Sebuah Lorong, Dua Nenek dan Panti Jompo (2)
Oleh : Fatma Ariana*
Cita-cita Tinggal di Panti Jompo
Bagaimanapun, tak ada orang yang bercita-cita tinggal di panti jompo. Panti jompo adalah pilihan terakhir. Apalagi pilihan dibuang tadi, jelas tak ada orang yang menginginkannya. Tapi di dunia yang makin tua ini, makin banyak penghuninya yang tak lagi memiliki cinta dan perhatian, bahkan kepada orang tua sendiri.
Banyak orang yang sukses jadi orangtua, tapi lebih banyak yang gagal menjadi anak. Apalagi bukan hal mudah merawat orang jompo, butuh kesabaran ekstra karena makin tua mereka, makin kembali sifat-sifat kekanakan mereka. Apapun itu, bukan hak saya menghakimi manusia dan dunia yang tak lagi mempedulikan para manula.
Benarkah para manula di panti jompo adalah orang-orang terbuang? Jawabnya tidak sepenuhnya benar. Banyak hal yang menyebabkan orang harus tinggal di panti jompo. Ada yang memang sebatang kara, cerai dengan suami dan tidak punya anak, anak dan suaminya sudah lebih dulu pergi ke alam baka, atau keadaan ekonomi anaknya tidak memenuhi syarat untuk ia ikut tinggal bersama mereka, atau kemungkinan terburuk tadi : dibuang.
Kerinduan Seorang Ibu dan Nenek
Hanya sedikit yang beruntung bisa sering-sering dikunjungi anak-cucunya sementara yang lain hanya bisa berharap dari kunjungan sosial.
Meski keadaan di panti cukup layak, kadang terenyuh juga mendengar cerita mereka. Sakit kepala dan rematik di pinggang dan kaki agaknya jadi momok yamg paling sering menghantui kesehatan mereka.
Ada seorang nenek yang sedang sakit saat itu, ketika masih ada acara di aula dia sudah minta pulang ke kamarnya, kepalanya pusing, kakinya pegal, badannya panas dingin, dan ada bintik-bintik kecil yang gatal di perutnya. Ketika saya tanya sudah minum obat belum, dia jawab obatnya tidak ada. Ketika saya tanya apa ia sudah ke dokter; dia jawab “teu gaduh artos” berlanjut dengan keluhan-keluhan lain dalam bahasa Sunda yang sayangnya hanya bisa saya tangkap sedikit maksudnya.
Satu yang pasti, mereka sangat senang jika dikunjungi, beberapa kali pertanyaan “Eneng mau berapa hari di sini?’ cukup mewakili hal itu. Belum lagi tangis mereka saat kami –peserta bakti sosial– harus pamit, mereka tampak berat melepas kami, seolah-olah kami ini cucu asli mereka.
Saya juga berat meninggalkan mereka karena terus terang mereka –para eyang ini– mengingatkan saya pada sosok yang tak pernah saya temui lagi 2 tahun terakhir ini. Sosok yang dulu lebih dekat dan lebih banyak mengisi masa balita saya . Sosok yang menggendong saya kemana-mana dan meninggalkan kenangan tentang payung-payungan dari kertas, buah srikaya dan buah mentega. Sebuah kenangan akan masa kecil yang manis.
Mengingatkan saya pada rambut putih, mata abu-abu dan kulit keriput nenek saya yang meninggal dunia 2 tahun lalu. Juga mengingatkan saya pada sosok kakek yang tak sempat saya miliki karena mereka keburu dipanggil Pemiliknya sebelum saya lahir ke dunia.
Kunjungan yang Berarti
Kunjungan kita, walau sejenak, setidaknya cukup membuat para eyang ini merasa berarti dan tidak merasa sendirian dan kesepian di dunia ini. Ketidakberdayaan mereka justru bisa dijadikan bahan renungan bagi kita. Apa yang sudah kita lakukan saat Allah masih memberi semua kemudahan bagi kita : usia muda, kesehatan dan kekuatan?
Apa yang seharusnya kita lakukan agar orang tua atau eyang kita sekarang atau nanti? Tidak menangis tiap hari menyesali ketidakbergunaannya seperti kisah nenek kedua di lorong belakang kos saya dan tidak merasa terbuang seperti Mamah Enin di panti jompo?
Bahan renungan bahwa tidaklah penting panjang pendeknya usia seseorang. Tapi yang lebih penting lagi adalah arah dan kualitas hidup itu sendiri. Kehidupan yang berlarut-larut tanpa arah dan tujuan yang jelas, justru akan menjadi beban sejarah ketimbang kebanggaan. Kalau sudah begini, sebuah ungkapan dari sajak Chairil Anwar : “Sekali berarti setelah itu mati” agaknya lebih pantas jadi pilihan.
*)Penulis adalah seorang ibu yang senang bercerita lewat tulisan
Seorang ibu yang senang bercerita lewat tulisan, ASN di Pemkab Magetan.
