f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perkawinan

Menciptakan Kesetaraan dalam Perkawinan

“Supaya tercipta ketenangan bagi kalian, serta dijadikan rasa cinta dan kasih sayang…”(Surah Ar-Rum ayat 30). Tulisan ini saya buka dengan kutipan Al-Quran yang berisi tujuan dari sebuah perkawinan. Harapan dalam sebuah perkawinan adalah dapat memberikan ketenangan, rasa cinta dan kasih sayang pada tiap individu dalam menjalankannya.

Indah banget bukan, seperi romantisme pasangan pengantin baru yang terlihat begitu mesra dalam ungahan media sosial yang banyak beredar. Potret kebahagiaan dalam perkawinan yang  tergambar memang kerap membuat siapa saja iri.

Tapi percayalah, untuk mewujudkan keindahan dan kebahagiaan itu bukanlah perkara gampang. Saya yang baru menjalani perkawinan seumur tebu yang sudah panen 8 kali ini merasakan betapa beratnya.  Sebelumnya ijinkan saya bercerita tentang kisah klasik dalam rumah tangga saya.

***

Saya adalah perempuan yang besar dengan sistem patriaki yang mendominasi, di mana bapak punya kedudukan lebih tinggi dalam keluarga. Bapak punya orotitas atas saya dan anggota keluarga yang lain seperti ibu dan kakak.

Awalnya saya tak merasakan bahwa ini adalah sebuah persoalan. Mungkin anggota keluarga yang lain termasuk bapak tak mengerti bahwa ini adalah sistem patriaki yang berdampak buruk pada relasi keluarga dan tumbuh kembang anak-anaknya.

Saya tumbuh dengan premis patriaki, di mana saya memandang laki-laki posisinya selalu di atas perempuan. Dalam kepala saya, laki-laki tergambar dengan sosok yang selalu kuat, bertanggung jawab atas nafkah keluarga, bisa menjadi pemimpin dan superior.

Sedangkan konstruksi perempuan adalah lemah, bertanggung jawab atas pekerjaan domestik, posisinya selalu di bawah laki-laki dan harus mendapat perlindungan. Sampai saya menikah premis itu masih mewarnai hidup saya.

Berbekal premis patriaki dan rasa malas untuk belajar, membuat kehidupan rumah tangga saya terasa berat. Ketimpangan terjadi dalam banyak sektor dan itu membuat relasi saya dan suami berjalan tak sehat.

Baca Juga  Kemuliaan Pernikahan dan Konsepsi Membangun Keluarga Islami

Premis patriaki yang telah tersosialisasikan secara evolusioner perlahan-lahan telah mengakibatkan tersosialisasikan kodrat dan penerimaan nasib saya sebagai perempuan. Saya menganggap konstruksi antara laki-laki dan perempuan adalah normal adanya dan ketika itu berjalan di luar kenormalan, saya menganggapnya gak ilok.

***

Premis patriaki yang menganggap perempuan pada kelas nomor dua telah membentuk subordinasi pada diri saya. Rasa percaya diri saya terkikis. Hal ini membuat saya tak berani memutuskan sesuatu dan menganggap bahwa suara suami adalah suara Tuhan. Saya tak berani berdiskusi perihal keingginan, pemikiran dan cita-cita saya. Saya beranggapan bahwa keinginan suami adalah jalan ninja yang harus saya perjuangkan.

Dalam sistem patriarki, atau kehidupan masyarakat yang berpusat pada pandangan laki-laki inilah, sistem ekonomi kapitalis berbiak. Dan dalam sistem ini posisi saya marjinal.

Karena ibu rumah tangga yang dianggap tak produktif karena tak menghasilkan uang. Meski sudah bekerja lebih keras dan memeras keringat jauh lebih panjang dengan melakukan pekerjaan perawatan entah mengerjakan urusan domestik ataupun mangasuh anak.

Sistem budaya patriaki yang semacam itu nyatanya telah membawa banyak persoalan dalam hidup saya.

Dalam perkawinan kami, ketimpangan terjadi dalam banyak sektor. Hal inilah yang membuat perkawinan kami jauh dari sakinah, mawaddah dan warahmah, karena modal dasar kesetaraan tak terpenuhi.

Menjalani kehidupan rumah tangga yang jauh dari kesetaraan memang sangat berat. Percayalah, ini lebih berat dari cicilan KPR.

***

Dari refleksi cerita saya di atas, dan beberapa anjuran dari buku yang berjudul “Dear Ijaewale or A feminist Manifesto in Fifteen Suggestions” karya Chimamanda Ngozi Adichie yang saya baca, ada beberapa yang bisa kita lakukan untuk menciptakan kesetaraan dalam perkawinan. Berikut refleksi yang saya buat.

Baca Juga  Efektifkah Penerapan Pola Asuh Macan pada Anak?

Pertama adalah merevolusi sudut pandang. Cerita tunggal tentang ketimpangan gender harus menjadi cerita jamak. Konstruksi tentang laki-laki dan perempuan yang tergambar dalam sistem budaya patriaki harus kita tiadakan.

Semua gender sama berharganya dan sama pentingnya. Perempuan sama berharga dan pentingnya dengan laki-laki atau yang lainnya. Ini penting, sebagai modal utama dalam mewujudkan kesetaraan.

Selanjutnya untuk menciptakan kesetaraan dalam perkawinan adalah dengan melakukannya bersama-sama. Sebagai individu yang bersatu dalam perkawinan, saya dan suami punya peran dan tanggung jawab yang sama.

Tak ada peran atas gender tertentu. Kami punya tangung jawab yang setara atas tugas domestik begitu juga dalam hal mencari nafkah. Setara tidak harus lima puluh lima puluh. Setara yang saya maksud tergantung kebutuhan masing-masing.

***

Misalnya saja dalam hal pengasuhan, kami harus melakukannya bersama-sama. Karena anak adalah tanggung jawab bersama. Sejatinya seorang ayah adalah kata kerja begitu juga dengan seorang ibu. Kata kerja yang berarti melakukan, jadi keduanya harus “melakukan”nya.

Upaya selanjutnya adalah menghargai perbedaan. Perbedaan adalah suatu hal yang normal dan biasa. Banyak orang menempuh jalan yang berbeda dan selama jalan itu tidak membahayakan orang lain itu adalah jalan yang sah dan harus kita hormati.

Saya tak perlu memaksakan kebenaran saya untuk suami begitu juga sebaliknya, selama jalan yang kami dipilih tak melanggar perintah Tuhan dan membahayakan atau merugikan orang lain. Perbedaan adalah sebuah keindahan dalam kebersamaan. Meski terkadang sulit untuk menyatukan antara mauku maumu menjadi mau kita, namun itulah seni kehidupan yang harus dilewati bersama.

Selanjutnya yang tak kalah penting adalah rasa cinta dan kasih sayang. Ini adalah bumbu penyedap dalam sebuah perkawinan yang berguna sebagai modal menumbuhkan kepedulian satu sama lain.

Baca Juga  Faktor Budaya Banyak Mempengaruhi Maraknya Perkawinan Anak

Seperti tujuan pernikahan yang tertuang dalam Surah Ar-Rum ayat 30, bahwa rasa cinta dan kasih sayang adalah point penting untuk menciptakan ketenangan. Mencintai bukan hanya soal memberi, tapi juga soal menerima.

Menciptakan kesetaraan dalam rumah tangga memang bukan perkara mudah, namun ini bisa diupayakan bersama. Dimulai secara personal dan lingkup terkecil yaitu keluarga. Dan yang terpenting adalah menikmati setiap prosesnya.

Bagikan
Post a Comment