f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
walimah

Prosesi Walimah; Menjalankan Ajaran Agama atau Pamer Kelas Sosial Semata

Potret prosesi acara pernikahan/walimah di banyak tempat selalu menunjukkan ciri yang beragam. Sesuai dengan tradisi yang berlaku di masyarakat tertentu. Bukan tentang ijab-kabul tentunya, karena jika berbicara ijab-kabul, maka di mana saja tetap hampir sama berlakunya. Yang menjadi pembahasan adalah tentang rangkaian acara atau resepsi atau dalam bahasa agama biasa disebut dengan walimatul ursy.

Orang yang hidup dalam lingkungan sosial geografis jawa, maka cenderung akan melakukan rangkaian walimah dengan mengikuti standar yang biasanya berlaku di Jawa. Tentu dengan segala ornamen dan pakaian serta prosesi acara yang sangat lekat dengan nilai-nilai dan asosiasi yang berkembang dalam tradisi jawa.

Begitu pula dengan orang dari suku lain. Tentunya nilai kedaerahan juga penting untuk menunjukkan identitas kesukuan tersebut. Maka hampir tidak pernah kita jumpai, ketika semisal orang Jawa kemudian dalam prosesi walimah atau resepsi menggunakan adat Minang misalnya. Karena hal tersebut jelas akan menyalahi nilai primordial. Yang meski tidak ada aturan tertulisnya, akan tetapi tetap akan melanggar suatu pakem tradisi yang telah berjalan.

Walimatul Ursy dalam Bingkai Ajaran Agama

Pernah dalam suatu kesempatan, seorang teman yang hendak menikah, kemudian menanyakan tentang hukum mengadakan walimah. Entah karena persoalan dana atau apa, pertanyaan tersebut terlontar darinya. Saya membaca maksudnya dan memberikan jawaban bahwa walimah adalah salah satu sarana untuk menginformasikan tentang hubungan yang telah sah antara dua insan. Jadi perintah Nabi untuk mengadakan walimah meski hanya dengan menyembelih seekor kambing, bukanlah perintah wajib.

Dalam hal tersebut tentu Nabi membuat parameter menyembelih seekor kambing menjadi suatu hal yang sangat sederhana. Karena memang budaya orang Arab jelas seekor kambing bisa jadi hanya cukup buat beberapa orang. Maka untuk ukuran mengadakan acara semacam walimah, jelas sangat sederhana.

Baca Juga  Berbaktilah Sebelum Terlambat

Akan tetapi meski dengan kadar yang sederhana semacam itu, tetap terdapat anjuran untuk mengadakan sebagai bentuk kesyukuran dan sekaligus mengandung suatu spirit untuk mengabarkan hubungan suami-istri tersebut agar tidak terjadi fitnah di kemudian hari. Karena memang dahulu aspek penyebaran informasi belum dapat terakses dengan mudah layaknya yang kita alami di masa sekarang ini.

Untuk ukuran kita di kampung misalnya, jika memang menyembelih seekor kambing memang terlalu berat, dalam konteks keluarga dengan ekonomi tertentu. Maka tidak harus dengan cara tersebut, bisa kemudian dengan memberikan makanan ala kampung, semisal tempe, tahu, telur ataukah ikan laut misalnya. Dan hal itu tentu tanpa mengurangi sakralitas nilai dari walimah itu sendiri.

Walimatul Ursy dan Tolak Ukur Kelas Sosial dalam Masyarakat

Pernah seorang tetangga demi untuk mengadakan acara walimah anaknya, sampai harus hutang kesana kemari untuk sampai pada taraf ‘pantas’ untuk mengadakan suatu acara walimah. Tentu hal tersebut sama sekali tidak salah, dengan komitmen yang tentunya akan membayar hutang-hutang tersebut. Toh, bahwa menikah hanya sekali seumur hidup.

Akan tetapi ketika itu akan menyisakan beban di hari-hari berikutnya, tentu sangat sayang. Sementara dengan tidak menempuh cara itu, acara pernikahan juga tetap dapat terlaksana tanpa sedikit pun mengurangi nilai kesakralan suatu hubungan. Lantas kemudian apa yang hendak kita cari dari kemewahan acara? Yang hanya berlangsung sebentar saja namun menyisakan beban yang menggelayut di pikiran setelahnya.

Tentu beragam alasan mulai dari sisi kepantasan sampai upaya membahagiakan seorang anak, katakanlah demikian. Akan tetapi apa hal itu tidak malah menunjukkan, suatu keinginan untuk mencoba berlomba dan tidak mau kalah begitu saja, oleh tetangga sebelah, maupun keluarga dan kawan karibnya.

Baca Juga  Lebih Besar Manakah, Dosamu atau Allah Swt?

Lain lagi ketika hal tersebut terjadi dalam konteks seseorang atau keluarga yang notabene mampu secara ekonomi. Maka acara walimah dengan begitu mewah akan berlangsung, dengan berbagai hal tersaji dan beragam ornamen acara yang mentereng. Di sinilah kemudian jurang perbedaan itu ada. Dan masyarakat mulai melakukan identifikasi bahwa ukuran kemampuan dan kemapanan seseorang adalah dengan cara melihat bagaimana acara walimah keluarga yang bersangkutan.

Karena stigma mampu dan tidak mampu sudah lekat dalam tampilan acara walimah ini. Maka tentu pihak yang bersangkutan merasa tertantang untuk mengadakan acara dengan balutan kemewahan, hanya dengan poin supaya mendapat penilaian ‘mampu’ oleh masyarakat sekitarnya.

Maka yang terjadi kemudian, suatu seruan ajaran dengan spirit mulia, berbelok arah menjadi suatu identitas sosial. Karena tingkat kemapanan seseorang terukur dengan cara seperti itu, maka kelas menengah ke bawah menjadi tertantang untuk menempuh cara demikian. Terlebih kelas menengah ke atas malah menjadikan hal tersebut seolah sebagai pengukuhan jati diri sebagai keluarga mapan.

Suatu Stigma yang Melakat adalah Tanggung Jawab Bersama

Ketika terdapat pemikiran bahwa anggapan masyarakat yang menjadikan seseorang untuk terbawa arus ke sana dan ke mari. Maka dalam hal walimatul ursy agaknya juga demikian. Maka untuk mengurai hal ini, sudah saatnya masyarakat memulai suatu anggapan baru. Bahwa walimah yang sederhana maupun yang terkesan mewah hanya persoalan biasa. Keduanya tidak membuktikan apapun, kecuali bukti perwujudan mengamalkan suatu ajaran.

Format terselenggaranya acara tidak menjadi persoalan yang layak dibincang dan diberikan penilaian yang tendensius. Karena hal ini tentu akan memakan korban, kalau mau dikatakan demikian. Sebagaimana kasus seorang dalam taraf keluarga menengah ke bawah yang harus berobsesi untuk mengadakan acara yang terkesan mewah atau butuh sekian banyak dana. Dan hal itu kemudian ditempuh dengan cara berhutang ke sana ke mari, dan menyisakan luka di kemudian hari.

Baca Juga  Teologi di Balik Tangisan Manusia (2)

Padahal kalau motifnya adalah untuk membahagiakan sang anak. Bisa jadi sang anak lebih bahagia ketika uang tersebut diberikan pada mereka, untuk modal kehidupan baru yang akan dijalani bersama pasangannya.

Orang dengan kelas menengah ke atas bisa jadi menjadi korban stigma ini juga. Ketika niat pengamalan suatu anjuran agama, kemudian karena stigma dalam masyarakat sedemikian rupa, maka nilai itu bergeser menjadi sekedar adu gengsi dengan orang lain, dan berubahlah acara tersebut menjadi ajang untuk pamer gengsi dan perlombaan kelas sosial semata.

Bagikan
Post a Comment