Era Digital : Tren dan Tantangan Masyarakat Informasi Abad XX1
Era Digital dan Serba – Serbinya
Era digital, – begitulah kiranya orang mengonsepsikan signifikansi perkembangan zaman dewasa ini. Suatu era yang berhasil mengubah wajah dunia di berbagai macam dimensi, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lain sebagainya. Tak pelak, setiap orang dituntut agar dapat beradaptasi dengan baik, sehingga mampu berkelindan secara holistik. Perubahan – perubahan tersebut, terkadang melahirkan implikasi positif dalam tataran kehidupan manusia.
Barangkali kita dapat melihat bagaimana mudahnya arus transformasi informasi dari satu pihak kepada pihak lainnya secara komprehensif. Lebih dari itu, manusia yang hidup di era ini, juga dipermudah untuk melakukan apa saja yang berkaitan dengan teknologi itu sendiri. Namun, seperti buatan manusia lainnya, era ini juga seringkali menciptakan implikasi negatif yang jika tidak dikelola dengan baik, maka akan berdampak buruk pula pada penggunanya. Barangkali seperti privasi yang mulai luntur hijabnya, hoax yang mudah dikonsumsi, dan masih banyak lagi.
Berdasarkan pendekatan historis, sebenarnya era digital ini sudah mencuat semenjak tahun 1980 – an, yang ditandai dengan perubahan teknologi mekanik dan analog ke digital hingga perkembangannya sangatlah signifikan sampai saat ini. Bahkan meminjam dari teori Lev Monovich seorang professor University of California, dalam bukunya The Language of New Media, mengidentifikasikan lima karakteristik dalam dunia digital, yakni ; numerik representasi, modularitas (prinsip perakitan unit yang kecil ke besar), otomatisasi, variabilitas, dan transcoding (hubungan antara komputasi dan kehidupan sehari – hari).
Berkaitan dengan hal tersebut, bahwa digitalisasi bukan hanya dapat diartikan sebagai suatu proses transisi dari dunia analog, melainkan proses integrasi atau penyatuan dengan dunia analog. Masih menurut Lev, digitalisasi pasti selalu berkaitan erat dengan media, sebab media terus mengalami perkembangan seiring dengan majunya teknologi dari media lama menuju media baru, sehingga mempermudah manusia dalam segala bidang yang berkaitan dengan teori digital. Berangkat dari analisis itulah, tidak mengherankan bilamana media baru dewasa ini, pasti akan berkoherensi dengan digital. Mudahnya media bertransformasi ke masyarakat, karena kontribusi penuh dari aspek digital.
Masyarakat Informasi Digital
Mengenal era digital sebagai suatu objek adalah perspesi yang dapat dianalisis berdasarkan pendeketan realitas sosial. Faktanya, terciptanya digitalisasi dan pernak – pernik yang ada di dalamnya memang bersumber dari intervensi konkret tangan manusia. Oleh karenanya, masyarakat sebagai subjek realitas sosial adalah kunci utama dari mobilitas era digital sendiri. Bayangkan, manakala masyarakat mengalami dekonstruksi paradigma terhadap era digital. Akibatnya jelas, akan merusak kontelasi dari peradaban zaman.
Lantas, apa itu masyarakat informasi digital? Dewasa ini, berbagai pakar komunikasi dunia, mulai berpendapat bahwa era modern dimulai dengan era informasi. Alvin Toffler, menyatakan bahwa era kemanusiaan dapat terbagi menjadi tiga era, yakni ; era masyarakat agraris, masyarakat industri, dan masyarakat informasi. Sedangkan dewasa ini, peradaban masyarat tengah dan sedang berada di era masyarakat informasi. Hal ini sebenarnya juga dapat diperkuat oleh kemunculan revolusi industri 4.0, yang memang menekankan kecepatan dalam segi informasi.
Bahkan seorang Straubhar, mengatakan jika masyarakat informasi adalah masyarakat masyarakat yang mempunyai aktivitas politik – sosial melalui proses produksi, konsumsi, dan distribusi informasi. Masyarakat informasi dapat diindikasikan dengan intensitas yang tinggi atas pertukaran dan penggunaan tekonologi komunikasi. Kemajuan manusia yang telah berhasil menciptakan suatu peradaban masyarakat informasi berimplikasi pada terbukanya setiap orang dengan perkembangan dan dinamika media baru. Oleh karenanya, perputaran tekonologi, dinamisasi informasi, dan distriubusi informasi dapat berjalan secara simultan dan berkesinambungan.
Menurut hemat penulis, masyarakat informasi tidak hanya hidup di dunia nyata, seperti yang kita saksikan saat ini, melainkan juga hidup di dunia maya. Masyarakat global, wabil khusus Indonesia sebagian masyaratnya telah melakukan interaksi sosial di dunia virtual, seperti melalui medium facebook, instagram, whatsaap, dan twitter. Menurut data Interwoldstats, pada Maret 2021, pengguna facebook di Indonesia mencapai 63,4 % dari keseluruhan warga Indonesia. Itu artinya, lebih dari 50 % warga Indonesia, sudah hidup di dunia maya, melalui medium bernama facebook. Bahkan Indonesia sendiri menempati posisi ke – 3, dalam hal pengguna terbanyak di dunia. Inilah masyarakat informasi, masyarakat yang memang inklusif terhadap signifikansi perkembangan zaman yang terus mengalami progresifitas.
Masyarakat Informasi dalam Perspektif Sosiologis
Setelah membahas begitu mendalam mengenai makna masyarakat informasi secara konseptual dan kontekstual, maka mari analisis pula mengenai perspektif masyarakat informasi dengan menggunakan pendekatan sosiologis. Meminjam dari istilah yang dikemukakan oleh Rahman, masyarakat informasi oleh para sosiolog sebenarnya telah dikonseptualisasikan di dalam struktur pekerjaan serta menganggap bahwa banyaknya kuantitas kerja informasi pada pekerjaan telah menciptakan tatanan sosial baru.
Mahzab – konstruktif pemikiran ini sering dikreditkan kepada Daniel Bell, di mana dalam eksposisi teoritisnya mengenai masyarakat pasca – industri, yang kemudian dapat dicirikan berdasarkan tipologi pekerjaan layanan kerah putih, mengakui urgensi dan keunggulan informasi dalam pekerjaan layanan kerah putih. Artinya secara eksponensial, gagasan mengenai masyarakat informasi berdasarkan pada perubahan struktural yang mendasari perekonomian. Meskipun berdasarkan pada perubahan ekonomi, namun konsep sosiologi tersebut di atas dapat direkonstruksikan pada tataran dimensi sosial yang lain.
Maka, masyarakat informasi di abad 21 yang terdistraksi oleh dinamika kemajuan zaman, dituntut agar memiliki skill atau kompetensi yang mumpuni. Di antara skill tersebut, Micahel Fullan dan Geoff Scott menyebut terdapat 6 skill yang musti dimiliki, yakni ; berpikir kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif, berkarakter, dan berawawasan kebangsaan juga global.
Indonesia dalam Bingkai Masyarakat Informasi
Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, dengan keberagaman di segala macam dimensi yang ada, akan lebih mendapatkan sorotan dari dunia luar maupun dalam ihwal kesiapan menuju masyarakat informasi. Antropologi masyarakat Indonesia yang masih menjajal dan beradaptasi dengan pernak – pernik kemajuan ini, rasanya tepat bilamana dalam konstelasi menuju masyarakat informasi disebut sebagai proses transisi. Di mana dalam hal ini, dapat dimaknai jika masyarakat Indonesia perlu lebih lagi secara radik mendalami soal arus mobilisasi informasi yang kian pesat, ledakan peradaban, dan kebijakan penggunaan media digital.
Walaupun tidak dapat dipungkiri, berdasarkan pada beberapa sumber yang ada, telah banyak rakyat yang berkecimpung pada dunia digital, namun tidak serta merta bisa menjadi masyarakat informasi. Perlu adanya kompetensi – kompetensi abad 21 yang perlu lebih dielaborasikan secara intens guna mencapai hal tersebut. Apalagi tingkat literasi digital yang rendah, juga harus segera direvitalisasi secara masif dan holistik.
Daftar Pustaka
Rahman, M. Taufif. Masyarakat Informasi. Bahan Ajar Perkuliahan Industri Informasi
Rakhmawati, Yuliana., 2017. AIMI JATIM : Motherhood Philanthropy dalam Era Budaya Digital. Jurnal Ilmu Komunikasi
Wuryanta, Eka Wenats., 2016. Digitalisasi Masyarakat : Menilik Kekuatan dan Kelemahan Dinamika Era Informasi Digital dan Masyarakat Informasi. Jurnal Ilmu Komunikasi.
Riady, Yasir. Mewujudkan Masyarakat Informasi Indonesia : Dampak Sosial, Konsekuensi, dan Kemungkinannya. Staf Akademik UPBJJ – UT Jakarta.
Beni, Romanus. 2002. Transisi Masyarakat Informasi Indonesia. Kumpulan Artikel Alumni dan Mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan, Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia
Irvan Ulvatur Rohman saat ini tengah menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Ponorogo dengan konsentrasi jurusan manajemen. Aktivitas yang ini dilakukan adalah tulis – menulis dan aktif di beberapa organisasi mahasiswa kampus. Adapun untuk riwayat pendidikan saya sebagai berikut ; SD N Pudak Payung 03, Semarang, SMP N 1 Nawangan, SMK N 1 Nawangan. Hobby saya saat ini adalah membaca, menulis dan berbicara di depan. Satu motto yang menjadi salah satu tolok ukur kehidupan Irvan adalah “Tebarkanlah kebaikan untuk memuai kebaikan.”
