f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sungkan menyapa orang

Fenomena Sungkan Menyapa Orang Lain

“Kenapa ya sekarang kalau bertemu dengan orang aku sungkan menyapa?” Anda merasa demikian? Bertemu dengan orang baru ataupun lama memang hal yang wajar dalam kehidupan sosial. Tapi mengapa sungkan sekali rasanya jika ingin menyapa mereka?

Suatu ketika saya sedang berbincang santai dengan teman-teman membicarakan tentang “sungkan menyapa saat bertemu dengan orang”. Rasa sungkan yang Saya alami ternyata pernah dialami oleh teman saya juga. Dari hasil diskusi tersebut, kami mengidentifikasi beberapa penyebab. Pertama, karena perkembangan teknologi yang membuat kami merasa lebih asik dengan ponsel masing-masing dan abai dengan orang-orang di sekitar kami.

Faktanya, suatu ketika ada seorang ibu sedang bertemu dengan empat orang temannya dan mereka mengobrol selama 3 jam, ibu tersebut sengaja mematikan data internet dan tidak memainkan ponsel selama obrolan berlangsung. Selama pertemuan mereka, hanya ibu itu yang tidak memainkan ponselnya, ia hanya memainkan ponselnya untuk foto bersama.

***

Berdasarkan pengalaman saya ketika sedang berkumpul dalam sebuah rapat kepanitiaan, hampir seluruh panitia dalam rapat justru asik memainkan ponsel masing-masing. Sehingga reflek saya pun ikut membuka ponsel lalu bermain media sosial. Akibatnya seluruh panitia tidak menyimak dan mendengarkan materi yang disampaikan dalam rapat.

Contoh lainnya terjadi di sebuah kantin sekolah. Berkumpulah lima orang siswa yang saat itu sedang menunggu makanan. Hampir kelima siswa tersebut dari awal datang ke kantin bahkan sampai makanan datang pun mereka masih saja memainkan ponsel.

Kemudian yang kedua karena lingkar pertemanan yang positif. Suatu waktu saya bertemu dengan tiga teman SMA saya yang telah tulus dan kami sudah sama-sama nyaman. Saking nyamannya saya dengan mereka, menjadikan saya sungkan untuk berkenalan dengan orang baru. Nyaman di sini dalam arti kami selalu pergi berempat, mulai dari ke kantin, jalan-jalan, hingga belajar pun kami selalu bersama.

Baca Juga  Erosi Nilai Budi Pekerti di Masa Pandemi

Dampak pertemanan positif ternyata dapat mempengaruhi karakter seseorang menjadi sedikit egois, dan berpandangan kalau mereka adalah ‘temanku bukan temanmu’. Yang pada akhirnya timbul dalam sebuah pertemanan yang namanya geng.

***

Penyebab yang ketiga yaitu karena pandemi Covid-19. Pandemi menjadikan kita tidak punya kesempatan untuk memahami karakter teman-teman dan orang baru. Hal ini terjadi pada diri saya, tepatnya pertengahan Maret 2021 saat dimulainya perkuliahan tatap muka. Suatu hal baru bagi saya, bertemu dengan teman-teman yang belum pernah bertemu sebelumnya. Saya dihadapkan dengan teman-teman yang memiliki karakter masing-masing, sehingga saya harus perlahan memahami sifat dan karakter mereka.

Keempat yaitu kepribadian yang cenderung berubah menjadi introvert. Pengalaman yang saya rasakan tentang poin ini yakni ketika saya lebih suka untuk menghabiskan waktu sendiri di rumah (tempat ternyaman pasti di kamar) mendengarkan musik, nonton film, dan tidur.

Kelima karena kurangnya peran orangtua dalam mendidik dan mengajarkan anak tentang etika. Anak meniru yang orang tuanya lakukan. Contohnya saat ada orang bertamu ke rumah, terkadang ada orang tua yang acuh dan tidak ramah dengan tamu. Kalau kata orang Jawa (kurang aruh, gupuh, suguh), maksudnya keramahannya dengan tamu itu minim. Hal seperti ini yang anak tiru dan ia terapkan dalam lingkungan pertemanannya. Anak menjadi tidak peka terhadap sekitar, sehingga dampak dari ini semua yaitu menjadi pribadi yang arogan, tidak peka dengan orang di sekitar dan acuh tak acuh.

***

Kemudian yang terakhir karena berfikir yang berlebihan atau overthinking. Ketika saya ingin menyapa orang, saya malah berpikir negatif tentang mereka. Dalam hal ini saya berfikir jika saya menyapa mereka, mereka akan menganggap saya sok kenal.

Baca Juga  Menulislah, Maka Anda Akan Masuk Surga

Berdasarkan beberapa penyebab tersebut, banyak dampak yang akan timbul; salah satunya yaitu menjadi pribadi yang kurang bersosialisasi, tidak peka terhadap orang di sekitar, mementingkan diri sendiri, dan  minimnya sikap kesopanan.

Menurut dr. Talitha Najmillah Sabtiari, sungkan menyapa atau takut berinteraksi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor genetik, trauma masa lalu, pola asuh di keluarga, tekanan sosial lingkungan, gaya hidup, kepribadian, dan lainnya.

Dengan demikian, tentu saja kita tidak mau terjebak dalam posisi itu bukan? Saat ini perkembangan zaman sangat berpengaruh terhadap karakter. Tentu kita harus pandai-pandai menyeleksi arus yang masuk dalam kehidupan kita. Mengikuti perkembangan zaman seperti menggunakan ponsel untuk berkomunikasi. Memang tidak salah, akan tetapi harus dapat memilih yang baik serta menggunakannya dengan bijak.

***

Berdasarkan poin-poin di atas, dapat kita simpulkan bahwa kemajuan teknologi dengan adanya ponsel dapat mempengaruhi sikap dan karakter. Dari beberapa poin di atas yang sangat berpengaruh yakni karena hiburan yang ada di media sosial, yang lebih menarik daripada harus menyapa orang di sekitar kita.

Dalam hal ini pengembangan karakter juga perlu ditingkatkan dengan cara mengadakan pelatihan kepada anak/peserta didik dengan mengangkat tema yang berkaitan dengan etika kesopanan dan sikap ramah terhadap orang lain.

Sungkan menyapa orang dapat kita lawan dengan cara niatkan diri kita dan tanamkan pikiran bahwa kita harus bersikap ramah terhadap orang lain, tanpa harus memikirkan respon orang tersebut kepada kita.

Bagikan
Comments
  • Vincensius Indra Prakoso

    Artikel yang bagus kak, lalu gimana dengan saya yang kadang main hape untuk menghindari kontak karena mungkin sedang dalam terburu buru ya? hihihi

    Juni 17, 2022
Post a Comment