f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Minum Kopi

Khitah Perjuangan Minum Kopi

“I gave up coffee. It’s almost worse than giving up a lover.”

– Sandra Bullock-

Kita seringkali mendengar, bahkan berujar “ngopi”. Sebagai kata kerja untuk menunjukkan sebuah kegiatan yang dapat mengembalikan energi, yang mungkin telah terkikis oleh kegiatan “normal” sehari-hari. Ngopi sudah tidak lagi berarti minum kopi, tapi sudah bergeser dari kegiatan meminum kopi bercampur bahan lainnya. Meminum apapun namun berada di kedai kopi, ataupun bahkan hanya sebagai ungkapan untuk berkumpul bersama teman, keluarga atau handai-tolan. Apapun itu, ngopi tetap berakar pada kata yang berarti Kopi, sebuah hasil dari tumbuhan yang dapat di minum, dan dapat dipercaya, memberikan energi bagi tubuh.

Kopi dan kegiatan yang melingkupinya, lekat dengan arti yang kurang baik. Kopi di pandang sebagai biang keladi atas gangguan tidur, menimbulkan penyakit, dan stigma sebagai minuman orang “tua”. Juga, ngopi dipandang sebagai kegiatan pemborosan uang, nir-manfaat dan buang-buang waktu.

Syahdan, kalau boleh memundurkan waktu, kita akan melihat bagaimana kopi banyak menimbulkan dampak baik. Dan tak kalah banyak menumbuhkan kebermanfaatan pada kelangsungkan hajat hidup pribadi pada khususnya, dan khalayak ramai pada umumnya.

Asal Muasal Kopi Ditemukan

Banyak catatan yang mengungkapkan bahwa, tanaman kopi berasal dari Ethiopia, Afrika. Namun, sedikit yang mengetahui secara pasti orang-orang Ethiopia memanfaatkan tanaman tersebut. Yang pasti, kopi pertama kali populerkan oleh bangsa Arab. Kopi dibawa oleh bangsa Arab dari Ethiopia ke Yaman, dan di Yaman-lah komoditas komersial kopi dimulai dan menyebar ke seluruh dunia.

Di Yaman, pada masa itu, diperkirakan budidaya kopi berkembang lambat. Sehingga kopi menjadi barang dagangan yang eksklusif dan bangsa arab memonopoli perdagangan biji kopi. Perdagangan kopi berpusat di Pelabuhan Mocha, Yaman. Dari Mocha, sebagai satu-satunya gerbang perdagangan biji kopi, bangsa Arab mengendalikan perdagangan. Turut di dukung oleh Kekhalifahan Utsmani di Turki, kopi terdengar dan tersebar ke bangsa Eropa.

Singkatnya, meskipun di dagangkan secara eksklusif, bangsa Eropa berhasil mendapatkan biji-biji tersebut. Setelah berhasil mendapatkannya, bangsa Eropa mencoba membudidayakannya di negara-negara Eropa, namun tak begitu berhasil, dan mulailah ditanam di negara-negara jajahannya. Upayanya berhasil, bangsa eropa mampu menggeser monopoli bangsa Arab dalam berdagang kopi. Disinilah mula kopi datang ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Baca Juga  Sertifikasi Halal Obat dan Kosmetik

Kopi dipopulerkan oleh orang-orang Muslim, dan menjadi sangat populer bagi para peziarah di Makkah. Kopi biasanya menjadi teman agar tidak datang kantuk dan turut mendukung agar terjaga saat ibadah malam. Di Negara-negara yang mayoritas Muslim, seperti Turki, kopi menjadi sajian utama di setiap perayaan. Bahkan, bangsa Eropa turut mengadopsi budaya minum kopi bangsa Turki yang dipandang menjadi budaya orang-orang kelas menengah.

Pada Mulanya Minum Kopi Dianggap Haram

Semenjak awal ditemukannya, kopi mendapat pandangan buruk. Di tanah asalnya, Ethiopia, yang didominasi Katolik Ortodok, tanaman tersebut terdengar sampai ke telinga keuskupan. Karena melihat efeknya dari tanaman tersebut, kopi sempat di haramkan untuk di konsumsi.

Setelah menyebar ke dataran Arab, yang mayoritas Muslim, kopi sempat di haramkan untuk di konsumsi oleh Mufti Agung Makkah. Kopi dipandang produk yang menyebabkan syirik, bid`ah dan produk setan. Tidak hanya kopinya yang mendapat stigma yang buruk. Namun, budayanya pun banyak mendapat pertentangan. Tak sedikit kedai-kedai kopi dipaksa untuk ditutup, dilarang beroperasi dan dilarang untuk menyajikan kopi. Tidak hanya di negara-negara yang mayoritas Muslim, namun juga nyaris di segala belahan dunia stigma tersebut melekat.

Kedai kopi di anggap cikal dari pembangkangan bagi pengusaha, dipandang menjadi tempat untuk merancang dan berdialektika menggeser status-quo, menjadi mula dari lahirnya ide-ide subversi. Sehingga wajar, penguasa terusik dan mencoba mempertahankan status-quonya. Bahkan, di Jerman, kopi dan kedai kopi dilarang karena telah menggeser budaya asli Jerman, yaitu Bir dan Minum Bir. Dan, hukuman bagi para peminum kopi di beberapa daerah dan wilayah kekuasaan, adalah hukuman mati. Dapat kita bayangkan, bagaimana kopi menjadi benda dan minuman yang ajaib dan bernilai tinggi.

Minum Kopi dan Budaya Islam serta Tokoh Revolusi

Menurut Salim A Fillah, budaya ngopi sangat akrab di dunia Islam. Ada dua jenis tipe motivasi orang islam dahulu untuk meminum kopi. Pertama, kopi digunakan sebagai penjaga agar kantuk tak datang oleh para `Abid, ahli Ibadah, dan menambah kekhusukan dalam bermunajat kepada-Nya. kedua, kopi juga digunakan oleh Ahli `Ilmu sebagai minuman pengganjal mata dan penjaga pikir agar mampu menyelami bahtera ilmu dalam buku-buku dengan khusuk.

Baca Juga  Hidup : Antara Gratis dan Tidak Gratis ?

Kalau kita mengenal Syekh Jamaluddin Al Afghani, kita akan tahu bahwa beliau merupakan salahsatu inspirator Revolusi Mesir 1919. Jauh sebelum revolusi tersebut, Jamaluddin kerap menyebarkan idenya di kedai-kedai kopi, salahsatunya kedai kopi Mitatia. Diantara yang kerap datang, ada dua nama yang mashur di dunia, yaitu Muhammad Abduh dan Saad Zaghul. Muhammad Abduh kita kenal sebagai mufti besar di Mesir dan merupakan pembaharu Muslim. Sedang, Saad Zaghul, kita kenal sebagai salahsatu tokoh Revolusi Mesir 1919 dan menjadi Perdana Menteri pertama Mesir. Singkatnya, dari kedai kopi, ide Revolusi Mesir melawan penjajah dari Inggris lahir dan bersemayam pada pengunjungnya.

Lalu, bila kita mengetahui Revolusi Perancis, yang melahirkan Renaissance. Salahsatu tokohnya, Voltaire, kabarnya juga melahirkan ide dan gagasan Revolusinya di kedai kopi. Bahkan konon, ia merupakan pecandu kopi berat, ia menghabiskan 50 cangkir kopi dalam sehari. Dan, sebelum masa Voltaire, kita mengenal Picasso, Victor Hugo, Pascal, Descartes, Camus, hingga Foucault, menyemayamkan ide dan gagasannya mengalir di kedai-kedai kopi.

Manfaat Minum Kopi dalam Khitah Perjuangan

Dalam dunia medis Islam, kita mengenal Ibnu Rusyd. Beliau ditaksir merupakan dokter pertama yang mengenalakna istilah Bunn (biji) dan Buncham (minuman), yang disinyalir sebagai kopi, dalam kitabnya yang berisi daftar zat-zat yang dapat menyembuhkan penyakit. Sayangnya, tidak ada yang mengetahui dimanakah kitab tersebut. Muridnya, Ibnu Sina, bahkan mengatakan bunchum berkhasiat “membentengi tubuh, membersihkan kulit, dan mengeringkan kelembaban di bawahnya, serta memberikan bau yang enak untuk tubuh”.

Di Indonesia, kita tahu Teuku Umar. Sebelum beliau gugur tertembak penjajah, beliau berjanji akan menghabiskan bergelas-gelas kopi di Meulaboh. Beliau berujar pada Pang Laot, tangan kanannya, dalam bahasa aceh “beungoh singoh geutanyoe jep kupi di keude Meulaboh atawa ulon akan syahid (besok pagi kita akan minum kopi di Meulaboh atau aku akan mati syahid)”. Teuku seakan berkabar, bahwa minum kopi adalah balasan berupa surga bagi yang berhasil berjuang bertahan hidup, dan mendapat surga mulia di akhirat bila naas gugur. Tidak hanya Teuku, Soekarno, Presiden RI pertama, juga seorang peminum kopi aktif, setiap pagi. Bila melawat keluar negeri, baliau menolak dengan halus bila disuguhi minuman beralkohol, dan meminta kopi bila pagi hari dan atau air jeruk, bila sore hari.

Baca Juga  Sudut Pandang Perempuan dari Berbagai Roman
Kopi Menemani Manusia pada Aktivitasnya

Kopi mengalir bersama kisah peminumnya, beradu dengan sejarah yang mengkonsumsinya. Dari selepas bangun pagi, saat tengah menjemput rejeki, bercengkrama kawan karib. Baik di kedai kopi fancy, kedai kopi rakyat di sudut kota, di pinggiran desa, di rumah, di kantor, di tempat-tempat ibadah. Baik diminum dalam wujud umumnya hitam tanpa gula, bercampur gula, beradu susu, maupun dalam wujud tak umum; dalam bentuk kue, bercampur makanan, berbentuk gulali dsb.

Bagaimanapun juga, kopi hanyalah sebuah biji dari sebuah tanaman. Barangkali, di tangan Tuhan kopi menjadi pemberi banyak manfaat, di setiap cecap bibir dan aliran darah manusia kopi menjadi mulia, di ruang rupa alam semesta kopi menjelma menjadi biang perubahan.

Dalam satu kaidah penting:

مَا لاَ يَتِمُّ الوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

“Sesuatu yang suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengan kehadirannya, maka sesuatu itu menjadi wajib.”

Maka, pemahaman ini dapat kita luaskan maknanya. Bahwa apapun yang membawa dampak bagi kebaikan diri kita, maka sesuatu itu perlukan. Tidak heran mengapa kemudian kopi memiliki sejarah panjang sebagai teman, media, pengantar dan kewajiban bagi pikiran-pikiran baik. Dan dasarnya, kopi diciptakaan sebagai teman bagi sekalian orang yang peng-ibadah taat, para cerdik-cendekia, dan para penyambung persaudaraan dan persahabatan.

Semoga, dari kita, kopi dan budaya ngopi dapat menemukan momentumnya lagi. Dari kita, akan lahir Revolusi Mesir dan Revolusi Perancis versi kita. Melahirkan Muhammad Abduh atau Teuku Umar hari ini. Semoga, kopi dan budaya ngopi bukan hanya sebagai tempat singgah pengumbar nafsu syahwati yang lebih banyak mengundang madhorot daripada manfaah. Mari kembali ke khittah kopi. Wallahu`alam bi showab. Tabik.. (Editor : Jajang)

Bagikan
Post a Comment