakan orang asli Jahulu rumahnya berada di sebelah masjid Jahulu. Sambil terus menanam cabe pak Narsan juga tetap menjawab pertanyaan-pertanayaan yang kami ajukan.
Walau matahari terasa sangat menyengat dikulit namun pak Narsan seolah tidak peduli dan tetap melanjutkan kesibukannya menanam cabe, panas dan capek seolah tidak beliau rasakan. Tak ada waktu baginya untuk mengeluh karena kini beliau hanya hidup dengan sang istri tercinta.
Sebenarnya beliau memiliki seorang anak laki-laki yang kini sudah menikah namun sekarang anaknya tinggal dan menetap di rumah mertuanya, jadi kini pak Narsan harus tetap bekerja walau sudah tua, beliau harus tetap berjuang dan bertahan hidup. Raut wajah lelah jelas terlihat namun pak Narsan mencoba menepis kelelahan yang beliau rasakan dengan senyum dan guyonan yang sesekali menyelingi perbincangan kami. Tanpa disadari keakrabanpun mulai terjalin dan perbincangan kamipun mengalir begitu saja.
Pak Narsan juga mengatakan banyak pemuda di Jahulu ini yang merantau keluar kota untuk mencari banyak uang, “podo golek duwik gede, wong tuwo seng tetep nang kene ngurusi sawah karo ladang cah nom-nom.me podo metu merantau metu tekan deso dewe-dewe”, tutur pak Narsan dengan bahasa jawa yang khas.” Wong tani iku soro ndok lek panas panasen lek udan kudanan”, begitu tambah beliau.
Hal ini membuat kami menyimpulkan jika pemuda pemudi desa tidak mau mengurusi sawah dan ladang serta tak mampu menawarkan sebuah solusi untuk mengatasi kekeringan yang ada, lama-kelamaan profesi petani akan terkikis di desa jahulu ini. Bagaimana tidak mayoritas petani yang kami temui di lahan pertanian memang sudah tua dan sepuh, yang tidak seharusnya mereka berada di sawah dan ladang, namun seharusnya mereka beristirahat di rumah menikmati masa tuanya.
Tepat disebelah kebun pak Narsan terdapat kebun Pak sunarso (65 th), beliau saat itu sedang sibuk bekerja dengan dua ekor sapinya membajak sawah. Beliau membajak sawahnya dengan suara khas “her-her-her” yang mengiringi tiap langkahnya.
Di bawah terik matahari beliau terus menggiring kedua ekor sapinya. Pada mulut kedua ekor sapinya dipakaikan blongsong yang terbuat dari anyaman bambu, tujuannya adalah untuk mencengah menetesnya air liur sapi tersebut agar tidak menetes pada tanah yang sedang dibajaknya. Kebiasaan ini sangat jarang kami jumpai di masyarakat pada umumnya.
Perjalan pun kami lanjutkan kembali, pas di tengah ladang kering kami berpapasan dengan Bapak Jarno (80 th) yang sedang sibuk menggiring kambing-kambingnya yang berjumlah 11 ekor. Umur tak pernah menjadi alasan Bapak Jarno untuk berdiam diri walaupun seharusnya memang kini saatnya beliau untuk menikmati masa tua dengan berdiam diri di rumah, namun kebutuhan hidup menuntut beliau untuk harus tetap bekerja.
Beliau dikaruniai 3 orang anak dan banyak cucu. Walaupun sudah tua namun kemampuan dan ketelatenan beliau dalam menggiring kambing tidak luntur ditelan waktu, beliau masih tetap terlihat sehat dan semangat. Walaupun fisik tubuh tak dapat membohongi kalau bertambahnya usia telah menciptakan guratan-guratan halus di wajah dan tubuhnya. Terlihat dari mata yang kini mulai sayu karena terhias dengan tumpukan garis kerutan.
Perjalan pun terus berlanjut, di tengah perjalanan kami bertemu dengan pak darmono (45 th) yang saat itu sedang mencabuti tanaman cabe yang beliau tanam sekitar 3 bulan yang lalu, belaiu terlihat lebih tua dari umurnya. beliau kelihatan sangat antusias dengan kedatangan kami, terbukti dari kejauhan sebelum kami memutuskan untuk singgah beliau sudah menyapa kami dari kejauhan.
Saat itu matahari terasa lebih menyengat, berbincang di tengah sawah yang membentang dan terbuka tanpa adanya teduhan, membuat kami rasanya tak kuat lagi untuk melanjutkan perbincangan, walaupun sebenarnya kami masih ingin berlama-lama karena banyak sekali informasi yang ingin kami gali dari bapak Darmono. Masyarakat desa Jahulu memang terkenal ramah dan pekerja keras, terbukti bahwa usia yang tak lagi muda tak menjadi alasan mereka untuk berdiam diri di rumah, mereka terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Walaupun hasil yang mereka peroleh dari bertani tidak banyak, namun rasa syukur tetap menyelimuti hati mereka. Karena bekerja bukan hanya untuk hidup tapi bekerja juga merupakan bentuk ibadah.
*Penulis adalah Ibu dari 2 anak dan Dosen di Universitas Muhammadiyah Surabaya.
