f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
muslimah

Muslimah dalam Arus Modernisasi

Di tengah gencarnya informasi tentang konsep citra perempuan modern, kaum muslimah Indonesia sering kalang kabut, rendah diri, dan bersikap defensif. Serbuan informasi itu banyak beredar melalui majalah bergenre perempuan dan dunianya, yang secara terselubung telah mendogma sebuah opini “Kalau tidak menjadi modern berarti tetap ingin tradisional, konservatif, atau bahkan terbelakang/primitif”.

Sejarah Konsep Emansipasi Barat

Secara historis, puluhan majalah Indonesia yang bergenre perempuan dan dunianya mulai bermunculan secara pesat pada dasawarsa 70-an. Majalah-majalah itu, sedikit-banyak saling berebut memasyarakatkan sebuah “emansipasi”. Emansipasi merujuk pada modernisasi. Sehingga secara tidak langsung, para pembacanya terbius dengan identitas perempuan modern versi budaya barat, seperti perempuan berpendidikan, tegas, mandiri, aktif, lincah bergaul, professional, menguasai etiket dan bahasa internasional, bebas dan netral dari ikatan adat maupun agama, dan berpenampilan prima.

Citra itu terbentuk dalam untaian kata dan unggahan foto hampir di setiap rubrik. Sebutlah profil perempuan populer di dalam dan di luar negeri kemudian rubrik promosi fashion, kosmetik, dan barang lux lainnya, rubrik-rubrik perempuan karir, dan perempuan berprestasi.

Muslimah dalam Menghadapi Tantangan Zaman

Bagaikan menegakkan benang basah, muslimah di perkotaan yang menjadi sasaran utama itu begitu bersusah payah membentengi diri. Di mana-mana, terselenggara berbagai seminar, simposium atau diskusi mengenai perempuan, di bawah semboyan  “Islam menghadapi tantangan zaman”.

Narasi tersebut menjadi gambaran keraguan akan posisi nilai islam di era modern. Di samping goyahnya kepercayaan diri sebagai penganut Islam, muncul perasaan benci, tapi ingin ikut berkenalan dengan barang baru “emansipasi impor” itu. Sehingga, arus modernisasi yang tak terbendung dalam konteks emansipasi muai mencari pembenaran dalam agama.

Di satu sisi, kita melihat bagaimana gaya hidup Barat dengan kemerosotan moralnya telah merusak generasi muda dan kehidupan keluarga. Sedangkan di sisi lain, tampak pula bagaimana adat istiadat Timur mulai dihidup-hidupkan kembali melalui kebiasaan serba upacara, ramah-tamah, tata krama, dan berbagai pantangan berdasar mitos yang cenderung tidak masuk akal.

Baca Juga  Bagaimana Islam Memandang Budaya Hedon?

Kebangkitan kembali budaya kuno dari kuburnya, jelas tidak akan memperbaiki kejatuhan “harga” perempuan masa kini, karena adat Timur pada dasarnya sangat merendahkan perempuan. Seperti adagium Jawa yang berbunyi “surgo nunut neroko katut” (selalu ikut suami, baik ke surga maupun ke neraka), adanya keharusan pembakaran bersama mayat suami di India, kesabaran membiarkan suami membawa pelacur ke rumah sendiri di Jepang, ketegaan membunuh dan mengubur hidup-hidup anak perempuan sendiri di masa Arab jahiliyah, dan lain sebagainya adalah contoh-contoh ekstrem dalam peradaban Timur. Dalam mabuk adat yang produksinyanya sendiri, manusia memang dapat buta mata dan hatinya terhadap kebenaran dan keadilan, bahkan juga peri kemanusiaannya.

Budaya Timur atau Barat?

Penelitian terakhir membuktikan bahwa praktik diskriminatif terhadap kaum muslimah di beberapa negeri Islam ternyata berasal dari tradisi menyimpang, karena pengaruh pandangan Yahudi dan Kristen dalam menafsirkan kisah Adam dan Hawa (Baca selengkapnya: Jane. I smith, dan Yvonne Y. Haddad, “Hawa citra perempuan dalam Al-Quran dan Hadits”, dalam Ulumul Qur’an, No. 1; dan Riffat Hassan, Teologi Perempuan dalam Tradisi Islam: Sejajar di hadapan Allah”, dalam Ulumul Qur’an, No. 4).

Jalan buntu ke Timur maupun ke Barat sebenarnya merupakan peluang bagi kesadaran umat Islam untuk mempelajari kembali nilai-nilai Islam yang sejati serta menerapkannya dengan sepenuh keyakinan. Tidak akan ada lagi bagian dari ketetapan dan pandangan Islam yang perlu ditutup tutupi. Tidak ada lagi bahasan parsial yang bernaung di bawah semboyan “Islam menghadapi tantangan zaman”, karena pada dasarnya kelahiran dan kebangkitan Islam di zaman jahiliyah kuno dulu dan di zaman jahiliyah modern sekarang adalah untuk menantang zaman.

Hal ini menjadi menarik, karena sejatinya seluruh konsep islam tentang perempuan sangatlah bersandar pada prinsip kemanusiaan. Untuk itu, Rasulullah mewanti-wanti kepada seluruh umatnya pada saat Haji Wada’:

Baca Juga  Dehumanisasi Perempuan dan Tajusalatin Industrialisme

 اتَّقُوا اللهَ فِـي النِّسَـاءِ، فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَـانَةِ اللهِ، وَاسْـتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ، وَلَهُنَّ عَلَيْكُـمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ

“Bertakwalah kepada Allah dalam urusan perempuan. Karena sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanat Allah dan dihalalkan atas kalian kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Maka hak mereka atas kalian adalah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan cara yang baik”. (HR. Muslim, No. 1218)

Islam, Marxisme, Liberalisme, dan Kerahiban

Dalam memandang persoalan perempuan, Islam cenderung lebih manusiawi ketimbang paham lain, seperti Marxisme, Liberalisme, dan Kerahiban. Paham Marxis meyakini bahwa terbentuknya keluarga hanyalah karena ketergantungan perempuan secara ekonomis kepada laki-laki, yang mana paham ini secara tidak langsung dapat berpotensi menghancurkan sistem keluarga yang ada (Al-Usrah Al-Muslimah, 1978).

Adapun paham liberalis yang menganut teori Freud, berpendapat bahwa terbentuknya keluarga hanya karena naluri seksual. Ketika pemikiran ini bertemu dengan paham free sex, maka sudah barang tentu praktik penghancuran keluarga pun berpacu dengan sendirinya. Orang dapat memuaskan kebutuhan seksual dengan berbagai cara.

Lebih lanjut, paham kerahiban meliputi kepercayaan di luar Islam sebagai simbol kesucian. Hal ini justru ditentang oleh Rasulullah dalam beberapa hadis, karena perbuatan itu melawan fitrah serta dapat memutuskan tali kekeluargaan. Sedangkan Islam lebih kepada upaya menempatkan posisi perempuan pada pijakan yang kokoh berdasar moralitas dalam membangun sistem keluarga. Sehingga, perubahan zaman tidak akan pernah mengusik kesempurnaan ajaran Islam yang shahih dan shalih.

Editor : Naufalul Ihya

Bagikan
Post a Comment