f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Cerita Seorang Perawat: Apakah Kita Harus Menyerah?

Oleh: Islam Syarifur Rahman*

Rahmania, setiap hari, informasi tentang orang terpapar bahkah meninggal dunia telah kita dengar. Sebagai perawat, saya tidak pernah membayangkan kondisi ini akan terjadi. Kondisi yang memporak-porandakan tatanan hidup masyarakat dunia. Kondisi yang tentunya memprihatinkan dan menyedihkan. Apalagi ketika kabar buruk tersebut menimpa rekan sejawat perawat. Sedih, prihatin dan takut tentunya.

Memang hal tersebut adalah resiko pekerjaan. Setiap hari harus bergulat dengan orang sakit. Melayani dan menemani mereka hingga mereka sembuh. Tetapi, kondisi tersebut akan berbeda ketika kondisi di luar tidak mendukung. Apa maksudnya?

Bulan pertama ketika pandemi Covid-19 menyerang Indonesia. Kita dihadapkan pada kondisi terbatasnya alat pelindung diri (APD) untuk tenaga kesehatan (Nakes). Kemudian tidak berselang lama, kondisi yang membuat kesal juga adalah banyaknya pasien tidak jujur dalam menyebutkan gejala penyakitnya, yang mengakibatkan puluhan tenaga medis terpapar. Dan, kondisi terbaru yang tidak kalah menyebalkan adalah ketika sebagian masyarakat kita cenderung abai dan tidak menghiraukan protokol kesehatan.

Hal di atas yang kerap kali kami hadapi. Sebuah situasi yang makin hari makin tidak menyenangkan. Munculnya hastag “Indonesia Terserah” dari tenaga kesehatan adalah alarm bahwa kita sudah mulai lelah dengan kondisi ini. Apakah kita bakal menyerah? Jelas tidak. Ratusan bahkan ribuan tenaga kesehatan di Indonesia mempunyai janji profesi yang tidak mungkin kami khianati. Toh umpama itu terjadi, berarti hal tersebut sudah di luar batas kemampuan kami selaku tenaga kesehatan. Terutama perawat.

Jujur adalah Kunci

Sebenarnya sangat tepat bila ada pasien mendatangi tenaga kesehatan untuk mencari pertolongan atas masalah kesehatan yang dialami. Namun, akan terjadi persoalan jika individu yang datang sudah terinfeksi covid-19, tapi pada saat dilakukan assasment oleh dokter atau perawat tidak ditemukan adanya gejala karena pasien tidak memberikan informasi secara lengkap dan detail tentang riwayat penyakitnya.

Baca Juga  Dia adalah Anugrah Bagi Kami

Saat ini, banyaknya kasus perawat dan dokter yang terjangkit Covid-19 dikarenakan ketidakjujuran pasien saat diperiksa, keterbukaan pasien dibutuhkan oleh perawat untuk mencegah penularan, dan ini dapat disembuhkan. Kasus ini menjadi tugas berat dan menakutkan bagi perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan.

Hal ini terjadi di sejumlah daerah, salah satunya terjadi di RS dr Kaevadi Semarang. Sebanyak 46 tenaga medis positif tertular virus corona dari pasien yang tidak jujur saat dilakukan anamneses.

Kejadian juga sama terjadi di Cirebon. Akibat ketidakjujuran keluarga pasien, sebanyak 21 tenaga medis terpapar dan harus menjalani isolasi. Ketidakjujuran semacam ini akan berakibat fatal bagi seorang perawat ataupun tenaga medis yang lain, apabila pasien yang datang untuk mengakses layanan kesehatan dan pasien tidak mengakui apabila kemungkinan sudah terinfeksi ataupun sudah pernah keluar kota dengan zona merah, perawat akan melakukan tugas dan menerima seperti pasien biasa tidak menggunakan APD lengkap ataupun tidak sesuai protokol penanganan pasien Covid-19.

Maka jujur adalah kunci atas kondisi tersebut. Meski saya pribadi paham bahwa ada kondisi yang mendorong orang tidak jujur. Ketakutan mengalami diskriminasi dan stigma di masyarakat adalah sumber dari itu semua. Sebuah kondisi yang saling berkaitan yang berakibat perawat atau Nakes akan menjadi korban. Tetapi kalau kita mau bersikap adil, jujur dan jernih, membiarkan perawat atau tenaga medis menjadi korban adalah sebuah kekonyolan yang luar biasa. Bayangkan jika kami tidak ada di tengah kondisi ini!

Solidaritas Masyarakat Sangat Dibutuhkan

Masyarakat saat ini harus tahu beratnya memberikan semua kebutuhan tersebut kepada seluruh pasien yang terjangkit Covid-19 ini selama 24 jam, masih banyak masyarakat yang mendiskriminasi para perawat di luar sana dan menyepelekan pekerjaan mereka. Seorang perawat rela tidak pulang dan bertemu keluarga di rumah demi proses penyembuhan pasien dan mungkin salah satu pasien tersebut adalah keluarga kita sendiri

Baca Juga  Kita Butuh Opini Dokter Lain

Masyarakat hari ini harus saling bahu membahu untuk memutus rantai penyebaran virus corona bersama-sama dengan tetap menjaga kebersihan diri, berusaha untuk beraktifitas di dalam rumah, dan menjauhi kerumunan.

Melihat penyebaran pasien sampai hari ini sangat tinggi, dalam hal ini, kami berharap kepada seluruh masyarakat yang berobat dan melakukan pemeriksaan di rumah sakit, ataupun di tempat layanan kesehatan yang lain untuk memberikan keterangan yang jujur dan tidak menutupi kondisi kesehatannya, demi kebaikan bersama dalam memutus rantai penyebaran Covid-19. Tentu, perawat dan petugas medis lainnya tidak akan mendiskriminasi pasien yang telah terjangkit. Jadi, tidak perlu takut untuk jujur!

Jangan ada lagi diskriminasi terhadap perawat ataupun tenaga medis yang lain, mari kita menghargai pekerjaan orang lain dan saling membantu, tingkatkan rasa solidaritas dan empati terhadap perawat ataupun tenaga madis lain yang sedang berusaha keras menyembuhkan ataupun memutus rantai penyebaran Covid-19.

Perang Melawan Diri Sendiri 

Kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi saat ini adalah kita sedang menghadapi peperangan besar. Sebuah peperangan yang lawannya susah sekali dikalahkan, karena kesiapaan armada perang yang sejak awal tidak disiapkan secara baik. Kelangkaan APD, kebijakan setengah hati, ketidak-jujuran masyarakat dan akhir-akhir ini mulai nampak adalah sebuah kebandelan juga dari sebagian masyarakat kita.

Apa mungkin kita memenangkan peperangan ini atau kita harus dibuat menyerah?

Sun Tzu seorang Jendral Militer Kekaisaran Tiongkok Kuno, ahli strategi perang yang juga dikenal sebagai penulis masterpiece “The Art of War”, mengingatkan kita bahwa satu hal yang menjadi penting dalam perang adalah memahami kekuatan diri sendiri dan kekuatan musuh. Seratus kali perang tidak akan bisa kalah perang jika kita paham betul keduanya.

Baca Juga  Pencegahan Covid-19 saat Ibadah Shalat Jumat

Persoalan hari ini adalah kita susah sekali memahami dan mengorganisir kekuatan sendiri. Sikap tidak jujur dan perilaku abai masyarakat di tengah pandemik. Ditambah lagi, sikap pemerintah yang dianggap anti-sains adalah tindakan yang berpotensi melumpuhkan kekuatan kita sendiri. Bagaimana mungkin peperangan ini bisa memperoleh kemenangan jika terjadi persoalan dalam diri kita sendiri.

Kita sedang berhadapan dengan virus baru yang memiliki daya tular yang sangat cepat dan massif lewat transmisi antar manusia. Virus ini juga memiliki daya ledak penyebarannya sangat tinggi, bisa memapar ratusan ribu bahkan jutaan orang dalam waktu singkat. Karakter virus tersebut tentunya sudah kita pahami.

Dalam kontek tersebut, teryata masalah kita bukan pada memahami musuh tetapi pada kekuatan memahami diri sendiri. Kemampuan untuk mempunyai nalar sehat dan adil. Tidak bersikap konyol dan mampu menahan diri dari prilaku kontra-produktif yang hari ini kerap terjadi.

Kalau kondisinya sudah begini perawat atau tenaga medis lainnya bisa apa? Kita tidak mungkin menyerah karena sumpah jabatan kami tetapi sangat mungkin kami dibuat menyerah oleh keadaan.  

*Penulis adalah Perawat yang tinggal di Surabaya, Wakil Sekertaris PDPM Surabaya

Bagikan
Post a Comment