Hitam Putih Hati
Sunyi, sepi dan sendiri. Malam itu untuk pertama kalinya aku rasakan kedekatan yang sangat intim dengan penciptaku. Hamparan sajadah terasa bagai hamparan tanah lapang, mempersilahkanku bergerak bebas, kemanapun ingin ku ambil memori. Tentang segala salahku, tentang segala dosa dan maksiatku. Mulutku bebas menganga mengakui kesalahan, air mataku bebas mengalir membasahi wajah pendosa ini…
***
(Satu bulan sebelumnya)
Kampus sore itu ramai seperti biasanya, aku berjalan menyusuri koridor menuju masjid untuk memenuhi panggilan-Nya. Seperti biasa pula, kuajak kawanku Ridwan sholat ashar bersamaku. Setelah sholat, aku mengikuti kajian remaja masjid, namun Ridwan memilih kembali ke asrama dan melewatkan kajian sore itu, sama seperti sore-sore sebelumnya.
Namun petang hari itu berbeda, aku kembali ke asrama dan kudapati Ridwan sedang menangis, namun ia tutupi.
“Masalah perempuan lagi, Wan?”
Ridwan diam saja, tetap menyembunyikan tangisnya yang sudah kutahu.
“Hmm Wan…Wan. Itu hanya cinta manusia, sedih banget kayaknya. Kira-kira bagaimana Allah lihat kamu sekarang? Dia mencintai hamba-Nya, tapi sang hamba lebih memilih cinta manusia?”
Hapeku berdering, Ridwan tak lagi ku hiraukan. Ada pesan WhatsApp masuk dari nomor tak kukenal. ‘Assalamualaikum, kak Afiq. Saya Alya, panitia kajian pemuda di masjid. Kalau boleh, apa kakak bersedia menjadi pemateri untuk kajian selanjutnya?’
***
Sejak saat itu aku beroleh pekerjaan baru, pekerjaan menebar kebaikan. Aku mengisi kajian untuk beberapa kali pertemuan di masjid. Aku sangat bersyukur karena selain aku dapat membagi ilmu, kawanku Ridwan sering hadir dalam kajian itu. Pelik, apakah ia datang karena kebetulan kawannya sendiri yang jadi pemateri, atau tidak beda dengan tujuan dia sebelumnya? Mengikuti kajian hanya ingin menarik hati perempuan yang ingin dipacari? Entah siapapun target perempuan dia saat ini, aku tetap senang dia hadir.
Tapi rasanya kesenanganku ini bukan karena itu saja, namun ada pula seorang yang lain, ialah perempuan yang berjiwa lembut yang membawaku kemari, yang semangatku bisa ia nyalakan hanya dengan sepicing senyuman.
Sejak awal bertemu dulu di suatu rapat bersama panitia lain, aku sudah merasakan hal yang berbeda padanya. Sekuat hati dan jiwaku, aku tahan perasaan itu. Aku tekan dalam-dalam, agar tak muncul dan merekah ke permukaan. Namun keadaan seperti tak sejalan dengan maksudku, aku malah harus mengisi beberapa pertemuan lagi, yang artinya aku akan sering bertemu panitia kajian termasuk dia dalam tiap-tiap kajian untuk sekadar koordinasi.
Tapi bagiku tak sesederhana itu, bertemu dengannya hampir tiap pekan, sungguh membuat setan semakin hura-hura menggodaku. ‘Ah, Afiq! Tundukkan pandanganmu!’ Perintahku pada diri sendiri tiap kali mataku bertemu dengan tatap teduh matanya. Bagaikan pelayar yang hanya ingin pergi ke seberang, namun perahunya terlalu kecil untuk ombak yang begitu besar. Aku memohon sekali, agar layar perahuku jangan sobek, dayung jangan patah, dan tiang jangan rebah. Godaan setan ini sungguh ombak besar bagiku.
***
Cinta itu kadang hanya menurutkan perintah hati, tanpa meyertakan pendapat otak. Bukan main pertarungan antara hati dan otakku saat itu. Beberapa waktu perasaan itu bisa aku lupakan dan hatiku patuh dengan apa kata otak. Tetapi bila nampak wajah dan mata teduhnya, hati lupa akan perintah otak.
Pada akhirnya aku perturutkan juga maksud hatiku itu. Aku mendekatinya, ku ajak ia berbicara panjang dan lama tiap-tiap selesai kajian, sesekali aku ajak dia keluar walau sekadar makan. Hatiku gembira, jiwaku terasa berbunga-bunga, begitupun dia.
Lambat laun, Ridwan rupanya telah tahu tentangku dan Alya, ia sering memberiku petuah sepatah dua agar aku berhenti mendekati Alya. Aku tak percaya kalimat sejenis itu keluar dari mulut sang Ridwan, playboy sejati sekampus, sehingga tak terlalu kuhiraukan pendapatnya. Lagipula aku tidak menyentuh Alya sama sekali, pun pembicaraanku dengannya lebih banyak seputar agama daripada hal lain.
“Afiq!” Sambut Ridwan malam itu, sepulangku bertemu Alya. Aku menghadapnya, menunggu ia teruskan kalimatnya itu.
“Kamu ngapain keluar sama Alya? Kalian itu bukan mahram, lho!” Ridwan memperingatkanku lagi, seperti malam-malam sebelumnya.
“Tahu apa kamu soal itu, seperti yang sudah lama belajar saja. Padahal kajian juga jarang datang,” jawabku datar.
Ridwan hanya menggeleng-geleng saja.
“Setidaknya aku bertemu dia di tempat ramai, tanpa bersentuhan, diskusi hal agama! Tidak seperti kamu, yang sudah hampir…” tak sadar nada bicaraku semakin meninggi.
“Stop! Terserah kamu,” Ridwan menghentikan kalimatku. Ia balikkan badannya membelakangiku, mengakhiri percakapan kami malam itu.
***
Aku diam. Pikiranku mulai kacau, hati dan otakku kembali bertarung. ‘Tapi aku kan tidak melakukan kesalahan, aku tidak melampaui batas, hanya bertemu dan berbicara saja, kok.’ batinku.
Malam itu juga di luar persangkaanku, aku mendapatkan kabar kejutan. Alya menghubungiku, ia mengatakan ada orang yang telah membagikan desas-desus tentang hubunganku dan Alya dengan menyebarkan berita yang tidak-tidak. Banyak sekali komentar pedas nan tajam yang ditujukan padaku dan Alya dari kawan-kawan di kampus. Aku geram, malam itu semua marahku tertuju pada Ridwan. Siapa lagi yang mengetahui tentang ini selain dia, hingga aku bertengkar dengannya malam itu.
Semakin hari keadaan semakin runyam seperti labirin, sudah lama berlari ke sana kemari namun jalan keluar belum ditemukan juga. Aku dan Alya saling menjauhkan diri, tak lagi kuhubungi dia dan aku juga tidak mengisi kajian lagi.
***
Selama dua minggu setelah kejadian itu, aku semakin pendiam dan banyak termenung, telah aku insafi diri sendiri. Aku telah tahu siapa yang menyebarkan berita itu, ternyata bukan Ridwan. Setelah kupukir pula, akulah yang menyeret Alya pada hubungan haram yang kuatasnamakan diskusi agama itu. Mungkin akan berbeda jadinya jika aku tidak pernah mendekatinya, jika aku padamkan dahulu api perasaan itu sebelum membesar. Sungguh berat jiwa ini memikul rasa bersalah, rasa berdosa. Pada tiap-tiap malam aku terjaga dalam sholat dan sujudku, memohon ampunan dari penciptaku, berharap dapat terasa sedikit lebih ringan rasa bersalah dan berdosa ini.
Ridwan yang kala itu sungguh buruk nampaknya di mataku, siapa yang tahu jika ternyata pada hari ia menangis itu, dosa-dosanya lah yang sedang ia tangisi. Pada hari ia datang kajian itu, memang ia tengah memperbaiki diri. Pada hari ia memperingatkanku itu, hanya karena ia tak ingin aku berakhir sepertinya.
Hati manusia, memang siapa yang tahu. Mungkin hati orang lain terlihat sungguh ternoda dan hitam pekat di mataku. Namun aku tak sadar di saat yang bersamaan hatiku sendiri yang aku anggap putih bersih itu, sudah mulai menghitam pula.
Rusyda Savira yang akrab dipanggil ‘Rus’ adalah seorang mahasiswi tingkat akhir yang memiliki hobi membaca dan menulis. Rus saat ini aktif menulis baik cerita fiksi maupun tulisan lainnya, baik dalam blog pribadi atau media lain.
