f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
berbagi

Merawat Tradisi Berbagi Jelang Satu Tahun Pandemi

Ternyata memang benar bahwa dalam keadaan sempit atau sulit kita harus selalu berbagi. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran: 133-134, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang taqwa. Yaitu orang-orang yang menginfakkan (hartanya) baik di waktu senang atau di waktu susah, dan orang-orang yang menahan kemarahannya dan memaafkan kesalahan orang. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Sebagaimana yang termaktub dalam ayat tersebut, kedermawanan masyarakat Indonesia sudah tak perlu kita ragukan lagi. Selama berbagai krisis dan bencana alam menyerang Indonesia, selama itu pula masyarakat akan membantu saudaranya yang mengalami musibah. Walaupun mungkin kondisi keuangan masyarakat secara umum sedang tidak baik-baik saja. 

Tokoh filantropi Indonesia, Erie Sudewo, pernah menuturkan pada saat krisis moneter 1998, Dompet Dhuafa, Lembaga kemanusiaan yang ia pimpin, mengalami kenaikan perolehan dana Zakat, Infak, Sedekah (ZIS) dari masyarakat yang cukup signifikan. Padahal kondisi saat itu marak terjadi PHK massal dan banyak perusahaan “gulung tikar”. Menurutnya, hal ini tak lain karena kesadaran religius dan antusiasme masyarakat untuk membantu sesama di kala sulit sangat besar.

Jadi sangat wajar jika, sebuah survey dari World Giving Index pada 2018, merilis bahwa Indonesia masuk dalam peringkat pertama Negara paling dermawan di Dunia. Tentu hal ini merupakan modal sosial yang bagus di tengah krisis ekonomi dan kesehatan berkepanjangan.

***

Sejak kasus positif Covid-19 pertama pada Maret tahun lalu, gerakan kebaikan oleh khalayak sejak mewabahnya virus tersebut, kita bisa lihat antusiasme semua lapisan masyarakat mulai dari pribadi sampai komunitas. Mereka berbondong-bondong membantu sesama. Khususnya kepada mereka masyarakat yang terdampak pandemi, seperti tenaga kesehatan, ojek online, pedagang kaki lima, pemulung, dan lain sebagainya.

Baca Juga  Menjaga Kedermawanan, Membangun Kesejahteraan, Mewujudkan Kemerdekaan

Bentuk dan praktiknya pun bervariasi dan sudah jamak kita jumpai sehari-hari. Ada yang membagikan masker dan hand sanitizer di tempat keramaian, berbagi sembako di pinggir jalan: membagikan paket makanan siap santap: sampai menggantungkan bahan makanan di pagar dengan sebuah tulisan, “silahkan ambil makanan ini halal”.

Pandemi Covid-19 memang menimbulkan efek yang luar biasa besar. Tak hanya menimbulkan krisis kesehatan tapi juga krisis ekonomi dalam waktu bersamaan. Jika pada 1998 krisis tak menyerang pelaku ekonomi masyarakat bawah. Kali ini, ceritanya berbeda. Para pelaku UMKM sangat terdampak dengan beberapa kebijakan pembatasan yang pemerintah lakukan dan menurunnya daya beli masyarakat.

Setidaknya hal ini terlihat dari pernyataan yang dilontarkan oleh Mukroni, Ketua Komunitas Warung Tegal Nusantara (KOWANTARA). Ada setidaknya 2.000 warteg terancam akan tutup tahun ini karena tak mampu membayar sewa tempat akibat menurunnya pembeli.  

Tak hanya para pelaku UMKM, para pekerja juga mengalami dampak yang signifikan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2020, mencatat ada 29,12 juta orang usia kerja terdampak pandemi dengan jumlah pengangguran terbuka sebanyak 9,77 juta orang. Bukan tidak mungkin angka ini akan terus bertambah seiring pandemi yang masih mewabah hingga sekarang.

***

Berbagai kesulitan yang banyak dialami oleh masyarakat saat ini, dibutuhkan sifat kedermawanan dan kepedulian antar sesama. Walaupun saat ini kita sedang menjalankan masa adaptasi kenormalan baru dan periode vaksinasi, akan tetapi tidak sertamerta kehidupan kita  akan pulih sepenuhnya seperti sebelum pandemi. Menurut pakar ekonomi, setidaknya Indonesia membutuhkan waktu 4 tahun agar semuanya kembali normal seperti sediakala, khususnya kondisi ekonomi.

Dalam usaha merawat tradisi berbagi yang selama ini dilakukan masyarakat, penting juga melibatkan kelompok masyarakat yang terdampak sebagai bagian dari kolaborasi. Sebagai contoh, aksi berbagi nasi kepada orang yang tidak mampu, penting kiranya melibatkan para pelaku usaha warung nasi sebagai mitra penyedia paket nasi. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan pedagang yang selama ini penghasilan mereka tergerus tajam.

Baca Juga  Mari, Menjadi Ibu yang Asertif

Sebagaimana yang dipraktikan oleh konglomerat Jusuf Hamka, Inisiator program Nasi Kuning Murah di Jakarta Utara. Untuk menjalankan programnya, Jusuf Hamka tak segan-segan melibatkan para pedagang sekitar untuk menyuplai beberapa menu makanan yang disalurkan ke warungnya. Tentu saja, bermaksud agar tidak ada persaingan di lokasi yang sama dan melindungi kaum ekonomi lemah seperti pedagang kecil sekitar lokasi warung.

Kolaborasi kedua, keluarkan uang untuk belanja dan tunda menabung. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, menyebut belanja saat ini adalah Jihad. Ya, belanja saat ini bukan hanya memenuhi hasrat pribadi atau sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lebih dari itu belanja di masa pandemi adalah jihad. Ia bisa menyelamatkan nyawa orang lain. Dengan belanja ke pedagang, keluarganya bisa makan, anaknya bisa sekolah, keluarga yang sakit bisa berobat. Itulah esensi dari belanja adalah jihad.

***

Pemerintah baik pusat dan daerah telah menggelontorkan begitu banyak subsidi ke masyarakat dalam bentuk uang tunai, ada Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk masyarakat ekonomi lemah, Bantuan Subsidi Upah (BSU) untuk pekerja, Kartu Prakerja, dan bantuan untuk pelaku UMKM. Amat disayangkan, jika bantuan dari Pemerintah tak diputar untuk menggerakan ekonomi dan meningkatkan daya beli masyarakat.

Kolaborasi ketiga, karena pandemi erat kaitannya dengan ketahanan pangan, hendaknya komunitas tempat tinggal seperti lingkungan RT/RW agar menerapkan program Urban Farming. Seperti konsep menanam sayur atau padi dengan sistem hidroponik ataupun budidaya ikan lele dan tanam kangkung dalam satu wadah ember. Program ini bisa melibatkan para pemuda, ibu-ibu, atau masyarakat yang terkena PHK sebagai upaya kemandirian dan pemberdayaan warga sekitar. 

Ketiga jenis kolaborasi yang penulis jabarkan merupakan upaya untuk mendukung aktifitas masyarakat; baik individu dan komunitas yang bergerak membantu sesama. Tujuannya agar dampak yang dihasilkan dari kegiatan tersebut bisa dirasakan lebih luas dan menyentuh permasalahan yang diakibatkan oleh pandemi. Semoga.

Bagikan
Post a Comment