f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perbedaan pernikahan

Menyusupi Kubangan Perbedaan Menuju Kemaslahatan Pernikahan

Seperti kita ketahui bahwasanya Al-Qur’an menjadi pentunjuk dan pedoman bagi umat Islam. Al-Qur’an mengajak umat manusia untuk berlomba-lomba meraih kebaikan terhadap sejumlah  nilai moral dan kemanusiaan. Secara historis, jika kita menilik dari sejarah sebelum adanya Islam; keberadaan dan kehadiran baginda Rasulullah saw serta agama Islam di dalamnya telah mengangkat derajat perempuan.

Berbicara tentang kesetaraan dalam perkawinan, berarti juga berbicara tentang bagaimana suami melihat istri sebagai apa. Maksudnya adalah apakah istri hanya sebagai objek seksual atau fisik yang berfungsi untuk memenuhi kepuasan birahi semata? Atau juga melihat istri sebagai objek intelektual dan spiritual? Maka di sini perlu dipahami, kesetaraan dalam sebuah pernikahan apabila suami tidak hanya melihat sebagai objek seksual, tapi juga objek intelektual dan spiritual.

****

Allah berfirman dalam QS.Al-Hujurat(49):13 yang sering dilantunkan pada acara pernikahan,

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ – ١٣

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

Dari ayat di atas kita dapat mengetahui bahwasanya tidak ada yang membedakan kedudukan antara laki-laki dan perempuan; yang mana semua itu bertujuan untuk saling mengenal. Pada hakikatnya, tujuan dari sebuah perkawinan adalah menjadi sebuah keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah. Seringkali juga kita mendoakan kepada kedua mempelai “semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah”.

Kata sakinah berarti sebuah ketenangan jiwa atas segala kebutuhan yang terpenuhi baik psikologi, rohani, spiritual, seksual dan lainnya. Maka tujuan pernikahan tidak cukup hanya sakinah, maka kata mawadah warahmah mengingiringi kata setelah sakinah. Mawadah warahmah yang berarti sebuah cinta kasih yang mampu menjadikan sebuah kemaslahatan bagi pihak yang mencintai dan juga dicintai. Hal ini juga dapat ditemukan dalam QS.Ar-Rum(30):21,

Baca Juga  Kesetaraan Gender dalam Keluarga: Langkah Menuju Keluarga Sakinah

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ – ٢١

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.

***

Dari dua ayat tersebut, kita dapat menangkap bahwasanya keyakinan bahwa suami istri dalam perkawinan adalah berpasangan sehingga saling melengkapi dan mampu untuk saling bekerja sama demi sebuah kemalsahatan. Layaknya kedudukan garpu dan sendok yang memiliki bentuk yang berbeda dan menjalankan fungsinya masing-masing; namun keduanya mempunyai kedudukan yang sama tanpa mengintimidasi salah satunya.

Penggunaan kata azwaj itu sendiri dalam ayat di atas tersebut memiliki arti hubungan antara suami dan istri yang tidak hanya disatukan secara fisik; melainkan juga dalam kesepahaman pikiran, keimanan, dan kecintaan karena Allah. Maka kemaslahatan tersebut bukan hanya untuk salah satu dari suami atau istri, tapi keduanya yaitu suami dan istri.

Selanjutnya, jika kita merujuk pada firman Allah swt dalam QS.An-Nisa(4):21 yang berbunyi,

وَكَيْفَ تَأْخُذُوْنَهٗ وَقَدْ اَفْضٰى بَعْضُكُمْ اِلٰى بَعْضٍ وَّاَخَذْنَ مِنْكُمْ مِّيْثَاقًا غَلِيْظًا – ٢١

Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu.

***

Pada kitab tafsir Al-Munir, Wahbah Zuhaili menafsirkan bahwa dalam ayat tersebut dalam ungkapannya menggunakan bahasa kiasan yang halus dan sopan. وَّاَخَذْنَ مِنْكُمْ مِّيْثَاقًا  dan mereka para istri kalian tersebut telah mengambil perjanjian, غَلِيْظًا yang berat dan kuat. Al-Miitsaaqul ghaliizh adalah perjanjian yang dikuatkan yang mengikat antara seorang suami dengan istrinya dengan ikatan yang sangat kuat.

Baca Juga  Rumah Tangga Masa Depan yang Setara

Ini adalah ikatan yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk tetap memegangnya dengan cara yang ma’ruf atau menguraikannya  dengan cara yang baik. Kataمِيثَاقًا غَلِيظًا sendiri disebutkan sebanyak 3 kali di dalam Al-Qur’an; yakni janji Allah dan Rasul-Nya dalam QS.al-Ahzab(33):7, kisah Musa dengan umatnya dalam QS.an-Nisa(4):154, dan terakhir yakni tentang perkawinan sebagaimana disebutkan pada ayat di atas.

Wahbah Zuhaili dalam kitab tafsirnya pun menyebutkan bahwasanya wanita (istri) mempunyai hak untuk dipergauli dengan baik. Di antara akhlak Rasulullah, yaitu beliau adalah sosok yang memiliki sikap dan cara mempergauli yang baik. Selarang dengan firman Allah swt  “Dan para wanita mempunyai hak Yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ ruf.” (QS.al-Baqarah(2):228).

Rasulullah saw juga bersabda seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dari Ali bin Abi Thalib “sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku di antara kalian”. Begitulah bagaimana semestinya kedudukan dan kehidupan suami istri seharusnya berjalan, yakni saling melengkapi, menyusupi setiap kubangan perbedaan dan mengusahakan sebuah kemaslahatan demi terwujudnya sebuah keluarga yang sakinah mawaddah warahmah yang utuh bagi keduanya.

Bagikan
Post a Comment