Mengubah Pola Pikir Masyarakat tentang Perpustakaan
Perpustakaan adalah tempat yang sudah tidak asing bagi banyak orang. Mulai dari anak-anak hingga orang tua, biasanya mempunyai pengalaman pergi ke perpustakaan. Baik saat ada program mengunjungi perpustakaan bersama sekolah atau karena harus meminjam buku untuk menyelesaikan tugas, perpustakaan terkadang menjadi ramai pengunjung. Tapi kapan terakhir kali kita mengunjunginya?
Kembali ke perpustakaan, arti dari kata perpustakaan sebagaimana tertuang dalam UU Perpustakaan pada Bab I pasal 1. Di situ dikatakan bahwa perpustakaan adalah sebuah institusi yang mengumpulkan pengetahuan terekam dan tercetak yang dikelola dengan metode khusus sehingga bisa memenuhi kebutuhan intelektualitas para penggunanya dengan cara interaksi pengetahuan yang berbeda-beda.
Sebuah institusi biasanya berupa sebuah gedung besar yang memiliki beberapa lantai. Apalagi jika gedung itu adalah sebuah perpustakaan di kota besar yang mungkin untuk segilintir orang sudah malas melihatnya. Sudah mana luas, tinggi, buku semua lagi. Mau ngapain di sana?
Berbeda dengan kota kecil, perpustakaannya biasanya hanya maksimal dua lantai dengan gedung yang terlihat sangat rendah hati. Tidak memiliki pilar-pilar besar seperti rumah mewah di sinetron atau gaya bangunan yang aesthetic yang bagus untuk menjadi latar belakang untuk ber-selfie. Melihat dari luarnya saja sudah tidak semangat, apalagi koleksi buku-bukunya di dalam.
Padahal kalau mau sesekali masuk ke dalam perpustakaan kota, bisa jadi tidak seburuk yang kita pikirkan. Pergi ke perpustakaan saat liburan bisa menjadi ide yang bagus. Selain ramah di kantong karena masuknya gratis, membaca di perpustakaan bisa memberikan banyak manfaat. Bisa menyirami iman yang mungkin sedang turun, memberikan inspirasi sebuah proses kreatif, atau bahkan membantu memecahkan masalah kehidupan yang mungkin sama dengan apa yang sedang seseorang alami. Kita pun mungkin akan kaget kalau ternyata koleksi bukunya pun juga mengikuti trend.
Sementara untuk orang tua, tidak perlu khawatir jika mau membawa anak. Justru perpustakaan bisa menjadi tempat yang mengesankan untuk anak karena dia akan selalu ingat saat membaca buku bersama ibunya. Atau saat dia pertama kali menemukan karakter fiksi yang ia sukai. Hampir semua perpustakaan di Indonesia sudah dilengkapi dengan ruang baca anak. Tempat yang bisa menyesuaikan kebutuhan anak mulai dari tinggi rak buku, dekorasi, dan jenis buku. Dan bahkan perpustakaan di kota yang saya tinggali, sudah ada fasilitas ini. Koleksinya pun oke. Padahal saya tinggal di kota kecil.
Tahun lalu saat saya pergi ke ibu kota bersama anak saya untuk menemani suami bekerja, saya merasa bosan kalau harus menghabiskan waktu di hotel saja. Dan entah apa yang saya pikirkan, saya teringat membaca sebuah artikel berita tentang Perpustakaan Taman Ismail Marzuki yang baru saja dibuka. Supaya tidak kecewa karena sudah jauh-jauh ke sana saya memastikan bahwa saya berhasil membuat reservasi dan tinggal masuk saja. Saya yang menggendong anak perempuan saya usia 1 tahun, langsung memutuskan mencoba pergi ke perpustakaan tersebut dengan menggunakan ojek online.
Dan betapa terkagumnya saya begitu melihat bangunan yang secara arsitekturnya pun megah dan abstrak. Sungguh merepresentasikan gaya arsitektur modern. Satu hal yang saya tidak menyangka adalah bahwa di Perpustakaan Taman Ismail Marzuki sangat lengkap permainan dan bukunya untuk anak. Bahkan ada kursi dan meja, lengkap dengan potongan-potongan lego kalau mejanya di buka. Lalu ada busy board dan beragam permainan motorik lainnya. Buku mulai dari bahasa Indonesia dan Inggris pun juga sangat lengkap dan baru. Saya pun merasa bersyukur memutuskan pergi ke perpustakaan tersebut alih-alih pergi ke arena bermain di mall Jakarta.
Setelah bersenang-senang pulang dari perpustakaan, justru ada satu kejadian yang membuat hati saya iba. Saat pulang menuju hotel dengan diantar oleh abang ojek online yang masih muda, dia bertanya: “Teh, masuk perpus situ (Perpustakaan Taman Ismail Marzuki) berapa?” Dan saya pun menjawab itu gratis. Abang ojolnya seperti terkejut tidak percaya. Dia pikir selama ini, untuk masuk ke area tersebut harus merogoh kocek yang mahal. Padahal selama itu dia sangat ingin pergi ke sana dengan putrinya yang senang membaca, namun dia berpikir bahwa tempat itu eksklusif untuknya. Saya pun menyemangatinya untuk mengajak keluarganya ke sana dan memberikannya informasi bagaimana membuat reservasi online.
Saya rasa para pemangku jabatan yang berkaitan dengan program literasi untuk Indonesia, sebaiknya memberi perhatian lebih pada masyarakat tentang perpustakaan setempat. Tidak hanya sekadar melakukan siaran pers bahwa ada perpustakaan baru dibuka. Melainkan bagaimana masyarakat tau pentingnya pergi ke sana apalagi tidak dipungut biaya sama sekali. Tidak hanya sekedar membangun dan memfasilitasi, tapi juga kontinyu melakukan edukasi.
Begitu pun juga kita sebagai masyarakat yang sudah sadar akan pentingnya membaca, bisa membantu membagikan pengalaman mengunjungi perpustakaan. Kita juga bisa memanfaatkan sosial media sebagai sarana mengkampanyekan kegiatan membaca. Hal ini bisa membantu menarik atensi orang lain tentang literasi dan perpustakaan.
Alasan supaya orang Indonesia terus semangat dalam menyebarkan semangat literasi adalah untuk bisa memenuhi salah satu syarat menjadi negara maju: menjadi masyarakat yang literat. Dan untuk menjadi masyarakat berliterat, kita harus meningkatkan kemampuan literasi. Tidak harus membeli buku-buku mahal, membangun kebiasaan membaca bisa kita mulai dari hal yang sederhana dan tidak membutuhkan biaya apapun, yakni membaca di perpustakaan.
Anak usia dini pun sudah seharusnya kita perkenalkan dan biasakan dengan perpustakaan dan buku, agar aktivitas membaca tidak hanya sekadar untuk mencari jawaban tugas sekolah, melainkan bisa membangun karakter anak serta berpikir kreatif dan kritis. Literasi juga membantu mengurangi paparan konten dewasa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan di kemudian hari. Sudah saatnya pergi ke perpustakaan menjadi kegiatan yang lebih sering dilakukan. Baik perpustakaan di kota kecil atau besar, masyarakat sebaiknya melihat efek yang bisa mereka dapatkan setelah memiliki kesadaran akan kebutuhan membaca.
Walter Cronkite, jurnalis Amerika, pernah berkata: “Whatever the cost of our libraries, the price is cheap compared to that of an ignorant nation.” (Berapa pun biaya perpustakaan kami, harganya murah dibandingkan dengan bangsa yang tidak tahu apa-apa).
Ibu yang hobi belanja, membaca, dan menulis buku anak.
