Nafkah Batin yang Dirindukan
Di tahun ketiga pernikahan, sebut saja Mawar, masih serumah dengan ibu mertuanya. Kebetulan di rumah besar tersebut hanya ada suami dan ibunya. Saudara-saudara suami, para ipar Mawar, sudah memiliki rumah masing-masing. Sepintas memang tidak ada masalah dan semua baik-baik saja. Jika toh ada sedikit gesekan kecil dengan mertuanya, ia anggap biasa dan tak dibesar-besarkan.
Mawar dan suami bukanlah pasutri yang terpaksa menikah muda. Mereka menikah di usia yang sudah cukup dewasa dan mampu bertanggung jawab dengan pilihan jalan hidupnya. Mereka menjalin hubungan sejak duduk di SMP. Keputusan menikah tidak diambil dengan terburu-buru, tetapi penuh perhitungan matang.
Usai kelahiran anak kedua di tahun ketiga pernikahan, hati Mawar makin tak nyaman. Sang suami pelan tapi pasti mulai kelihatan watak aslinya. Tak ada ketegasan dan makin ke sini sifat sosok ayah dari anak-anaknya tersebut kadang tampak masih kolokan di matanya.
Sudah beberapa bulan Mawar menahan diri atas sikap masa bodoh sang suami. Masa bodoh atas rewelnya anak-anak, kelelahan istri sehari-hari dalam merawat dua balita, dan segudang aktivitas lain yang dijalaninya. Suami tidak pernah mau tahu apakah Mawar cukup bahagia atau tidak sebagai istrinya. Seakan sengaja membiarkan hal tersebut berlangsung tiap hari dengan alasan itu sudah menjadi tugas seorang ibu dan istri.
Demi kedua buah hati, Mawar rela resign dari pekerjaan sejak kelahiran anak pertama. Membesarkan buah hati sebagai prioritasnya. Lebih-lebih ketika kenyataan yang dihadapi tak sesuai dengan harapannya di awal pernikahan. Memang benar, suami yang mencari nafkah dan dia fokus ke tumbuh kembang anak. Namun, sejak anak-anak lahir suami sibuk kerja dan kerja hingga lupa ada beberapa hati yang merindukan pelukannya.
Malam itu Mawar tak bisa merem walau sekejap. Lelaki yang terlelap di samping anak-anaknya hanya membuat dadanya makin sesak dan sakit. Dia ambil beberapa baju anak-anaknya lalu dimasukkan dalam tas. Bajunya sendiri tak terlalu dihiraukan. Baginya anak-anak adalah yang utama dan dia akan terus membersamai mereka dalam situasi apa pun.
Ya, setelah berfikir berulang-ulang, Mawar terpaksa nekad pulang sementara ke rumah orang tuanya. Tanpa suami. Meski begitu Mawar tetap pamit ke suami juga ke ibu mertuanya dan diizinkan. Dia hanya ingin menenangkan batin dan yakin di rumah orang tuanya tempat yang tepat tanpa harus mengadu segala problem rumah tangganya. Dia sudah mempersiapkan jawaban yang aman jika ada pertanyaan dari ibu bapaknya.
Cerita di atas hanyalah salah satu dari sekian problem rumah tangga pasangan muda. Sang suami pelan-pelan berubah perangai dari yang awalnya romantis, penuh perhatian, dan sangat meyakinkan sebagai pendamping, menjadi sosok yang acuh tak acuh. Interaksi dengan anak pun jarang dengan alasan lelah seharian mencari nafkah.
Alasan lelah sebenarnya kurang tepat, ketika anak-anak ingin bercengkerama dengan sang ayah tapi ayah istirahat karena lelah. Hubungan batin antara ayah dan anak menjadi rusak bahkan bisa hilang. Tidak adakah strategi agar anak bisa bermain dengan ayah walau sebentar? Tidak adakah sedikit keinginan seorang ayah untuk membuat anak-anaknya bahagia dan ceria? Rasanya mustahil tak ada rasa, manakala melihat mereka tumbuh dengan kelucuan dan kepolosan khas anak-anak.
Bila bicara tentang lelah, bukankah istri juga lelah? Energinya habis untuk buah hati, melayani kebutuhan harian suami, memastikan kenyamanan sekaligus keamanan tumbuh kembang anak dan lain sebagainya. Meskipun ada yang membantu mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari, mendampingi dan merawat dua balita amat melelahkan dan tidak gampang.
Dengan sikap suami yang minim tenggang rasa tersebut, Mawar merasa dizalimi dan tidak dihargai oleh suami sendiri. Tidak pernah ada kesempatan baginya untuk sekadar rasan-rasan maupun dialog ringan dengan suami. Setiap kali ingin bercerita tentang perkembangan anak maupun bercerita tentang diri, suami tak memberinya waktu. Lagi-lagi dengan alasan lelah.
Ada perasaan ingin memberontak yang hanya bisa disimpan dalam dada Mawar. Pikiran dan hatinya serasa terpenjara dengan yang namanya rumah tangga. Apalagi bila sudah ada campur tangan orang lain dalam menyelesaikan masalah keluarganya, sedangkan dia dan suami sebenarnya mampu mengatasi. Bila boleh disebut, sang suami terkesan santai dan kurang merespon apa pun yang sedang dirasakan Mawar.
Hadirnya dua buah hati yang sehat dan lucu tak membuat suami makin “dekat” dengan keluarga. Waktu khusus berdua dengan suami yang diidam-idamkan belum pernah terwujud. Berharap ada obrolan ringan ketika buah hati terlelap, juga belum pernah terealisasi. Sikap egois dan jawaban suami yang tidak memuaskan saat dimintai waktu sejenak, menambah hatinya makin tertekan.
Tentang nafkah, secara finansial Mawar tidak kekurangan karena bisnis suami lancar. Nafkah lahir memang tidak mengalami kekurangan, tetapi nafkah batin yang menurut Mawar_selain berupa hubungan badan_dirasa sangat kurang.
Hubungan suami istri termasuk nafkah batin, tetapi bukan satu-satunya yang menjamin sebuah keluarga itu disebut harmonis. Komunikasi, dialog, dan obrolan ringan juga termasuk nafkah batin. Misalnya; “ngudarasa” dengan pasangan, saling mendengarkan cerita maupun keluhan, saling “guyonan” dan mungkin juga saling memberi kejutan.
Dari hal-hal sepele, ringan, dan tak menyedot biaya, ternyata lebih dibutuhkan daripada kucuran dana tapi minim komunikasi alias saling membisu. Berbincang ringan dengan pasangan setiap ada kesempatan dan menyediakan waktu untuk anak sangatlah dianjurkan demi keharmonisan keluarga. Dengan berbincang atau mengobrol ringan, hubungan antar pasutri akan lebih “hidup”, tidak kering dan hampa.
Aktivitas harian yang monoton tanpa ada selingan akan melahirkan rasa bosan. Rasa ini berbuntut munculnya ketidaknyamanan hati dalam rumah tangga. Tersedianya waktu untuk anak dan istri sangat dibutuhkan. Meski dengan durasi singkat tidak mengapa asal berkualitas.
Mawar berharap suami mau membuka diri untuk menampung keluh kesahnya, mau mendengar cerita apa pun darinya, dan yang tak kalah penting mau terlibat langsung dalam pengasuhan buah hati. Suasana semacam itu bagi Mawar merupakan nafkah batin yang selama ini ia rindukan.

Seorang ibu rumah tangga dengan 3 anak, masih aktif di ‘Aisyiyah Donorojo Jepara.

Sriwati
Syukron bund.Wurry Sri, atas artikelnya yang bisa memberikan manfaat buat bunda.yang lain yang menginspiratif
Wurry Srie
Sama² Bu Sriwati 🙏