f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
gadis kretek

Gadis Kretek: Sebuah Refleksi

Biasanya novel berlatar 1960-an itu bagus. Atau jika penilaian “bagus” saya itu sangat subjektif, saya dapat merevisi pernyataan tersebut menjadi sangat laris di pasaran. Yang berarti, banyak orang yang suka membaca dan membelinya. Peristiwa G 30 S PKI yang terjadi pada 1965 itu memang diakrabi oleh semua kalangan.

Kejadian bersejarah itu terus diputar melalui film dan diingatkan ke seluruh lapisan masyarakat setiap tahunnya. Itulah kenapa, beberapa novel yang menyangkut hal tersebut seperti Pulang karya Leila S. Chudori, Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari serta Gadis Kretek karya Ratih Kumala terus relate di masyarakat.

Novel Gadis Kretek yang pertama kali diterbitkan pada 2012 silam pun sedikit banyak berlatar peristiwa tragis tersebut. Karya fiksi ini seakan menunjukkan bahwa tidak hanya ketujuh jenderal saja yang mati tanpa sebab, tetapi banyak warga sipil menjadi korban tak bersalah mati terbunuh dan dihanyutkan begitu saja.

Mulai dari isu kolonialisme, literasi, pengganyangan PKI, kesetaraan gender, perkembangan industri kretek, hingga arsip kota M—yang sudah diduga sebagai Muntilan—kota kecil di kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu pun dibahas dalam novel ini.

Dibungkus dengan kisah cinta yang tak direstui takdir, wacana prinsipil disisipkan sedikit demi sedikit dalam porsi yang pas. Tidak bertele-tele, juga tidak terlalu singkat. Dengan plot maju mundur, cerita dalam novel seakan mendongeng pembacanya. Keseluruhan ceritanya, dapat dirangkum menjadi satu kalimat “kaya akan wangi tembakau dan sarat dengan makna cinta”.

Novel yang sudah mencapai cetakan ketiga belas ini, juga dialihwahanakan menjadi serial Netflix pada 2023 kini. Walaupun serial adaptasi novelnya lebih menyoroti kisah hidup Jeng Yah, sang Gadis Kretek, tetapi sebenarnya novelnya justru cenderung berkisah tentang perjalanan tiga saudara laki-laki, Tegar, Karim, dan Lebas yang berusaha mengurai teka-teki masa lalu romo (ayah) nya. Semua itu mereka lakukan karena di ujung hidupnya, romo seakan masih punya hutang yang belum terbayar, masih ada janji yang belum ditunaikan.

Baca Juga  Dilema New Normal dan Kesiapan Masyarakat

Ketiga bersaudara itu tumbuh dan hidup dari industri kretek milik romonya. Bukan pedagang ecek-ecek, usaha keluarganya itu, Kretek Djagad Raja telah begitu besar dan dikenal di kancah nasional.

Lahir dengan gelimang harta orang tua, ketiga anak itu tumbuh dengan cara yang berbeda. Tegar, sang anak sulung, yang sudah diwanti-wanti sejak kecil untuk meneruskan tahta perusahaan, tumbuh menjadi anak yang lurus, lempeng, dan nggak neko-neko.

Sedangkan Lebas, sang bocah bungsu, hobinya bermain, berpetualang, dan melakukan apapun yang ia suka. Lalu Karim, anak tengah, sebagaimana posisinya, kerap menjadi penengah ketika kakak dan adiknya itu bertengkar.

Karim, Sosok Arsiparis Keluarga

Dari ketiga kakak-beradik tersebut, diam-diam saya mengagumi sosok Karim. Karim adalah Arsiparis sejati keluarga Djagad. Saat kakaknya sibuk dengan urusan perusahaan dan adiknya asyik dengan dunianya sendiri, dia justru dengan cermat mengisi repertoarnya dengan arsip keluarga.

Karim lebih suka mendengarkan eyangnya, Mbah Djagad bercerita mengenai kisah hidupnya. Awal perjalanannya membangun perusahaan kretek, kisah cintanya, dan sejarah keluarganya. Karim, sejak kecil sudah mengamati, mendengarkan, mengumpulkan cerita-cerita keluarganya. Ia mungkin berhak mendapat penghargaan sebagai arsiparis keluarga paling terampil.

Banyaknya cerita yang diketahuinya, justru tidak membuat ia tak acuh terhadap perusahaan keluarganya. Karim menjadi lebih mencintai keluarga dan perusahaannya dengan nilai yang kuat. Serangkaian kisah yang ia cerna membentuk pribadinya, membuat bijak sikapnya, dan menakar setiap tindak-tanduknya.

Bukan semata tanggung jawab semu yang dijalankan karena terpaksa untuk mengurus perusahaan, Karim telah mengenal “akar”nya. Ia tahu bagaimana eyangnya merintis usaha yang bisa menghidupi keluarganya dan ratusan buruh di dalamnya. Ia tahu bagaimana awal mula resep saus kretek didapatkan. Bahkan, ia tahu motif apa yang menggerakkan eyangnya untuk terus maju mengembangkan bisnisnya.

Baca Juga  Belajar dari Gadis Kretek, Perempuan itu Berperan

Dengan mengarsip, Karim tumbuh dengan nilai personal yang ia lekatkan pada keluarga dan usaha kretek keluarganya.

Membuang Stigma Buruk Kretek

Sejujurnya, saya tidak begitu suka dengan asap rokok ataupun kretek. Meski banyak adu pendapat mengenai perbedaan antara kretek dan rokok, mengenai proses pembakaran yang tidak sempurna itu, saya pikir keduanya masih bersaudara. Pokoknya sejak kecil, saya membencinya.

Selain karena bapak saya pernah sakit karena barang laknat tersebut, rokok memang sudah punya stigma buruk di masyarakat. Bagi saya, semua yang serupa dengan rokok, termasuk kretek ataupun klobot, itu sama saja. Sama-sama berasap, sama-sama membuat orang sakit.

Sejak lama pula saya dengar bahwa industri rokok di Indonesia menyerap 5 sampai 6 juta tenaga kerja di Indonesia. Dan kontribusinya yang mencapai lebih dari 90 persen dari total penerimaan bea cukai. Walaupun begitu, saya masih tidak menyukai rokok.

Pikiran saya setidaknya sedikit berubah setelah membaca Gadis Kretek. Ratih berhasil membuat saya—sebagai orang yang tidak merokok dan cenderung membenci asap rokok—lebih toleran terhadap para perokok saat ini. Manusia memang lebih mudah dipengaruhi emosinya melalui cerita.

Bagaimana tidak, novel ini menceritakan bagaimana ratusan ribu orang dapat bertahan hidup melalui kretek. Benda kecil yang saya benci sejak kecil itu, bisa menuntaskan pendidikan seorang anak, menafkahi keluarga, membiayai proses persalinan, dan yang paling membuat hati saya terenyuh, kretek bisa menjadi harapan bagi hidup orang yang sudah putus asa.

Benda kecil yang kerap diasosiasikan dengan penyakit kanker, jantung, dan paru-paru tersebut memang kerap dikutuk habis-habisan. Tetapi, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa ada jutaan keluarga menaruh harapan hidup dari sana.

Baca Juga  Pandemi Covid-19 Mengingatkan Pentingnya Pendidikan Karakter

Setelah selesai membaca novel ini, saya berduka dan berefleksi. Berduka atas kejadian yang terjadi pada para leluhur yang menjadi korban tak bersalah. Juga berefleksi terhadap eksistensi kretek yang tidak lagi perlu dibenci, dikutuk, dan diperdebatkan begitu hebat. 

Jika kretek saja bisa menjadi harapan hidup jutaan orang, siapa saya yang belum bisa memberi apapun bagi banyak orang di luar sana?

Bagikan
Post a Comment