f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
rumi

Berbincang dengan Rumi

Pukul sebelas malam. Sang lelaki berjalan ke kamar mandi yang terletak agak jauh ke belakang, sekitar 30 meter, buat mandi. Langkahnya seperti prajurit yang habis berperang, lunglai dan pasrah.

Selesai mandi ia menuju kamar kontrakan yang terletak di lantai 2. Ia menghadap cermin lemari, mengeringkan rambut dengan handuk, dan menatap dirinya di kedalaman cermin itu beberapa saat. Ia termangu. Melihat seorang pemuda menyedihkan di dalam cermin sana. Matanya bagaikan perahu mini yang terombang-ambing di tengah lautan, tanpa kemudi, tanpa penumpang.

Lalu, ia duduk di atas kursi dan meletak keningnya di atas meja yang dikelilingi buku-buku. Ia biarkan tangannya mengulai ke bawah tak berpangku. Dia mengetuk-ngetukan kepalanya ke atas meja. Seolah-olah hendak mentransfer karut marut pikirannya kepada meja kayu itu. Ia tetap dalam poisisi yang sama dalam beberapa waktu. Sampai kemudian terhenti. Kepala masih menempel ke meja, kali ini dalam posisi diam dengan mata memejam.

***

Sejurus kemudian, sang lelaki terbangun dari kepasrahannya. Lalu spontan tangannya meraih buku abu-abu di sudut agak kanan. Di sampul buku itu terpampang lukisan seorang lelaki tua bersorban, berjanggut dan berjubah, mirip seperti sufi. Tertulis di sana, “Matsnawi, Jalaluddin Rumi”.

Dia buka lembar demi lembar buku itu. Ia baca baris demi baris. Kadang-kadang ia paham dengan kalimatnya, kadang-kadang ia bingung sendiri. Dia berusaha menerka-nerka di bagian sebelah mana ia bisa menemukan sosok Jalaluddin Rumi. Sebab, ia melihat keseluruhan buku itu adalah kisah-kisah acak yang tak tentu perhubungannya. Tapi dia, lelaki itu, tetap melihat kalimat-kalimat yang menggetarkan, menggugah, dan menusuk. Prosa-prosanya bernada “jalan tengah”, tapi kadang-kadang juga memuji hati dan mengedepankan perakalan. Di sana ia temui pembahasan-pembahasan ketulusan, kejujuran, keadilan, iman, cinta dan berbagai kebijaksanaan lainnya.

Kemudian, sang lelaki itu menutup bukunya. Di letak keningnya di atas buku tersebut. Matanya memejam dan mengucap nama Jalaluddin Rumi secara lirih sebanyak tiga kali. Kemudian ia membuka mata dan menatap tembok biru di depan. Lalu ia menoleh ke kiri. Tepat di tangga menuju ke lantai 3 ia melihat sesosok lelaki tua berjanggut, bersorban dan berjubah duduk di anak tangga ke dua dari bawah. Lelaki tua itu menatapnya dalam, tanpa kedip. Matanya teduh dan wajahnya bagaikan suasana jingga di sore hari di tepi pantai, sangat tenang dan teduh.

***

Si lelaki ketakutan, keringatnya menetes di pelipisnya. Tiba-tiba saja ia diserang gerah saat lelaki tua mencoba menghampiri dirinya. Sontak ia berdiri dan bersandar ke tembok, ia ketakutan, persis seperti sedang ditodong bedil tentara.

“Jangan takut?” Ucap si lelaki tua.

“Kau siapa?”

“Baru saja kau memanggil namaku.”

“Jalaluddin Rumi?”

“Ya. Aku Jalaluddin Rumi. Adakah yang ingin kau sampaikan, wahai pemuda?”

Sang lelaki terdiam. Ia kebingungan. Ia tak ingin melepas kesempatan langka ini. Dia sedang bertemu dengan seseorang yang namanya begitu harum dan sering dibicarakan oleh banyak orang. Mutiara hikmah kata-katanya sering pula dikutip oleh orang-orang dari berbagai lapisan. Biar saja sembarang bertanya. Lalu sang lelaki berkata, “Mengapa engkau menulis?”

“Hmm, haruskah aku menjawabnya?”

“Ya”

“Jika aku tidak menulis, kau tidak akan mengetahui bahwa serang Rumi pernah lahir ke dunia.”

“Hanya itu?”

“Hikmah dan nasihatku tak akan sampai kepada kalian, dalam bentuk buku yang kalian baca selama ini. Dari mana kalian akan berwatak hati-hati kecuali dari kisah masa lampau yang tertulis?”

“Hanya itu?”

“Pada masaku ada banyak orang yang menulis. Dan tidak setiap yang menulis mengetahui keseluruhan tentang arti hidup ini. Mereka memiliki ilmu pada bidangnya masing-masing. Sementara itu, siapa yang akan menuliskan anjuran untuk berlaku bijaksana?”

“Hanya itu?”

“Menyampaikan kebaikan dan mengingatkan batasan-batasan dalam berpikir, bersikap, dan berperasaan.”

“Hanya itu?”

“Sudahkah kau menulis?” Tanya Rumi menimpali.

“Aku tak bisa menulis, dan tak pernah ingin untuk menulis.”

“Lalu untuk apa kau membaca?”

“Untuk mengetahui apa yang dipikirkan orang-orang sepertimu.”

“Apa yang kau dapat dari mengetahui?”

“Kebijaksanaan”

“Kau tak bisa menjadi bijaksana jika tidak menyampaikan kebaikan kepada orang lain.”

“Apakah berbuat baik harus dengan menulis? Dengan membaca bukumu dan buku lainnya, aku dapat menahan diri untuk tidak bercepat mulut, berwajah penipu, dan berlidah dusta.”

“Kebaikanmu akan berlipat-lipat jika kau iringi dengan menulis, dan menebarkannya kepada orang-orang.”

“Ok, kita lupakan saja perdebatan yang ini.” Ucap si lelaki, “Bagaimana kau memandang perempuan? Apakah ombak kebijaksanaanmu dapat menyentuh bibir akal perempuan yang sedang jatuh cinta?”

“Baiknya, pertanyaan yang ini kau ajukan kepada perempuan?”

“Kenapa bukan kau saja yang menjawabnya. Bukankah engkau seorang bijak?”

“Kau bertanya kepada seorang lelaki. Sama sepertimu,” jawab Rumi, “Ah, tampaknya pembicaraan ini sudah terlalu jauh.”

Sejurus kemudian sang lelaki mendengar suara azan yang samar-samar, dan tiba-tiba Rumi menghilang, meninggalkan bayang berupa asap putih tipis. Sontak sang lelaki tersadar dari mimpinya yang klasik diikuti suara azan yang semakin jelas.

Sesaat sang lelaki linglung, dia berusaha mengingat-ingat, terakhir kali dia mengetuk-ngetuk kepalanya ke atas meja, tubuhnya yang kelelahan sehabis mengelilingi kota Jakarta tanpa disadari membuatnya tertidur.

Sejurus kemudian sang lelaki mengusap muka, mengucap Hamdallah, lalu berjalan mengambil wudhu untuk shalat subuh.

Bagikan
Post a Comment