Hidup Perempuan yang Berdaster
Beberapa hari yang lalu, saya berkeliling sore mencari keperluan buka puasa dengan mengenakan jilbab instan, daster dan outer. Melihat sekitar yang nampaknya cukup banyak perempuan lain berkeliling mengenakan daster. Saya jadi bertanya pada diri sendiri, kenapa lebih milih pakai daster sehari-hari daripada kaos biasa? Saya jadi menyadari juga, bahwa kepunyaan daster saya lebih banyak daripada kaos biasa, apalagi di rumah.
Ngomong-ngomong soal daster, membawa saya untuk mengenal sejarah dan keidentikan perempuan dengan daster. Pakaian yang hari ini melekat dengan ibu-ibu atau emak-emak itu menjadi pakaian yang amat mudah kita temui. Beragam model dan bahan tersuguh rapi, baik di pasar, mall, apalagi online shop. Tapi berdasarkan sejarahnya, daster bukan pakaian bagi perempuan, melainkan laki-laki.
Asal Muasal Daster
Sedari kecil, saya selalu melihat ibu saya yang sehari-harinya mengenakan daster. Tiada hari dilalui tanpa daster, entah yang warnanya mulai memudar, lengannya yang robek sedikit, yang lengannya panjang atau yang lengannya pendek. Semuanya nyaman berkali-kali dikenakan.
Meskipun hari ini daster erat kaitannya dengan perempuan, tapi sejarahnya justru menceritakan bahwa daster adalah pakaian laki-laki. Mulanya, daster hanyalah jubah koboi yang dikenakan sebagai pelindung dari sengatan matahari, selayaknya pakaian pada umumnya. Modelnya yang lebar ke samping dan panjang menjadikan daster pakaian hits pada tahun 1800-an. Pada saat itu, daster masih beraksen kancing, serta berbahan kain linen. Melihat dari bentuknya, daster bahkan dikenakan sebagai jas hujan. Hal itulah yang menjadikan daster lebih sering digunakan oleh laki-laki, yang zaman itu mayoritas laki-laki bekerja di luar rumah.
Seiring berjalannya waktu, daster menjadi “must have item” di kalangan masyarakat eropa. Maka tak heran bila film-film tahun tersebut mulai ramai menjadikan daster sebagai pakaian para pemeran utama. Dengan model yang masih sama, yakni serupa jubah. Hingga memasuki era 50an, daster mulai beralih fungsi dari yang mulanya untuk melindungi dari sengatan matahari. Daster yang kian tenar, akhirnya dikenakan kaum perempuan sebagai pelindung pakaian utama ketika sedang memasak atau membersihkan rumah. Tidak hanya dianggap sangat relevan untuk menunjang aktivitas sehari-hari, daster masuk di Indonesia sebagai daily wear atau pakaian sehari-hari, dengan alasan pemakaian karena sangat nyaman dan tidak bikin ribet. Saking banyaknya perempuan yang mengenakan daster, terutama perempuan Indonesia. Pakaian sederhana itu mulai melekat sebagai daily wear perempuan, dari umur berapapun. Daster memiliki fungsi kuat dalam kehidupan perempuan. Yang mana pada era cepatnya laju transformasi fashion, daster tersedia dengan model yang jauh lebih beragam dan tentu lebih menarik.
Daster dan Perempuan
Daster menjadi pakaian yang telah membentangkan stigma terhadap perempuan dan pemakaiannya. Melalui argumen yang nampaknya justru menjatuhkan dan menjauhkan keelokan daster bagi perempuan. Misalnya, perempuan yang mengenakan daster seperti emak-emak bau dapur, perempuan yang mengenakan daster cuman bisa jadi ibu rumah tangga. Ya, barangkali itu cuman perspektif orang-orang dalam melihat daster, tapi perkataan semacam bully tersebut sudah menjadikan posisi perempuan dengan dasternya adalah hal yang buruk. Yang pada akhirnya, mengantarkan pemaknaan masyarakat, bahwa daster menjadikamu perempuan domestik saja. Karena pernyataan itulah yang menyuburkan daster sebatas perempuan yang identic dengan urusan dapur, sumur, dan kasur.
Stigma mengenai daster juga tumbuh subur pada ibu-ibu, yang kembali mendiskreditkan ibu-ibu berdaster dan acapkali tanpa riasan dianggap tidak menarik, atau bahkan lebih parahnya lagi ditakut-takuti dengan anggapan bahwa suaminya akan mencari perempuan lain, dengan gaun cantik beserta polesan make up.
Anggapan tersebut telah memecah belah pemikiran perempuan serta mengurangi afirmasi perempuan terhadap dirinya sendiri. Bagi beberapa perempuan dengan kepercayaan tinggi, tentu tidak masalah dan tidak pula ambil beban atas anggapan tersebut. Sedangkan bagi perempuan yang tidak cukup percaya diri, bahkan seorang yang menerima apa adanya, Ia akan mudah terpengaruh dan bisa percaya seratus persen akan hal itu. Bahkan, berlomba-lomba melepaskan kenyamanan demi mengikuti perkataan orang lain.
Sebuah Refleksi Kebebasan
Meskipun daster telah menempel dengan berbagai stigma buruk dan tentu menjatuhkan. Daily wear satu ini tetap saja menjadi idola bahkan junjungan bagi khalayak perempuan, terlalu lebay sih, tapi memang demikian. Memang, kaos potongan terkadang jauh lebih menggiurkan dengan beragam warna dan desain yang kata anak zaman sekarang kiyowo. Tapi, sebagai manusia yang tidak mau ribet, daster selalu menjadi tujuan akhir. Karena saat ini pun, daster telah diluncurkan dengan warna dan desain yang kiyowo pula. Yang mana justru menjadi ajang eksistensi bagi daily wear satu ini, menjadikannya terbingkai sebagai pakaian yang patut dimiliki oleh semua orang.
Saya sempat bertanya kepada para pengguna daster, mengapa mereka menjatuhkan pilihan untuk mengenakan daster. Mayoritas pasti menjawab bagus, nyaman, adem, dan tidak ribet. Lalu, sampailah saya pada salah seorang Kakak saya, Ia pun menjawab, karena kebebasan. Setelah dipikir-pikir, ternyata memang begitu. Dari perasaan nyaman ketika mengenakan, kemudian melebur menjadi kebebasan. Di sisi lain, daster telah menjadi sarana pemersatu Ibu-ibu Indonesia. Hemmmm apalagai kalau di pasar, beuh persatuan kajian tokoh jadi lancar jaya, tanpa gangguan. Ada kekuatan magis yang mempersatukan mereka atas nama kebebasan.
Dan sepertinya, hal itulah yang membuat ibu-ibu atau emak-emak berdaster seolah-olah memiliki kekuatan tersendiri ketika tengah mengenakannya. Seperti seorang wonder woman, seluruh emak di Indonesia terilhami bisa melakukan segala hal secara mandiri serta keluar dari belenggu apapun yang menjerat. Dan nampaknya hal tersebut juga yang menimbulkan istilah The Power of Emak-Emak atau mungkin istilah lucu ini, Emak-Emak adalah ras terkuat di bumi, tiada lawan dan bandingnya. Apapun itu sebutannya, peran yang dilakukan oleh perempuan dan daster tidaklah bisa diukur dengan alat pengukur manapun.
Mau bau bawang, sabun cuci baju, dan lain sebagainya perempuan dan dasternya telah menjadi ikon tersendiri dalam menambah keunikan ragam masyarakat Indonesia. Jadi, untuk meyakinkan kembali kepercayaan diri perempuan yang sering diremehkan hanya karena berdaster, sejatinya tidak seburuk itu. Menjadi perempuan atau Ibu atau Emak yang keren tidak melulu dengan penampilan yang mewah hingga berlebihan. Sederhana saja, asal kalau berkendara mau belok kanan, lampu sein juga harus ke kanan.
Sepertinya jikalau ada power rangers Indonesia, dengan salah satu tokohnya perempuan, daster menjadi pakaian yang tepat untuk merepresentasikan. Dan sepertinya juga, Ia akan menjadi bias idol bagi seluruh Emak Indonesia. Hidup perempuan yang berdaster.
Pendidik, Mahasiswa UAD

Nunun Zulaikha
Keren tulisannya,mengupas keseharian perempuan yang punya gaya tersendiri dalam mengekspresikan kebebasan dengan berdaster.