f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
madrasah utama

Rumah Bukan Lagi Madrasah Pertama, Melainkan Madrasah Utama Untuk Anak

“Kalaupun anak kami terpapar covid di sekolah tidak apa-apa daripada di rumah saja, susah belajar dan main game terus.”, ujar seorang ayah.

 “Mau jadi apa generasi muda sekarang kalau tidak masuk sekolah terus? Kami cukup mencari biaya sekolah seperti biasanya, tidak bisa kalau harus mendampingi dan mengontrol pelajaran di rumah terus,” ungkapan seorang ibu sekaligus wiraswasta.

 “Kalau tidak jadi masuk tatap muka, anak kami akan kami pindahkan ke pondok pesantren saja,” lagi-lagi luapan hati seorang ibu yang sudah putus asa menanggapi keluarnya keputusan PPKM Darurat.

Jika sebagian mendesak pembelajaran tatap muka, maka di sisi lain sebagian orang tua menentang keras pembelajaran tatap muka selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat belum dicabut. Mereka khawatir pembelajaran tatap muka justru dapat membentuk kluster baru penularan pandemi Covid-19.

Iya, begitulah kiranya 5 bulan yang lalu, saya sebagai kepala sekolah, kerap kali menerima laporan serupa hasil dari kunjungan guru dan curhatan para orang tua. Kondisi seperti ini membuat kami harus berpikir keras untuk berani mengambil resiko dan melihat kembali prioritas utama untuk siswa.

Bagi sekolah swasta, seperti sekolah tempat saya mengais rezeki dan pahala, keadaan ini tepat sekali dengan ungkapan “bagaikan makan buah simalakama”. Tekanan dari pemerintah daerah, yang sudah siap mencabut ijin operasional sekolah bagaikan malaikat yang sudah siap mencabut nyawa.

Peningkatan gila-gilaan kasus korban covid-19 di wilayah kami, semakin mengesankan tingkat ketegasan sanksi pada pelanggar aturan PPKM Darurat. Sedangkan mutasi keluar siswa bagi sekolah swasta juga membawa dampak internal tersendiri.

***

Saat ini pro-kontra dari desakan orang tua kembali terjadi. Rencana pembelajaran tatap muka terbatas yang akan kami mulai bulan Juli ini kembali gagal. Lantaran munculnya perpanjangan PPKM Darurat akibat lonjakan drastis kasus Covid-19 baru-baru ini di wilayah kami.

Sementara itu, pihak sekolahpun sudah memberikan setumpuk logika, mengapa sekolah lebih memilih pembelajaran jarak jauh alias daring. Namun lagi-lagi, alasan mengutamakan kesehatan dan keselamatan anak itupun dianggap hanya alasan klise saja. Pertimbangan menghindari bahaya lebih didahulukan daripada mengambil suatu manfaat, itupun diacuhkan.

Sebegitu putus asakah orang tua mendampingi anak-anak di rumah? Hingga masuk tatap muka menjadi lebih penting dari keselamatan jiwa. Atau sudah pada taraf tertinggikah kesadaran pendidikan di rumah, hingga anak rela mengorbankan keselamatannya demi menempuh tatap muka dan melanggar sederet aturan yang ada?

Baca Juga  Mengakhiri Kekerasan dalam Pendidikan: Menghidupkan Nilai Kasih Sayang dalam Disiplin Islam

Bahwa sekolah dikatakan sebagai penakut. Lantas benarkah sekolah yang berani melaksanakan tatap muka itulah yang paling memikirkan nasib generasi muda di tengah PPKM darurat ini?

Apapun alasan dari kedua pendapat orang tua tersebut, tentu semua merujuk pada satu hal. Orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Dan sangat wajar, muncul berbagai kekhawatiran atau ketakutan yang dirasakan oleh para orang tua. Ketakutan orang tua bila anak tidak mendapatkan ilmu, ketakutan bila anak mengalami penurunan karakter sebenarnya menunjukkan bahwa kesadaran pendidikan orang tua sudah jauh lebih tinggi dari jaman nenek saya.

**

Saya jadi teringat dengan sebuah ungkapan bahwa rumah adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anak sebelum pendidikan formal. Rasa-rasanya saat ini, ungkapan ini sudah tidak tepat lagi. Nyatanya, saat ini anak-anak jenjang SD, SMP, SMA bahkan perguruan tinggi, melakukan pembelajaran formal dari rumah. Mereka kembali berada di rumah untuk belajar jarak jauh melalui daring.

Alhasil, orang tua menjadi kalang kabut karena harus menjadi “guru” dadakan di rumah. Mencoba membaca materi pelajaran yang sudah tidak pernah disentuh, tentu menguras energi dan emosi. Bila sang anak tetap tidak paham maka yang muncul adalah “guru BK” dadakan dengan semua petuah, nasihat bahkan hukuman.

Lalu bagaimana jika orang tua tidak bisa lagi mempelajari dan memahami mata pelajaran saat ini? Materi pelajaran sekarang sudah jauh berbeda dengan saat orang tua di jenjang pendidikan dulu. Materi pelajaran sekarang lebih sulit. Orang tua harus bekerja seharian sehingga tidak bisa mendampingi anak. Begitulah komentar dari para ibu saat harus mendampingi anak-anaknya belajar.

Bahkan tak jarang pula, ada orang tua yang kesulitan mengarahkan atau mengendalikan sang anak untuk melakukan pembelajaran jarak jauh. Maka tak heran, pembelajaran daring dengan pemenuhan fasilitas gadget pribadi untuk anak justru menjadikan anak sebagai pecandu game online. “Anak-anak hanya mau mendengarkan Bapak/Ibu gurunya di sekolah,” begitu ujar salah satu orang tua yang bersikukuh untuk tetap memasukkan anaknya.

Tentu bisa kita pahami. Orang tua tidak mungkin menggantikan posisi guru di sekolah, untuk dapat menjelaskan semua isi mata pelajaran. Yang perlu orang tua lakukan adalah membimbing bagaimana cara belajar yang baik; bagaimana cara mencari informasi atau literatur yang baik; dan cara bagaimana memahami isi bacaan yang sedang dipelajari anak. Selebihnya, bisa berkonsultasi dengan bapak/ibu guru mengenai isi materi yang dirasa sangat sulit. Pandemi Covid-19 ini menjadi pengingat bagi kita, para orang tua. Bahwa rumah atau keluarga bukan lagi menjadi madrasah pertama tapi madrasah utama bagi anak.

Baca Juga  Ada Pancasila di Antara Kita
Sekolah Keluarga

Apa bedanya madrasah pertama dan utama? Madrasah pertama itu secara singkatnya bisa dikatakan, kalau sudah selesai tahapannya maka bisa ditinggalkan oleh sang anak untuk menuju jenjang selanjutnya. Tetapi sebagai madrasah utama, maka pembelajaran di rumah tidak akan pernah ditinggalkan oleh anak dan anak sewaktu-waktu dapat belajar kembali ke rumah. Dengan kata lain, walaupun sudah selesai dengan satu tahapan yang ada, maka rumah inipun harus selalu siap dan akan terus bertanggung jawab terhadap pembelajaran sang anak dalam segala situasi dan kondisi apapun.

Lalu seperti apa konsep rumah atau keluarga sebagai madrasah utama di masa pandemi Covid-19 ini? Tentu pertanyaan itu yang tengah muncul di benak kita semua. Pengalaman saya pribadi terkait penerapan konsep ini, saya namai dengan “Sekolah Keluarga”.

Dalam sekolah keluarga, anak memiliki jadwal layaknya jadwal harian di sekolah. Bedanya adalah seluruh jadwal rutinitas anak harus tertulis dengan jelas, mulai bangun tidur sampai kembali tidur lagi. Jadwal tersebut disertai dengan keterangan bahwa kegiatan yang dilakukan itu bersifat mandiri atau didampingi oleh orang tua. Sehingga segala aktivitas anak di rumah terkait kewajiban belajar, pembiasaan keluarga bahkan waktu bermain dapat dikontrol setiap hari oleh orang tua. Orang tua akan lebih memahami kapan anak bisa dilepas secara mandiri, dan kapan anak harus didampingi saat belajar atau saat melakukan suatu aktivitas tertentu.

Dalam konsep “Sekolah Keluarga”, orang tua baik ayah atau bunda, juga sama-sama memiliki jadwal untuk memberikan ilmu atau wawasan pada anak. Tentunya tidak secara formal banget seperti yang ada di sekolah ya, misalnya menjelaskan sambil berdiri di dekat papan tulis dan mententeng buku mata pelajaran, melakukan praktikum atau semacamnya. Ilmu atau wawasan yang diberikan dapat berupa nasihat atau motivasi, bisa juga berupa kegiatan penambahan keterampilan pada anak. Dan kegiatan tersebut, dapat dilakukan di waktu yang santai, saat keluarga berkumpul, saat menjelang tidur, atau sehabis melakukan ibadah bersama keluarga misalnya. 

Baca Juga  Kesetaraan Gender dalam Perspektif Hukum Islam dan HAM
Rumah adalah Madarsah Utama

Untuk mendukung konsep “Sekolah Keluarga” ini, perlu sekali waktu dilaksanakan “Small Family Gathering”, kebersamaan dengan satu keluarga kecil lainnya. Ya saya menyebutnya seperti itu agar terlihat keren, saat anak-anak mendengarnya, hehehe.

Kebersamaan keluarga ini, tentunya tetap memperhatikan kondisi dan protokol kesehatan yang ada. Misalnya pengalaman saya pribadi bersama anak-anak, saat menerapkan small family gathering yaitu dengan berkunjung ke rumah famili terdekat, ke rumah nenek mislanya. Di sana anak-anak saya bersama beberapa keponakan sudah ada jadwal khusus. Anak-anak diberikan permainan atau aktifitas bersama, misalnya membuat kue, mewarnai, bernyanyi bersama bahkan kegiatan mendongeng atau story telling yang dilakukan oleh anak-anak itu sendiri ataupun orang tua.

Belajar dari Pandemi Covid-19 ini, kita sebagai orang tua harus juga siap bermutasi (berubah) menjadi generasi orang tua yang adaptif dan bijak.

Alangkah eloknya, jika para orang tua, ayah dan bunda lebih bijak untuk selalu menyiapkan diri, keluarga dan rumahnya dalam menjawab segala tantangan masa depan. Termasuk tantangan pendidikan anak di masa pandemi Covid-19 saat ini. Rumah siap menjadi madrasah pertama, kedua, ketiga dan seterusnya bagi anak di segala usia dan kondisi. Bahkan siap menjadi tempat belajar meskipun sang anak telah lulus kuliah atau berumah tangga. Rumah yang selalu siap menjadi madrasah utama bagi anak sepanjang masa.

Bagikan
Post a Comment