f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
syafii maarif

Buya Syafi’i Ma’arif, Dedikasi Tiada Henti Menyemai Kebudayaan dan Kemanusiaan untuk Negeri

Bila ada pertanyaan, “Mana yang lebih mudah, menjadi toleran atau intoleran?” Maka untuk sementara ini–harus diakui, menjadi intoleran lebih mudah dari pada menjadi toleran. Tindakan intoleransi seperti kekerasan, intimidasi, fitnah, hate-speech, penyerangan sebuah kelompok terhadap kelompok lain, hingga terorisme telah menjadi laku sebagian kelompok. Telinga kita jelas tak asing lagi mendengar nama Buya Syafii–panggilan akrab Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif.

Salah satu dari “Tiga Pendekar dari Chicago” ini dikenal sebagai tokoh lintas agama yang tak pernah lelah menyerukan toleransi dan kemanusiaan di negerinya. Pemikirannya pun membuka pintu gerbang cakrawala keilmuan bagi para penerus bangsa.

Selain dikenal sebagai tokoh lintas agama, cendekiawan cum mantan Ketua PP. Muhammadiyah (1998-2005) ini juga dikenal sebagai Guru Bangsa. Sepeninggal tokoh-tokoh besar seperti Prof. Nurcholish Madjid dan KH. Abdurrahman Wahid, mungkin hanya Buya Syafii-lah yang kini menjadi guru bangsa yang tersisa–tanpa bermaksud menafikan nama dan tokoh lainnya.

Mengabdi untuk Kemanusiaan

Selain dikenal sebagai akademisi yang mumpuni dalam bidang sejarah, sejarawan yang lahir pada tahun 1935 di Sumpurkudus, Sumatera Barat ini juga terlibat aktif dalam mengadvokasi golongan-golongan minoritas. Ia merupakan tipikal intelektual yang tidak betah berdiam lama-lama dibalik tembok kampus.

Jiwanya senantiasa resah dan tak pernah lelah untuk senantiasa menyampaikan gagasannya tentang Islam yang rahmatan lilalamin. Sosoknya yang pluralis, inklusif, dan toleran acapkali memicu pro-kontra atas keputusan yang diambilnya.

Kendati demikian, Buya Safii tak ambil pusing, ia faham betul bahwa semua itu adalah konsekuensi logis dari apa yang diyakini dan diperjuangkannya selama ini.

Melalui tulisan-tulisannya, Buya banyak berbicara tentang nilai-nilai kemanusiaan universal, nasehatnya kepada generasi penerus bangsa sangat mencerahkan. Seperti pesannya pada acara purna santri Muallimin tahun 2008:

“Jadi pemimpin itu sangat berat, tapi mulia dan menantang. Pelajari riwayat pendiri negara, agar tahu kenapa bangsa dan negara kita harus merdeka. Jadikan politik untuk menegakkan keadilan, bukan mata pencaharian. Kita harus mampu bergaul dengan siapa saja, bahkan yang mengaku tidak beriman.

Baca Juga  Bersaksi

“Lakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di manapun. Jadilah ikan laut, hidup di air yang asin tapi tidak dengan dagingnya. Ketika kondisi negara tidak baik seperti saat ini, tidak cukup hanya dengan membantu. Berkemajuan adalah memperbanyak kawan dan meniadakan musuh. Di semua unit peradaban, minoritas yang berkualitas adalah penentu. Perbanyak membaca, merenung, dan menulis.”

Menjunjung Tinggi Nilai-nilai Kemanusiaan

Moh. Shofan dalam Merawat Kewarasan Publik: Refleksi Kritis Kader Intelektual Muda tentang Pemikiran Ahmad Syafi’i Ma’arif  (2018) menuliskan bahwa, cerita kehidupan buya adalah cerita keteladanan, cerita seorang cendekiawan dengan kepribadian yang humanis, yang memandang bahwa setiap manusia harus dihormati sebagai seorang manusia seutuhnya, bukan karena dia bijaksana atau tolol, baik atau jelek, dan tanpa memandang agama, ras, suku, bahasa, atau budaya.

Humanisme, lanjutnya, adalah pilar utama agama, dan tiada agama tanpa humanisme. Agama yang humanis pastinya menempatkan harkat dan martabat yang tinggi pada manusia. Dan Islam, jelas Buya, adalah agama yang paling banyak bercerita tentang keluhuran budi manusia.

Menjadi mansia adalah undangan Tuhan untuk berbuat baik kepada sesamanya. Seperti ini pula yang dikumandangkan oleh Giovanni Pico della Mirandola (filsuf humanis zaman Renaissance), Hermes Trimegistus, Asclepius (filsuf Yunani kuno) tentang manusia.

Pemikiran Egaliterianisme Islam Buya Syafii

Amirullah dalam Merawat Kewarasan Publik (2018) menyatakan bahwa, secara substantif, Islam sebagai agama tauhid mendeklarasikan pesan egaliter untuk mengibarkan panji-panji persamaan dan keadilan bagi kepentingan manusia. Tauhid menjadi sumber dari egaliterianisme itu sendiri.

Dalam pemikiran Buya, umat manusia punya sisi yang sama di hadapan Tuhan dan sejarah. Bila di sana-sini tampak perbedaan, hal tersebut–di mata Buya–adalah karena yang satu berhasil mengembangkan potensi fisik dan ruhaninya, sedangkan yang lain menelantarkan potensi itu dengan sia-sia. Perbedaannya hanyalah terletak pada persoalan prestasi. Landasan etis inilah yang turut memperkuat keyakinan Buya tentang arti pentingnya egaliterianisme.

Pandangan Buya Syafii yang berbasis pada tauhid ini memiliki kesamaan sekaligus dipengaruhi oleh pemikiran Muhammad Iqbal. Iqbal sendiri dalam karyanya The Reconstruction of Religious Thought in Islam, menyatakan bahwa intisari tauhid adalah persamaan, solidaritas, dan kebebasan. Artinya, meskipun bersifat teosentris tapi doktrin tauhid membagun kesadaran untuk mengaktualisasikan kehendak Tuhan untuk membangun tatanan kemanusiaan yang lebih baik.

Baca Juga  Balada Toleransi Antara Anak dan Ayah Bunda

Dengan kata lain, di dalam ajaran tauhid mengandung nilai kebebasan (liberty), persaudaraan (fraternity), hingga persamaan (equality). Pendapat semacam ini juga mendapat penegasan dari cendekiawan Kuntowijoyo. Menurutnya, Islam adalah sebuah humanisme, yaitu agama yang sangat mementingkan manusia sebagai tujuan sentral. Baginya, pusat keimanan Islam memang Tuhan, namun ujung aktualisasinya adalah manusia.

Jalan Terjal Buya Syafi’i Ma‘arif

Dalam kerja-kerja kemanusiaannya, seringkali Buya membela orang-orang yang terdesak oleh karena ulahnya yang dianggap menyimpang. Dari pembelaan-pembelaan itulah, Buya kerap disalahpahami. Berbagai cercaan, umpatan, hingga hinaan pun ditujukan kepadanya.

Tak hanya dikecam, banyak tulisan liar dan pernyataan pendek di media sosial yang memintanya agar segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Seperti kasus Ahok beberapa waktu silam misalnya, Buya dianggap kafir karena membela orang kafir. Bahkan, mereka menuduh Buya telah “dibeli”. Namun, di sinilah letak keagungan akhlak Buya. Ia lebih memilih untuk tetap teguh dalam pendirian dan memberi maaf kepada mereka yang telah menghujatnya. Sebab Buya menyadari–sebagaimana pepatah Arab–bahwa, “Manusia adalah musuh apa saja yang tidak (belum) dipahaminya.”

Dalam melakukan advokasi terhadap kalangan minioritas, Buya berpesan kepada generasi muda, bahwa harus ada keberanian untuk melakukan terobosan dengan berpijak atas dalil-dalil agama yang dipahami secara benar dan cerdas, tekstual sekaligus kontekstual. Buya ingin agar Islam di Indonesia adalah sebuah Islam yang ramah, terbuka, inklusif, dan mampu memberi solusi terhadap berbagai persoalan bangsa dan negara.

The Next Ahmad Syafi’i Ma’arif

Usia Buya memang telah memasuki masa senja. 85 tahun sudah seluruh waktu, tenaga, dan pemikirannya tentang kebudayaan, kemanusiaan, dan toleransi telah dipersembahkannya, semata-mata untuk menjaga keutuhan, persatuan, dan kedaulatan negerinya.

Baca Juga  Buya Syafii dalam Catatan Perempuan Agen Perdamaian

Dalam rangka menjaga nafas gerakan, pemikiran kritis, dan sikap moral-intelektual seorang Ahmad Syafi’i Ma’arif, maka diperlukan regenerasi di kalangan muda, terutama yang berasal dari berbagai pelosok daerah di Indonesia. hal ini dimaksudkan tentu saja untuk menggerakan gairah intelektual generasi muda di tingkat lokal serta membentuk jaringan intelektual atau aktivis yang mampu merespon permasalahan sosial-kemanusiaan.

Dalam wawancara bersama mojok x Gusdurian Jogja perihal siapa penerus pemikiran Buya Syafii atau the next Buya Syafii, Buya menjelaskan bahwa banyak dari kalangan muda yang mewarisi pemikirannya seperti Zuhairi Misrawi, Ahmad Nadjib Burhani, M. Abdullah Darraz, Hasibullah Satrawi, dan masih banyak lagi anak muda yang mewarisi dan terus mengkaji pemikiran Buya.

Hal ini bisa kita temui pada buku terbitan Maarif Institute, di mana dalam buku tersebut merupakan sekumpulan refleksi kritis kader muda selama mengikuti Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Ma’arif (SKK-ASM) tentang pemikiran Buya Syafii dan tentu tidak hanya dari kalangan Islam saja, melainkan juga dari kalangan non-muslim pun turut mengkaji sekaligus mengapresiasi pemikiran Buya Syafii terhadap kerja-kerja kemanusiaannya.

Arkian, dalam pengabdiannya pada negeri, Buya selalu menekankan bahwa setiap manusia haruslah dinamis, memberi rasa keadilan, keamanan, dan perlindungan bagi setiap manusia tanpa pandang bulu.

Kepada generasi muda ia berpesan, “Sebagai orang tua, saya berpesan agar generasi yang akan datang kemudian mau belajar sejarah nasional. Jangan sampai membiarkan bangsa dan negara ini berkuah darah lagi dalam sengketa sesama saudara.”

Maka dengan ini, aku, kamu, kita semua sudah seharusnya saling mengasihi, menghargai, dan menghormati sesama kita. Seperti yang pernah dikatakan Ali R.A, “Jika kita tidak sama dalam pemahaman, kita bersaudara dalam iman. Jika kita tak sama dalam iman, kita bersaudara dalam kemanusiaan.”

Bagikan
Post a Comment