f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
hati

Berbicaralah dengan Hati

Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, setiap pasangan tentu pernah merasa saling adu argumen atau merasa cemburu satu sama lain.

Seringkali karena kesibukan, mulai dari soal pekerjaan atau bahkan mungkin anak-anak, suami istri mengalami kendala komunikasi, sehingga saling menuntut perhatian.

Bahkan ketika perhatian yang diharapkan tak kunjung datang, masing-masing mengambil kesimpulan keegoan, yang ditunjukkan dengan sikap diam dan tak mau memulai komunikasi.

…

Peristiwa semacam ini kerap dianggap sebagai bumbu; asam garamnya pernikahan. Hampir setiap keluarga pasti pernah mengalaminya. Namun tentu saja jangan sampai berlebihan. Karena komunikasi menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan suami istri dalam upaya mencari solusi problematika rumah tangga mereka. Sebab, tidak sedikit pernikahan gagal di tengah jalan karena kurangnya komunikasi antara pasangan suami istri.

Dengan demikian, penting bagi suami istri untuk terus berupaya membaikkan rumah tangganya dengan komunikasi yang baik. Tanpa komunikasi yang baik, ketentraman dalam keluarga akan sulit tercapai.

Sebab, pada realitanya, kebersamaan bertahun-tahun, siang dan malam, ternyata bukan jaminan terjalinnya komunikasi yang baik antara suami dan istri.

Selanjutnya, komunikasi terbaik yang sangat dahsyat adalah komunikasi manusia terbaik dengan keluarga terbaik puka. Rasulullah dengan para istrinya. Mari kita simak betapa indahnya komunikasi yang terjalin di dalam rumah tangga Nabi.

Perlahan dan Jelas

Berkenaan dengan komunikasi yang baik; yaitu menggunakan ritme perlahan dan artikulasi yang jelas. Nabi memiliki sifat yang agung dan tutur kata beliau saat berbicara sangatlah baik.

Beliau selalu berbicara dengan retorika yang baik, tutur kata yang teratur, dan untaian katanya sangat rapi sehingga siapapun lawan bicaranya dia akan mudah menangkap maksud dari perkataan beliau.

Terdapat sebuah riwayat dari ‘Aisyah, “Rasulullah tidaklah berbicara seperti yang biasa kamu lakukan (yaitu berbicara dengan nada cepat). Namun, beliau berbicara dengan nada perlahan dan perkataan yang jelas dan terang lagi mudah dihafal oleh orang yang mendengarnya.” (HR. Abu Dawud)

Baca Juga  Cegah Perceraian, Wujudkan Keluarga Impian

Suami istri harus sama-sama memiliki niat yang sama untuk mengamalkan tauladan dari baginda Nabi ini. Berbicaralah dengan perlahan dan jelas. Jangan terburu-buru, sehingga kata apa yang diucapkan dan kalimat yang disampaikan menjadi tidak jelas didengar oleh pasangan. Sebab, tidak sedikit perselisihan yang berujung pertengkaran terjadi karena adanya salah paham yang bermula dari pembicaraan yang tidak jelas.

Betapa indahnya, jika suami istri bisa mengamalkan tauladan mulia ini. Jika itu terjadi, maka sungguh kebahagiaan rumah tangga akan semakin sempurna dan impian rumah tangga sakinah, mawaddah, warahmah akan mudah digapai. 

Berbicara Lembut dan Penuh Kasih

Kadangkala, karena lelah, atau karena suatu masalah yang terjadi di tempat kerja seorang suami atau mungkin juga seorang istri tidak mampu mengontrol diri; sehingga keluar kata-kata yang tidak seharusnya terlontar.

Hal ini tentu sangat tidak baik dan bisa menimbulkan pertengkaran bersinambungan. Lebih-lebih jika salah satu pihak termasuk orang yang suka mengungkit-ungkit kesalahan dan masing-masing merasa paling benar.

Rasulullah pernah bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari)

Meski hadis ini bersifat umum, namun jika diamalkan dengan baik akan sangat bermanfaat bagi kehidupan keluarga.

Lihatlah bagaimana Rasulullah tidak memanggil istri-istrinya kecuali dengan panggilan yang lembut, indah lagi penuh kasih. Terhadap ‘Aisyah, istri paling dicintainya, Nabi tidak memanggil nama, melainkan dengan panggilan sayang yakni, “Ya Khumaira” (wahai yang memiliki pipi yang putih kemerah-merahan).

Jika soal panggilan saja Nabi memilih yang terbaik, mengapa terhadap suami atau istri kita sendiri enggan melakukannya karena menganggap hal itu adalah suatu hal yang tabu?

Seni Memahami; Komunikasi Tanpa Kata

Nabi adalah suami yang sangat memahami kondisi para istrinya, baik kondisi fisik maupun psikis. Dua kondisi ini bisa saja dari satu waktu ke lainnya dapat berubah-ubah.

Baca Juga  Membangun Rumah Tangga dengan Harmonis

Nabi sangat pandai memahami hal itu terhadap istri-istrinya. Maimunah radliyallahu ‘anha, salah satu istri Nabi pernah berkata, “Suatu waktu Rasulullah mendatangi  salah seorang dari kami. Salah seorang dari kami itu sedang haid. Maka beliau meletakkan kepalanya di dada istrinya yang sedang haid itu, lalu beliau membaca Al-Quran.”

Pada kesempatan yang lain, Nabi berupaya begitu rupa menenangkan salah satu istrinya yang sedang mengalami tekanan batin (pressure). Pada suatu hari beliau mendatangi Shafiyah binti Huyay. Beliau menemukan Shafiyah tengah menangis.

“Apa yang membuatmu menangis?” tanya Nabi kepada Shafiyah sang istri.

“Hafshah berkata bahwa aku anak orang Yahudi,” jawab Shafiyah.

“Katakan padanya, suamiku Muhammad, ayahku Harun, dan pamanku Musa!” ujar Nabi.

Terlihat bagaimana Baginda Nabi menyelesaikan masalah dengan kata-kata sederhana namun mengandung makna yang dalam. Disinilah kehebatan komunikasi tanpa kata-kata yang bertele-tele.

Tetap Santun Meski Saat Marah

Di kala tidak sedikit para suami yang ringan tangan kepada para istri saat mereka melakukan suatu kesalahan, kita mendapati Baginda Nabi tetap bijak, lembut, dan santun dalam memperlakukan para istrinya saat terjadi silang pendapat atau perselisihan antara beliau dengan mereka.

Ketika kemarahan beliau agak tinggi, maka beliau pun dengan kesadaran penuh memilih pergi menjauhi istri untuk sementara waktu. Tidak pernah beliau menampar satu pun dari istrinya. Beliau menjauhi para istrinya pada saat mereka mendesaknya menuntut nafkah.

Nabi memperlihatkan kesabarannya seperti ketika istrinya, Aisyah, marah.

Apabila Aisyah marah, Nabi Muhammad tidak lantas memarahinya. Beliau justru memanja sembari memegang hidung Aisyah.

Seperti dikutip dari buku Santuni Isterimu Sehebat Rasulullah karya Zawiyah Maamur, sikap Rasulullah ini seperti diceritakan dalam hadis oleh Ibnu Sunni. Rasulullah memegang hidung Aisyah sambil bersabda, “Wahai ‘Uwaisy (panggilan kecil Aisyah), katakanlah, ‘Ya Allah, Rabb Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah kemarahan di hatiku dan selamatkanlah aku dari fitnah yang menyesatkan.” (HR. Ad-Dailami dalam al-Firdaws dari Aisyah)

Baca Juga  Mempererat Keluarga selama #DiRumahSaja
…

Dengan demikian, dari hadis itu digambarkan akan sosok Nabi yang mengalah dan lembut menghadapi istrinya, termasuk saat istrinya marah sekalipun. Hal itu bertujuan menyejukkan hati dan membuatnya merasa tenang.

Dengan demikian, hati istri pun menjadi cair karena sikap suami yang bersedia menyantuninya dalam keadaan tenang walaupun istri masih merasa kesal atau kecewa.

Jika kita bisa mempraktikkan ajaran Nabi, dalam konteks berkomunikasi saja, terutama di dalam membina rumah tangga, sungguh langkah kita untuk menjadi manusia yang baik, bahkan sebaik-baik manusia akan semakin terbuka lebar.

Sebab, Aisyah meriwayatkan, Rasulullah pernah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas)

Dengan demikian, mari kita biasakan diri berbicara dengan hati. Ingat dan selalu ingatlah bahwa pasangan kita adalah anugerah terindah dariNya. Bersamanya kita akan bahagia hingga ke surgaNya, atau justru sebaliknya.

Oleh karena itu, adalah suatu kebajikan dan kebijaksanaan jika suami istri senantiasa memperhatikan kualitas komunikasinya terhadap sesama. Akankah lebih banyak berbicara dengan hati ke hati atau justru api emosi yang semakin tak terkendali?

Bagikan
Post a Comment