f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
keterampilan

Sense of Belonging di Tengah Pandemi Covid -19

Oleh: Dyah Pikanthi Diwanti*

Kondisi pandemi saat ini  menjadi waktu istimewa dan berkesan di mana individu banyak belajar. Belajar untuk saling menjaga dalam hal kebersihan bukan hanya bagi dirinya sendiri. Namun lebih mendalam lagi saling belajar untuk menjaga kebersihan hati yakni dengan saling mengingatkan dalam hal kebaikan seperti yang terkandung dalam QS Al Ashr (103):1-3

Demi masa sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi , kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh , saling menasehati supaya menaati kebenaran dan saling menasehati supaya tetap di atas kesabaran”.

Kondisi penyebaran virus corona (covid-19) di saat ini menjadikan pembelajaran dan pembiasaan untuk lebih disiplin dan tertib diri terhadap kesehatan. Seperti cuci tangan, berwudhu, menjaga kebersihan lingkungan menjadikan penguatan bahwa Islam mengajarkan kebersihan.

Dari  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci; Dia Maha bersih yang menyukai kebersihan, Dia Maha mulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu”. (HR Tirmidzi) begitupun dari HR Ahmad, Muslim dan Tirmidzi “ Bersuci/ Thaharah itu setengah daripada Iman”. Kebersihan diri menjaga diri untuk senantiasa disiplin dan tertib dalam beribadah maupun beraktivitas.               

Adanya pandemi  ini senantiasa menjadi penguatan  sense of belonging  dalam pola asuh, asih dan asah yang merupakan bentuk spiritual parenting dalam keluarga. Kebutuhan mendasar ini merupakan kebutuhan fisik, psikologi dan afektif yang dibutuhkan anak dalam harmonisasi keluarga dan mengandung hikmah.

Sebagaimana yang tersurat dalam QS. An-Nahl ayat 125; “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”; nilai pembelajaran ini menjadi bekal anak sebagai generasi untuk berproses.

Sense Of Belonging sebagai Spiritual Parenting

Spiritual parenting tersebut teraktualisasi melalui bentuk 3P. Pertama, sense of belonging Pola Asuh menguatkan bahwa pemenuhan kebutuhan makanan yang bergizi, kebutuhan secara fisik yang menyangkut kebutuhan diri bagi kelangsungan hidup anak dapat diberikan meskipun untuk memastikan terpenuhi atau tidaknya secara utuh memiliki tingkat ukuran yang relatif. Bagi orang yang ‘mampu’ maka pemenuhan kebutuhan anak dapat saja terpenuhi dengan sendirinya. Namun bagi sebagian lain, maka ikhtiar untuk pemenuhan kebutuhan anak akan senantiasa diperjuangkan orang tua meski kondisi belum mendukung.

Seperti kondisi saat ini ( adanya penyebaran virus corona) bagi orang tua yang bekerja harian seperti pedagang kelontong dan lainnya akan merasakan hal yang berbeda dalam hal pendapatan. Sehingga momen adanya pandemi ini menjadi refleksi bersama bahwa Islam mengajarkan indahnya berbagi menumbuhkan sense of belonging. Contohnya adalah memberi zakat , shodaqoh, pembagian sembako bagi masyarakat yang membutuhkan seperti kondisi saat ini sangatlah berharga.

Kedua, sense of belonging  Pola Asih, di mana kasih sayang perhatian terhadap anak sangat besar dirasakan. Kebutuhan afektif ini akan menciptakan suasana ikatan batin yang kuat yang dibutuhkan dalam tumbuh kembang anak. Hikmah dari kondisi saat ini dimana aktivitas anak dan orang tua difokuskan dirumah menjadi sesuatu yang bermakna bagi keduanya. Momen yang biasanya tidak bisa bercengkrama, kini memiliki keluangan waktu untuk saling menguatkan. Bahwa orang tua yang biasanya pergi pagi pulang larut malam dengan segala aktivitasnya, saat ini merasakan suasana yang hangat di mana ada waktu luang untuk sekedar berbagi cerita di ruang keluarga.

Ketiga, sense of belonging Pola Asah, di mana stimulasi dalam interaksi keluarga antara orangtua dan anak terbangun. Kualitas dan kuantitas sangatlah penting untuk diseimbangkan. Bagaimana tidak, kalau saat sebelum adanya penyebaran virus ini mungkin terpenuhi sebagian saja secara kualitas. Namun saat ini kuantitas baik waktu dan kebersamaan di rumah, meningkatkan keseimbangan stimulasi dalam pemenuhan kebutuhan psikologis seperti adanya kegiatan bersama di rumah dengan bersih-bersih rumah, tadarus bersama sampai rutinitas sholat berjamaah di rumah.

Dari penguatan sense of belonging  pola asuh asih dan asah ini, menjadi bagian refleksi bahwa back to basic adalah keyword dalam hal membangun ketahanan generasi di tengah Pandemi Covid-19 yang dimulai dari keluarga. Solidaritas dengan penguatan sense of belonging yang dimulai dari keluarga senantiasa diciptakan untuk kebaikan bersama. Semoga wabah virus ini segera berlalu sehingga denyut kehidupan masyarakat kembali berjalan normal. Dan insyaallah atas ijin-Nya pemulihan atas dampak yang terjadi dari adanya wabah virus ini dapat segera berangsur membaik. Aamiin,, Wallahu a’lam bishashawab. 

*Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Airlangga

Bagikan
Post a Comment