Kemajuan Teknologi Tak Membuat Adab Tergerogoti
Aku masih merenung usai menonton potongan video yang di luar dugaan dan merasa tak bisa menerima peristiwa seperti itu terjadi padaku. Tentang gadis kecil yang mengamuk dan mengancam keselamatan ibunya lantaran tak mampu menuruti permintaannya karena keterbatasan ekonomi. Beruntung ada orang lain yang sempat melihat insiden itu sehingga ibunya masih bisa diselamatkan.
Sementara di tempat lain ada seorang remaja tanggung yang tiba-tiba nyelonong masuk ke rumah orang tanpa permisi untuk memaki ibunya yang saat itu sedang bertamu ke rumah tersebut. Dengan suara yang lantang sambil merebut ponsel dari tangan ibunya tanpa memedulikan yang punya rumah. Ia marah-marah hanya karena tak punya kuota sedang ponsel ibunya tidak ditinggal untuknya. Miris.
Anak-anak semacam ini_adabnya bermasalah_kebanyakan tidak menghormati orang tua, tak mau menerima nasihat bahkan berani melawan dan membangkang. Mereka seringkali berbuat di luar batas hanya karena masalah sepele. Seperti ketika tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan dan tidak mau tahu orang tuanya mampu atau tidak. Sopan santun nyaris tidak ada meski terhadap orang yang harus dihormati.
Fenomena ini sangat memprihatinkan dan ini terjadi karena berbagai faktor seperti pengaruh media sosial, kurangnya pendidikan karakter sejak dini, dan perubahan nilai-nilai sosial kemasyarakatan, juga teladan dari keluarga sendiri yang minim. Dengan menerapkan pendidikan karakter di usia dini dari lingkungan keluarga, diharapkan anak-anak memiliki perilaku yang positif, berakhlak baik serta hormat kepada orang tua dan guru.
Tumbuh kembang seorang anak tidak bisa lepas dari keluarga dan lingkungannya. Maka sangat penting bagi orang tua maupun pendidik untuk memperhatikan pendidikan karakter anak-anak mereka. Dari orang tua diajarkan tentang nilai-nilai positif seperti saling menghormati, disiplin, dan empati, serta memberikan contoh yang baik dalam berperilaku. Jika lingkungan sekitar tidak mendukung, orang tua harus mampu menyaring, memilih, dan memilah mana yang terbaik untuk anak-anaknya.
Cerita di atas hanyalah secuil dari sejumlah cerita tentang adab atau etika yang kini semakin langka dan seolah sulit ditemui dalam kehidupan masyarakat sehari-hari saat ini. Bukan karena masyarakatnya yang sudah tidak beradab atau tak mengenal peradaban, tetapi nilai-nilai peradaban itu sendiri kini bergeser tergerus oleh kemajuan teknologi yang disalah arti.
Seiring berkembangnya zaman, kemajuan teknologi sudah pasti mengiringi dan ada kemajuan pula di bidang-bidang lainnya. Media sosial salah satunya. Memang tidak semua anak terkontaminasi atau terdampak efek negatif kemajuan zaman terutama di media sosial. Namun, kewaspadaan tetap menjadi hal yang sangat penting ketika mereka berhadapan dengan sesuatu yang luar biasa di mata mereka. Sesuatu yang serba indah, mudah, menarik, dan menyenangkan sekaligus nyandu sehingga membuat ketagihan.
Digitalisasi merambah ke hampir semua lini yang mampu melahirkan segala sesuatu menjadi serba mudah dan praktis. Media sosial dan digitalisasi sangat erat hubungannya yang memungkinkan para penggunanya untuk berinteraksi dan berbagi informasi. Dari usia balita yang hanya mampu melihat gambar-gambar tanpa mengetahui maksudnya hingga manula yang gaptek, kini dengan mudah memperoleh berbagai informasi dari media sosial.
Berbagai konten di media sosial tak terhitung jumlahnya dengan segudang akses yang memuluskan menuju ke sana. Tak terhitung pula berapa juta kali dilihat oleh pengguna. Ketika tidak semua konten mampu mengedukasi, orang tua dituntut untuk selektif dalam memahami berbagai tayangan entah itu ditujukan kepada orang dewasa, remaja maupun anak-anak. Di saat yang bersamaan jutaan mata justru sudah terlanjur menangkap tanpa mampu memilih mana yang harus ditonton mana yang tidak.
Pengguna media sosial kategori dewasa saja kadang terkecoh apalagi bagi anak-anak yang belum sepenuhnya mengerti informasi macam apa yang mereka dapatkan. Hal-hal negatif yang terpaksa sering mereka lihat akan dengan sangat mudah mereka tiru maupun mereka telan mentah-mentah. Bisa jadi karena belum mampu mencerna setiap tayangan di media sosial atau malas untuk mencerna. Memahami maupun mencerna dengan teliti harus berpikir panjang sedangkan mereka lebih menyukai yang instan.
Nah, lagi-lagi orang tua wajib terlibat. Bukan malah melakukan pembiaran ketika buah hati kena dampak media sosial sehingga melakukan sesuatu yang melewati batas kesantunan. Hanya karena masih kecil atau belum terlalu mengerti tentang adab lalu ada sedikit toleransi dengan alasan usia. Tentu tak sesimpel itu masalahnya. Adab, etika, sopan santun, atau apa pun istilahnya wajib diajarkan kepada anak sedini mungkin.
Anak-anak yang minim adab cenderung memiliki perilaku yang agresif, tidak dapat mengontrol emosi, dan sulit berempati dengan orang lain. Apalagi jika sudah berani marah-marah dan memaki orang tua di muka umum merupakan hal yang patut disayangkan. Mungkin ada yang salah dengan metode pendidikan yang diterapkan di rumah.
Kesempatan yang diberikan saat anak bermedia sosial juga perlu ada batasan. Di sesuaikan dengan usia, kebutuhan yang ada hubungannya dengan kegiatan di sekolah, maupun sekadar hiburan di hari libur. Orang tualah yang lebih tahu karakter masing-masing anak. Tidak bisa tidak, sedikit atau banyak konten-konten kekinian di media sosial pasti berpengaruh pada karakter anak. Butuh kerja sama antara orang tua, guru dan masyarakat demi tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kesantunan sehingga adab dan budi pekerti tak tergerogoti.

Seorang ibu rumah tangga dengan 3 anak, masih aktif di ‘Aisyiyah Donorojo Jepara.
