2023 Berakhir Sebentar Lagi: Yuk Benahi Cara Kita Bercanda!
“Mari kita sama-sama tumbuhkan rasa empati dari diri, sebab tindakan kita merepresentasikan bagaimana cara kita memandang dan menghargai orang lain”.
-Arini Zazky-
Bercanda menjadi sebuah keharusan dalam kehidupan sehari-hari karena dapat mencairkan suasana serta menjalin relasi dan mengakrabkan pertemanan. Bercanda tak pernah luput dari perbincangan, mulai dari bincang-bincang santai di warung kopi hingga di lingkup formal sekaligus. Namun tak semua hal dapat kita jadikan bahan bercandaan. Termasuk salah satunya bercanda yang merendahkan, memberikan pelabelan, menghina, merendahkan, dan mengobjektifikasi seseorang berdasarkan identitas gendernya atau yang kita sebut dengan candaan seksis (humor seksis).
Humor seksis masih eksis bahkan hingga saat ini di mana era teknologi sangat berkembang pesat dan sumber pengetahuan bisa diakses di manapun, meskipun hanya dengan telfon genggam saja. Tapi nyatanya di Indonesia, adanya akses internet yang maju tak membuat orang-orang memiliki kepekaan, termasuk dalam hal bercandaan. Di mana bercanda juga dapat menimbulkan ketidaknyamanan apabila guyonan tersebut tidak layak dilontarkan. Malah adanya internet memunculkan kata-kata baru seperti ”baper” alias bawa perasaan. Hal tersebut membuat orang-orang mengalami ketidaknyamanan, sulit untuk mengatakan atas ketidaknyamanannya karena takut dibilang terbawa perasaan dan dianggap terlalu kaku, serta tidak asyik. Sehingga kerap kali bercanda dijadikan sebagai cara seseorang melakukan perisakan apalagi mendiskreditkan dan mengobjektifikasi identitas gender seseorang.
Humor Seksis dan Seksisme di Lingkungan Sekitar
Humor seksis termasuk salah satu bentuk dari tindakan seksisme. Seksisme sendiri dalam artikel yang ditulis oleh Linda Napikoski di Thought.co “sexism means discrimination based on sex or gender, or the belief that because men are superior to women”. Maksudnya, seksisme merupakan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin atau gender. Seksisme mencakup sikap atau ideologi termasuk kepercayaan, teori dan gagasan yang menganggap satu jenis kelamin (biasanya laki-laki) lebih unggul dari pada perempuan.
Humor seksis ini bisa terjadi kepada siapapun baik laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi perempuan yang lebih rentan menjadi objek lelucon seksis. Seperti halnya yang saya temukan pada saat berdiskusi dengan beberapa kawan baik laki-laki maupun perempuan. Ada perkataan nyeletuk dari teman laki-laki:
“Enak ya poligami, bisa gonta ganti istri. Saat sudah satunya, bisa pindah ke satunya lagi.”
Saya kaget mendengar itu dari kawan yang menurut saya nggak mungkin perkataan itu keluar dari orang yang aktif berorganisasi. Karena saya pikir orang yang aktif berorganisasi memiliki pandangan yang lebih terbuka soal isu ini. Saya sangat merasa nggak nyaman sekali mendengar hal tersebut. Apalagi ditambah sesama laki-laki saling sahut menyahut diiringi tertawa melakukan tindakan objektifikasi kepada perempuan yang dianggap wajar. Padahal perkataan itu termasuk kekerasan verbal. Dan ketika saya berusaha untuk protes saya dianggapnya terlalu terbawa perasaan dan tidak bisa diajak bercanda. Contoh lainnya, saya punya kawan laki-laki yang nggak merokok dan menghindari minum kopi tapi saat kita bergabung dengan kawan lain dan pesan minuman, dia memilih pesan jus buah. Lalu salah satu kawan laki-laki yang lain langsung nyeletuk: “Laki-laki kok nggak minum kopi, cemen”.
Sementara untuk contoh dari tindakan seksisme yang saya alami yaitu ketika saya membahas persoalan pelecehan yang terjadi saya dianggap terlalu memakai perasaan hanya karena saya perempuan. Hal inilah yang membuat apa yang dianggap selama ini wajar akan terus dinormalisasi dan seseorang yang berusaha untuk berbicara atas ketidakyamannya, mengalami kesulitan hingga akhirnya ia tidak berani berbicara. Untuk tindakan-tindakan seksisme yang lain dan bahkan sering kita temui kurang lebihnya seperti ini:
“Laki-laki kok banyak ngomong kayak perempuan aja”!, “marah-marah melulu lagi PMS ya”, “Mbaknya lumayan cantik sih tapi kok nggak nikah-nikah”, “Memang perempuan lebih menggunakan perasaan”, “Perempuan itu ribet”, “Perempuan pantesnya di rumah saja”, “Perempuan yang katanya hanya peduli dengan fisik”, “Catcalling di jalan”, “Mengirim gambar /meme/stiker/video seksis perempuan di Grup whatsaap”, dan“Perempuan nggak cocok jadi pemimpin”.
Seksisme dan Dampaknya
Seksisme yang kerap kali terjadi pada perempuan disebabkan karena adanya anggapan salah satu jenis kelamin lebih unggul dibandingkan jenis kelamin lainnya. Perempuan dianggap manusia tidak kompeten dan cocoknya di ranah domestik. Serta laki-laki yang menganggap dirinya superior akan memperlakukan perempuan seperti menggurui mereka. Sementara Perempuan sendiri seringnya tidak merasa ada yang salah dan menganggapnya hal yang wajar. Adanya seksisme bisa dipengaruhi oleh pola asuh, pengaruh lingkungan sekitar, tontonan di televisi, dan media-media lain serta budaya masyarakat yang mengonstruksi perempuan dan laki-laki untuk bertindak juga berperilaku sesuai dengan aturan-aturan sosial yang terus menerus ditanamkan. Alhasil seksisme langgeng hingga dinormalisasi sampai hari ini.
Seksisme kepada perempuan dapat memberikan dampak, beberapa dampak yang dialami menurut pandangan saya di antaranya: Perempuan dianggapnya tidak punya kemampuan dan hanya mengandalkan penampilan sehingga sering kali cenderung dikesampingkan untuk terlibat di ranah yang sebenarnya mungkin ia bisa lakukan, perempuan digaji lebih rendah, perempuan tidak memiliki ruang aman jikalau tindakan seksisme seperti catcalling di jalan serta adanya rayuan di lingkungan sekitar yang terus dinormalisasi. Mungkin kesannya sepele tapi nyatanya hanya dengan catcalling dapat menyebabkan tindakan-tindakan yang lain. Misalnya perempuan sampai dibuntuti membuat perempuan tersebut punya trauma untuk keluar dan merasa terus-terusan tidak aman. Hingga tidak menutup kemungkinan pelaku melakukan tindakan yang ranahnya masuk ke dalam pelecahan seksual.
Lalu, Apa Kita Tidak Boleh Bercanda?
Bercanda itu sangat diperbolehkan, sebab hidup tanpa ada bercanda seperti masakan tanpa bumbu rasanya hambar. Mari kita ubah cara kita bercanda dengan bercanda yang sehat dan tidak mendiskreditkan seseorang berdasarkan gender tertentu. Seseorang akan lebih mudah menerima humor jika humor tersebut isinya sama-sama terhibur bukan salah satunya merasa tidak nyaman dan merasa disudutkan. Apalagi menjadi objek lelucon seksis yang sebenernya itu bukan lelucon. Hanya karena kita menolak seksisme bukan berarti kita tidak bisa bercanda dan kita hidupnya selalu serius. Zaman sudah mengalami perubahan, para stand up comedy memiliki beragam jenis komedinya bahkan risetnya mereka bukan main. Dalam Islam bercanda juga ada aturannya termasuk tidak diperkenankan bercanda tetapi berdusta, menyakiti orang lain, dan melecehkan kelompok tertentu. Masak 2023 mau berakhir, kita masih terus-terusan sih pakai lelucon jadul?
Seorang perempuan yang gemar melamun ini lahir di kota Pisang pada tahun krisis moneter terjadi di Indonesia. Untuk lebih terkoneksi dengannya, bisa lewat media sosial Instagram @disharerin.
