TBC Bukan Penyakit Kutukan
TBC sering dianggap penyakit kutukan. Padahal, apakah kita sudah cukup mengenalnya? Apa itu TBC? TBC atau Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
TBC utamanya menyerang paru-paru, namun juga dapat menyerang organ tubuh lain seperti selaput otak, kulit, tulang, kelenjar getah bening, dan lainnya ketika bakteri TBC keluar dari paru-paru melalui aliran darah. Kondisi ini disebut TBC Ekstra Paru. Bakteri TBC dapat hidup dalam kondisi non-aktif (laten) seumur hidup dan menjadi aktif saat daya tahan tubuh melemah.
Menurut Kementerian Kesehatan, kasus TBC di Indonesia tercatat sudah mencapai 1.060.000 kasus. Angka ini merupakan angka tertinggi yang pernah ada. Hal ini dikarenakan imbas pandemi COVID-19 yang menyebabkan penderita TBC dewasa yang belum tertangani kemungkinan menularkan ke anak-anaknya.
Meskipun penyakit tuberkulosis ini menular, namun penyakit ini termasuk jenis penyakit yang dapat disembuhkan dan dapat dicegah. Bakteri Tuberkulosis ini menyebar dari orang ke orang melalui udara. Ketika seseorang dengan TB paru batuk, bersin atau meludah, mereka mendorong kuman-kuman TB ini ke udara.
Siapapun yang berada dekat dengan penderita TBC, ia akan mudah tertular. Baik laki-laki, perempuan, tua, muda, penyintas HIV/AIDS, penyintas Diabetes Mellitus, perokok, anak-anak, yang kontak langsung dengan penderita TBC, semuanya memiliki resiko terkena TBC.
Menjauhi Bukan Solusi
Di masyarakat, penyakit TBC sering disebut sebagai penyakit kutukan. Siapapun yang menderita penyakit tersebut ia justru akan dijauhi dan dikucilkan di masyarakat. Karena hal itulah, pencegahan dan penyembuhan penyakit ini menjadi susah untuk diberantas atau ditekan angkanya.
Mereka yang terkena penyakit ini cenderung malu untuk mengatakannya. Bahkan, jika mereka merasakan gejala gejala TB seperti batuk berdahak dan terkadang batuk bercampur darah, nyeri dada, kelelahan, penurunan berat badan, demam, dan berkeringat pada malam hari, mereka akan mencoba menutupinya.
Fenomena yang terjadi di masyarakat ini tidak dapat dielakkan, sehingga perlu adanya kerja sama antara tetangga, tenaga kesehatan, pemerintah untuk sama-sama menyadarkan kepada masyarakat, bahwa penderita tidak perlu dijauhi namun perlu dirawat bersama-sama. Mengapa perlu di rawat bersama-sama?
Hal ini dikarenakan keberhasilan kesembuhan penyakit ini melibatkan banyak orang. Anggota rumah dapat mengingatkan penderita untuk meminum obatnya sehingga pengobatan selama enam bulan tersebut tidak terasa menjenuhkan dan dapat menaikkan tingkat keberhasilan kepatuhan minum obat. Sehingga, angka putus obat dapat ditekan sedemikian rupa karena konsumsi obat yang tidak sesuai dapat menimbulkan kemungkinan resistensi atau kebal obat TBC.
Jika terjadi resistensi obat, maka pengobatan akan membutuhkan biaya yang lebih mahal serta tingkat keberhasilan pengobatan yang rendah. Hal ini juga dapat meningkatkan penularan TBC di masyarakat sehingga dapat menghambat tercapainya tujuan pengobatan dan pengendalian TBC.
Di dalam pengobatan TBC, ada tiga kunci keberhasilan yang sering disebut 3T, yaitu Tepat Waktu (disiplin dalam meminum obat sesuai waktu yang telah ditentukan), Tepat Cara (minum obat sekaligus, atau jika satu-persatu maka jarak waktu diminumnya tidak lebih dari 2 jam), dan Tepat Dosis (sesuai dosis yang dianjurkan dokter). Penderita TBC harus menjalani pengobatan ini sampai tuntas dan dinyatakan sembuh oleh dokter.
Fenomena Perempuan dengan TB
Hari TBC Sedunia merupakan momen untuk menyadarkan kembali akan dampak penyakit ini dan peran apa yang sudah kita lakukan. Penyakit ini merupakan penyakit yang tampak mudah dalam penanganannya, namun masih sangat kompleks dalam pemberantasannya. Semua lini pemerintahan harus bergotong royong dalam menuntaskan permasalahan ini. Penyediaan pelayanan kesehatan perlu lengkap dan merata berdasarkan gender.
Perlakuan khusus perempuan ini bukan berarti membuat perlakuan terhadap laki-laki tidak setara. Perlakuan khusus ini dimaksudkan untuk memastikan kebutuhan khusus perempuan sudah ter-cover secara adil dan merata mengingat banyaknya kebutuhan khusus perempuan yang perlu menjadi pertimbangan, seperti pada kondisi hamil, melahirkan, dan menyusui.
Apalagi, setiap kondisinya membutuhkan perhatian yang berbeda-beda. Ketika menyusui dan berobat, maka anak harus tetap aman, jangan sampai tertular penyakit yang sama dengan ibunya. Saat ia sedang berobat, maka perlu ada seseorang yang merawat anaknya apalagi jika usianya masih sangat kecil. Pun ketika seorang perempuan hamil, maka ia tidak boleh sembarang dalam mengonsumsi obatnya karena hal ini dapat mempengaruhi si bayi.
Anggota Departemen Kesehatan dan Lingkungan PDNA Kota Yogyakarta. Instagram : @fakhr.n31.
