f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
slow living

Gaya Hidup Slow Living Bagi Seorang Muslim

Apakah Rahmania pernah membaca buku yang berjudul Slow Living karya Sabrina Ara? Sebuah buku yang mengenalkan konsep gaya hidup Slow Living di era yang serba terobsesi pada kecepatan. Slow Living adalah suatu gaya hidup yang menekankan pada melambatnya ritme kehidupan dengan menikmati momen dan lebih memprioritaskan kualitas daripada kuantitas.

Gaya hidup Slow Living awalnya dikenal dengan istilah Slow Food yang diprakarsai oleh Carlo Petrini sebagai bentuk protes terhadap pembukaan restoran cepat saji di Roma. Tujuan utama dari gerakan Slow Food yaitu untuk mempromosikan makanan lokal dan cara menikmati makan dengan perlahan. Namun, seiring berjalannya waktu gerakan ini berkembang dan mencakup banyak aspek dari kehidupan, salah satunya adalah Slow Living.

Hidup bukanlah pelarian, tapi perjalanan.

Slow Living mendorong kita untuk lebih perhatian dengan pengalaman sehari-hari, mengurangi kesibukan yang berlebihan dan menemukan keseimbangan antara urusan pribadi dan urusan bersama. Gaya hidup ini juga mengajak kita untuk merenungi dan menghargai setiap momen tanpa harus tergesa-gesa. Artinya, kita diminta untuk mengerjakan sesuatu bukan berdasarkan pada asal cepat, tetapi sebaik mungkin. Hal ini tentunya akan berdampak pada kesadaran waktu, pengelolaan stress, dan pengambilan keputusan.

Pengaplikasian gaya hidup inimelibatkan beberapa hal, yaitu pengurangan kebiasaan multitasking, bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, menjaga pola makan, dan membangun hubungan yang lebih intens kepada Allah serta ciptaan-Nya. Beberapa hal ini dapat diterapkan dalam berbagai konteks di kehidupan sehari-hari.

Apa yang ditawarkan dari gaya hidup Slow Living?

Sebagai seorang muslim ada tiga point penting yang dapat kita ambil dari gaya hidup Slow Living. Pertama, adalah ketenangan. Tenang karena mengetahui kita tidak harus secepat orang lain dalam meraih sesuatu. Rasulullah Saw bersabda:

Baca Juga  Stigma Cantik di Tengah Masyarakat Dampak Beragam Produk Kecantikan (2)

وَتَعْلَمْ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ

“Hendaklah engkau tahu bahwa apa yang akan menimpamu tidak akan meleset darimu, dan apa yang meleset darimu tidak akan mengenaimu.” (HR. Ahmad no. 20666)

Kedua, istirahat sejenak. Artinya kita dapat memberi jeda kepada sesuatu yang dianggap berlebihan. Boleh jadi berlebihan dalam menggunakan harta, mengerjakan tugas, dan hal lainnya. Tentu karena sikap berlebihan adalah penyebab kerusakan terjadi. Allah Swt berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 31:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Ketiga, serius tapi santai. Dalam gaya hidup ini, manajemen waktu menjadi aspek penting yang harus diperhatikan. Point ini menekankan pada kebijaksanaan dalam mengalokasikan waktu dan energi. Berbeda dengan budaya kesibukan dengan produktivitas yang berlebihan yang akhirnya membuat seseorang merasa burn out.

So, sebenarnya konsep Slow Living bukanlah gaya hidup yang baru bagi seorang muslim. Menurut penulis, segala teori tentang gaya hidup Slow Living memberikan gambaran ideal bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, namun kita tidak perlu merencanakan secara sempurna untuk menerapkan gaya hidup seperti itu. Gaya hidup ini cukup menjadi pengingat bahwa kita tidak perlu terburu-buru dalam mengejar sesuatu. Memang akan lebih lambat, tetapi kita tetap akan sampai pada tujuan. Rahmania, teruslah melangkah dan istirahat sejenak jika lelah, bukan berhenti.

Bagikan
Post a Comment