f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sepi

Belajar Mengobati Sepi dari “Yang Terutama”

Buat Rahmania, yang hatinya lagi dingin, akibat tertular dingin dan bebalnya hati Pemerintah dan DPR, yang berniat menggolkan RUU Ciptaker, mungkin lebih baik kamu menonton tayangan iklan berjudul “Yang Terutama” di youtube . Iklan dari sebuah marketplace di Indonesia itu, dapat dikategorikan sebagai iklan yang mengandung bawang, ‘so touchy’ dan relate banget dengan kehidupan keluarga di tengah masa pandemi seperti sekarang ini.

Cocok buat mengasah kembali hati nurani yang terus menumpul, akibat terpapar virus ‘tiada mendengar suara rakyat’ di masa pandemi. Memang, belakangan ini iklan-iklan negeri sendiri mulai berkibar, menyaingi dominasi pariwara-pariwara  ‘menyentuh’ dari negeri Thailand

Iklan yang ceritanya dibikin oleh koh Edward Suhadi dan tim @ceritera_id tersebut, berkisah tentang seorang anak, bernama Pepi. Dia harus pulang ke rumah orang tuanya, gegara sang ayah divonis positif corona dan harus diisolasi di rumah sakit. Di perbincangan awal dengan Mbak Yaya, kita dapat mengerti bahwa Pepi adalah seorang wanita karir yang selama ini begitu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga ia jarang pulang. Kalau pun pulang, ia tak bisa berlama-lama. Seperti dituturkan Mbak Yaya, selepas kepergian sang Ibu, hubungan Pepi dan ayahnya menjadi renggang, karena di antara keduanya tidak ada yang mau mengalah.

Kisah dalam Iklan “Yang Terutama”

Pandemi covid-19 mengakibatkan banyak hal berubah. Sang ayah terpapar virus corona, walau bergejala ringan. Akibatnya, mau tak mau Pepi harus pulang untuk menunggui rumah, sampai sang ayah sembuh dan diperbolehkan pulang. Saat menunggui rumah, Pepi mendapati banyak ‘masalah‘. Mulai dari kran air yang kaku dan macet, lampu kamar yang belum terpasang, buffet yang berdebu tebal, sampai tanaman-tanaman hias yang layu akibat tak terurus dengan baik.

Pepi pun berinisiatif untuk memperbaiki beragam kerusakan tersebut. Ia mengganti kran sendiri, memasang lampu, membersihkan kotoran-kotoran di ruang tamu, mengganti kain pembungkus bantal kursi, menambah tanaman-tanaman hias, sampai melengkapi berbagai perlengkapan dan bumbu dapur. 

Alhasil, saat sang ayah pulang, kondisi rumah sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Itu baru soal perbaikan fisik rumah. Tentang relasi dalam hidup bertetangga, para tetangga juga menyambut kepulangan sang Bapak dengan baik. Mereka tidak menganggap penyintas corona sebagai sosok yang harus dihindari. 

Sepi

Selanjutnya, perbaikan bagian yang paling penting dan mendasar adalah menyangkut relasi antara ayah dan anak. Momen kaku sempat terlihat saat mereka berbincang dan menjaga jarak, terlebih saat HP Pepi berdering. Sang ayah sudah mempersilakan Pepi untuk kembali ke kota demi pekerjaannya. 

“Nduk, Bapak itu sudah sehat, kalau kamu mau balik ngurus kerjaan, ya nggak papa”, kata Bapak.
“Kalau boleh, kali ini aku mau tinggal di sini lebih lama, Pak”, jawab Pepi.
“Ya pasti boleh. Bapak itu lebih senang kalau kamu tinggal di rumah,” kata Bapak sambil terbata-bata menahan air mata.
“Sepi….”, lanjut Bapak, kali ini tangisnya pecah.

Saat melihat tayangan iklan ini, saya teringat pada sebuah kata. yaitu ‘geriatri’. Melansir info dari situs halodoc.com, geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang berfokus pada penanganan, diagnosis, serta pencegahan penyakit dan gangguan kesehatan yang menyerang kalangan lansia. Geriatri berasal dari bahasa Yunani, geron yang berarti orang tua, dan teria yang artinya penanganan terhadap penyakit.

Ayah saya, tiap bulan harus kontrol ke klinik penyakit dalam dan geriatri (dokternya sama), sehubungan dengan riwayat tensi tinggi, lambung kronis, serta potensi diabetes. Belakangan, kadar HB ayah beberapa kali turun, sehingga harus diopname selama beberapa hari, untuk mendapat perawatan serta transfusi darah di rumah sakit. 


Kondisi orang tua, di atas 60 tahun, memang sangat rentan dengan berbagai penyakit. Mulai dari penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan buruk di masa muda, maupun yang disebabkan daya tahan tubuh yang menurun. Ditambah lagi, di tengah situasi pandemi seperti sekarang ini, para orang tua sangat rentan untuk terpapar beragam virus.

Ingatlah Orang Tua yang Sering Merasa Sepi

Sebagai anak, tentu saja saya memiliki beragam mimpi maupun proyek yang ingin dikerjakan; sebagai bukti eksistensi diri, mengingat saya masih tergolong usia produktif. Contohnya saja, dalam dunia menulis, saya ingin selalu mengikuti isu-isu terkini, dan memfokuskan diri menulis tentang isu-isu tersebut, sukur-sukur bisa masuk media online, seperti Rahma.id.

Namun, seperti judul iklan tersebut, “Yang Terutama”, kita perlu menurunkan sejenak ego dalam diri. Kita perlu mengalihkan fokus dan energi kita untuk yang terutama terlebih dahulu. Ya, kadang kita lupa, ada orang tua yang begitu kesepian di rumah, di saat kita mencari penghasilan di tanah rantau. Ia harus menjalani hidupnya dalam sepi, menyelesaikan tiap permasalahan di rumah, sendirian.

Kalau toh kita tak dapat mengobati penyakit orang tua kita, setidaknya kita bisa sedikit mengobati kesepian yang mereka derita, mumpung semuanya belum terlambat. 

Daripada terlalu sibuk mikirin dagelan Pamerintah dan DPR yang terhormat, tak ada salahnya, setelah selesai membaca tulisan ini, kita menyisihkan (bukan menyisakan) waktu sejenak untuk melakukan panggilan suara ataupun video, menanyakan kabar orang tua kita. Ya, tho?

Bagikan
Comments
  • Daniel Hendrawan

    Terimakasih bang Yesaya.. GBU.

    Oktober 14, 2020
Post a Comment