Keteladanan Yusuf dalam Pusaran Pilkada 2020
Islam menaruh perhatian yang sangat besar terhadap aspek sejarah. Meskipun secara sadar kita melihat bahwa Al-Qu’ran sebagai pedoman Islam bukanlah kitab kesejarahan. Meminjam kerangka Murthada Muthari, dalam Al-Qu’ran problem kesejarahan tidak di bahas secara teknis kesejarahan. Namun setidaknya, kita dapat mengambil dari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Al-Qu’ran telah banyak mendorong orang-orang supaya menyimak perjalanan umat manusia masa lalu agar diambil pelajaran dan hikmahnya untuk kehidupan di masa mendatang.
Sebagai bahan refleksi sejarah, kisah Nabi Yusuf memberikan keteladanan yang cukup luar biasa. Yusuf dikisahkan di dalam Al-Qu’ran sebagai personifikasi keadilan dan kemakmuran berkat kemampuanya memandang jauh ke depan. Kisah hidupnya semasa muda teramat sukar di buang oleh saudara kandungnya sendiri. Al-Qu’ran merekam kisahnya demikian,
“Sesungguhnya yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang Kuat). Sesungguhnya ayah kita dalam kekeliruan yang nyata
“Bunuhlah Yusuf atau buanglah ke suatu daerah (yang tidak dikenal) supaya perhatiaan ayahmu tertumpah padamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang baik”
“Seorang diantara nereka berkata : Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukanlah dia ke dasar sumur supaya dia di pungut oleh sebagian musafir, jika kamu hendak berbuat” (Yusuf: 8-10)
Atas seizin Allah tidak beberapa lama Yusuf muda yang ada di dalam sumur terselamatkan oleh kafilah yang hendak mengambil air. Mereka menjadikan Yusuf sebagai tawanan sekaligus budak untuk dijual di negeri Mesir. Seorang pejabat mesir bernama Kiftir telah melakukan transaksional dengan kafilah menjadikan Yusuf sebagai budak. Namun Pada akhirnya, Yusuf diberikan kepada Zulaikha untuk diangkat sebagai anak angkat karena Zulaikha tidak memiliki keturunan.
…
Yusuf beranjak dewasa, wajahnya yang tampan dan perangai baiknya kembali tuhan uji dengan godaan wanita. Zulaikha gadis bangsawan memiliki hasrat seksual lebih padanya, syahwat angkara murka dalam dada Yusuf sebenarnya mulai tumbuh, tetapi Yusuf mampu dengan berani memotong dan menanggalkan godaan duniawi. Meski dipenghujung konflik ini Yusuf di hujani fitnah, dia lebih ridho mendekam di penjara.
Nabi Yusuf telah melewati fase-fase terberat dalam hidupnya, pembuangan Yusuf kedalam sumur tidak sedikit pun membuat Yusuf dendam pada sanak saudara sedarah. Dia sebegitu tulus, memaafkan dosa-dosa masa lalu orang-orang terdekat. Ketinggian moralitas Yusuf tergambar jelas menolak melakukan hubungan badan dengan gadis bangsawan cantik bernama Zulaikha.
Di masa kepemimpinan Yusuf, bangsa mesir dihadapkan oleh situasi mencengkam krisis pangan berkepanjangan. Peradaban manapun mungkin saja tenggelam dilahap paceklik ketika tidak memiliki srategi ketahanan pangan. Batas kestabilan negara salah satu kuncinya adalah stabilitas stok pangan. Pangan merupakan kebutuhan yang dasar bagi manusia. Al-Qu’ran menjelaskan bagaimana yusuf mengdahadapi kondisi hal ini
“Yusuf! Wahai orang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang di makan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.”
“Yusuf berkata: “Supaya kamu bercocok tanam tujuh tahun(Lamanya) sebagaimana biasa ; maka yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan “.
“Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari bibit gandum yang kamu simpan”
…
Srategi Yusuf dimulai dengan seruan revolusi hijau, dia mengetahui secara rinci sumber kuat dari serangam krisis adalah kekuatan ekonomi. Kerangka ekonomi yang di bangun nabi Yusuf mengacu kepada sedia payung sebelum hujan, antipasi dampak kelaparan dan kemiskinan ketika negaranya diserang paceklik.
Menjelang Pilkada 2020, kita mengharapkan sosok Yusuf baru dan memberikan keteladanan. Di tengah pusaran pandemi menuju resesi ekonomi, masyarakat menanti wakil rakyat yang memiliki ilmu solutif demi tercapainya kemajuan. Nabi Yusuf memberikan keteladanan kepada kita tentang salah satu prasyarat pertumbuhan demokrasi. Selain pemberdayaan kelompok masyarakat, hubungan internasional yang lebih adil dan seimbang.
Prasyarat pertumbuhan demokrasi dimulai dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi rakyat secara keseluruhan. Semakin sejahtera ekonomi sebuah negara, maka semakin besar peluangnya untuk mengembangkan dan mempertahankan demokrasi.
Pilkada secara langsung memiliki relasi yang sangat erat dengan kedaulatan rakyat. Dengan adanya pilkada, rakyat dapat menentukan sendiri pemimmpin di daerahnya, sehingga terjalin hubungan kepala daerah dengan rakyat yang dapat terwujudnya pemerintahan yang demokratif dan partisipatif. Sosok kepemimpinan Nabi Yusuf sebagai jalan keluar semoga lahir kembali dari rahim pilkada 2020 sebagai solusi pandemi dan ujung jurang resesi ekonomi.

Pengelola Tambo Pustaka, Taman Baca Rumah Ilmu dan Mahasiswa jurusan Falsafah & Agama
