Drakor dan Absennya Peran Lembaga Sensor
Sering kita mendengar kata ‘Sarangheo’ dengan mengangkat jari telunjuk dan jempol menyatu, membentuk huruf V yang terlihat seperti lambang cinta. Atau banyak terdengar orang menyebut ‘Oppa’, didengungkan di mana-mana oleh kaum muda, dewasa sampai ibu-ibu–tak mengenal usia. Pria-pria berwajah tampan pun melintas di beranda media sosial.
Ya, benar sekali, bila dikatakan pesona drama dari negeri Ginseng telah menghipnotis banyak kaum hawa di negeri ini termasuk diriku sendiri. Bukan hanya terpesona oleh wajahnya tetapi gaya busana yang mereka pakai, model rambut, tata rias sudah menjadi trend di kalangan anak muda saat ini.
Awalnya rasa penasaranku muncul setelah melihat beberapa cuplikan drama korea dengan caption yang menarik, hadir baik di TikTok maupun instagram. Mulailah jari jemari ini mencari rekomendasi drama yang memiliki rating tinggi. Satu, dua, tiga dan seterusnya, satu persatu menarik perhatianku.
Dan akhirnya lambat laun secara konsisten, aku menyempatkan waktu untuk menuntaskan rasa keingintahuan, mengapa banyak orang yang kecanduan drama Korea hingga lupa waktu.
Beberapa drama Korea yang aku tonton di antaranya ‘Hospital Playlist’. Drama yang menceritakan arti persahabatan yang terjalin di antara 5 orang dokter. ‘Under The Queen Umbrella’, drama Saeguk yang menceritakan tentang kehidupan keluarga kerajaan. Sang Ratu yang harus berperan sebagai ibu yang harus memahami semua anak-anaknya.
Masih ada beberapa judul lain yang mengena di hati, tema yang baik dan pesan yang tersampaikan sangat mudah ditangkap. Konflik yang tidak berkepanjangan, dan rasa dendam atau cemburu dilampiaskan dengan cara yang masuk akal. Jadi masih ada kenikmatan saat menonton dan tidak terlalu menguras emosi.
Tetapi ada hal lain yang menarik perhatianku. Gaya berpacaran yang mereka tampilkan di setiap film yang sangat tidak cocok dengan budaya kita. Sex bebas dan hidup bersama tanpa pernikahan sering kali ditampilkan hampir di setiap drama yang aku tonton.
Kemajuan teknologi mempermudah segalanya, termasuk untuk dapat mengakses semua judul secara gratis. Asal ada kuota atau berburu WiFi gratis langsung unduh dan menonton drama premium, tanpa jeda iklan. Jadi sangat nyaman menonton semua drama yang diinginkan.
Satu ketika saat bersantai dan melepaskan penat, sambil duduk di kursi sofa ku ambil handphone. Mulai waktunya mencari drama baru, saya tertuju pada satu judul drama, ‘Fanta G-spot’ yang menarik rasa penasaran ku karena judulnya sudah terkesan vulgar. Dengan percaya diri, dan mengambil posisi rebahan di sofa.
Tiba-tiba yang muncul di layar handphone, membuat tubuhku loncat dan terduduk. Melihat adegan sepasang manusia memadu kasih dan terdengar suara rintihan. Tanpa benang sehelai pun di badan mereka, membuat ku panik dan segera ku matikan handphone, sambil tersenyum memandang ke mata anak-anak. Mereka sempat melirik tajam ke arahku dengan mata yang bertanya-tanya. Sungguh itu baru sebuah adegan awal tanpa sensor sama sekali.
Muncul kembali di beranda TikTok, wajah tampan Song Seung Heon dengan seragam militernya. Tidak makan waktu banyak untuk mengunduh film tersebut karena hanya berdurasi kurang dari 2 jam saja. Cerita perselingkuhan mengalir dan lagi-lagi adegan tanpa busana yang muncul di tengah-tengah film ‘Obsessed’.
Tiba pada satu kesimpulan, gaya pacaran yang bebas atau hidup serumah tanpa ikatan sebelum pernikahan. Inilah yang disajikan di dalam setiap drama korea. Dapat dipastikan hal ini lambat laun akan mempengaruhi cara pandang kaum muda, yang pada akhirnya ingin mencoba apa yang mereka lihat.
Adegan romantis yang disajikan membuat dadaku berdegup dan terpukau, ciuman lembut dalam waktu yang lama. Sudah saatnya kini pemerintah berperan untuk menengok Drama Korea yang sedang digemari di seluruh dunia.
Di era jaman modern tentulah sangat sulit untuk memilah karena teknologi terus berkembang pesat. Tetapi bagaimana pun hebatnya arus gelombang budaya asing yang masuk pasti ada jalan untuk membendungnya. Aplikasi gratis maupun berbayar seharusnya dapat disensor termasuk film-film yang ada di dalamnya.
Sejak tahun 1916 Lembaga Sensor Film ini bekerja untuk menetapkan status film bioskop, film televisi, sinetron, acara televisi dan iklan yang diedarkan di Indonesia. Pemerintah mungkin lupa bahwa sekarang jaman sudah berganti. Untuk dapat menikmati film yang beredar di bioskop tanpa sensor dapat dinikmati di rumah, di perjalanan, karena semua ada di dalam telepon genggam.
Jadi dapat dikatakan apa yang dilakukan pemerintah saat ini yang hanya berfokus pada hal-hal yang disaksikan di tempat yang ramai atau televisi dan tidak memperhatikan yang ada dalam genggaman. Yang justru semua terbuka dan semua nyata dan sangat mudah sekali untuk dinikmati.
Media sosial seperti TikTok, instagram dan facebook menjadi marketing yang paling efektif. Banyak orang yang mempromosikan drama atau film di media sosial. Sangat mudah mencari film rekomendasi untuk ditonton. Bertukar informasi gratis pun terjadi dalam percakapan di ruang komentar.
Dari sinilah pemerintah dapat memulai perannya untuk lebih memperhatikan drama atau film apa yang sedang banyak di tonton. Bekerja sama dengan pihak-pihak terkait yang turut berperan serta adalah jalan yang terbaik. Sebagai sebuah Lembaga yang berdiri tentunya bertujuan untuk melindungi bangsa dari apa yang dilihat dan dampaknya.
Tidak hanya di Indonesia saja, Drama Korea telah membuat banyak orang terpesona. Perjalanan waktu yang sangat cepat sehingga mereka masuk dengan mudah dan menjadi kesukaan di berbagai kalangan. Ada hal-hal baik juga disajikan dan dapat dijadikan contoh, bukan gaya pacaran atau kehidupan bebas mereka. Bijaklah memilih apa yang akan di konsumsi oleh mata, dan tetap menjaga generasi muda dari pengaruh dunia luar. Tidak menutup diri, tetapi tetap memiliki rambu-rambu pada budaya luar yang tidak sesuai dengan budaya bangsa.
General Manager Hotel. Hobi : Memasak, bercocok tanam, membaca, menulis. IG santi_christianto FB Santi Christianto.
