Selamat Milad, Perkumpulan Para Baper
Konon, struktur otak antara laki-laki dan perempuan memang diciptakan berbeda. Lihatlah riset yang dilakukan oleh peneliti asal University of Basel. Riset yang dilakukan di Switzerland ini menemukan fakta menarik. Penelitian ini mengungkapkan bahwa, otak anak laki-laki memiliki volume insula anterior atau volume materi abu-abu yang tumbuh lebih besar pada bagian yang menyebabkan perilaku kurang peka terhadap perasaan dan emosi. Hal ini tidak terjadi pada otak anak perempuan. Begitu menurut riset itu.
Insula anterior adalah daerah otak yang terlibat dalam pengenalan emosi dan empati pada orang lain. 19 persen dari bagian otak tersebut adalah bagian yang tidak peka terhadap perasaan dan emosi. Riset yang melibatkan 189 remaja sebagai objek penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui apakah sifat-sifat seperti kurang peka terhadap perasaan dan tidak emosional—terkait dengan perbedaan struktur otak. Riset ini juga menyimpulkan: Ternyata struktur otak yang berbeda antara anak perempuan dan anak laki-laki itulah yang menentukan kepekaan terhadap perasaan dan emosi.
Pada tahap selanjutnya, istilah “empati” inilah yang kemudian dalam bahasa kita sehari-hari berubah menjadi “baper”. Yakinlah sudah banyak yang tahu: Baper adalah akronim dari “bawa perasaan”—semacam satu kondisi dimana perasaan lebih dominan daripada yang lain. Pernah, kan, melihat perempuan menangis tersedu-sedu saat menyaksikan satu kontestan kompetisi dangdut di televisi harus dieliminasi pada suatu malam? Tapi, pernahkah laki-laki—atau bapak-bapak—menangis untuk hal serupa, Ibu-ibu?
Dan. Boleh percaya-boleh tidak. Nasyiatul Aisyiyah adalah perkumpulan yang dihuni dan dirawat oleh manusia-manusia supersenstif—yang amat hobi baper sebab hal-hal, yang, acapkali remeh-temeh! Yang rapat pimpinan bisa dengan cepat berubah menjadi ajang gosip: Sebab ada salah satu anggota yang gonta-ganti tas. Atau ada yang tiap rapat bibirnya selalu tampak ranum kemerahan—apa gerangan merk gincunya (?). Atau ada yang tiap bertemu selalu berbusana serasi—dari atas hingga bawah, dari kerudung sampai kaos kaki. Apa jadinya jika makhluk gampang baper ini berkumpul menjadi satu? Ya, pasar malam bisa dengan cepat menjadi pindah ke sini. Dasar, emak-emak.
Ternyata kantor adalah tempat ngrumpi yang lumayan strategis.
Yang mungkin belum banyak diketahui oleh banyak orang: Oleh karena digerakkan oleh para manusia baper itulah, di internal, perjalanan Nasyiatul Aisyiyah sesungguhnya, ehm, penuh lika-liku yang kerap melibatkan perasaan yang cukup dominan. Belum lagi jika ternyata terjadi kesenjangan antar-orang—yang tercipta entah disengaja atau memang alamiah. Masing-masing bahkan ada yang sampai pada tahap membuat geng sendiri-sendiri. Sebenarnya, situasi begini—pada titik tertentu—bisa dianggap wajar sebagai bagian dari dinamika sosial sebab biasanya seseorang punya—semacam rasa sreg dengan orang tertentu. Tapi, ya, itu, karena semuanya melibatkan perasaan yang dominan, akhirnya kondisi ini menjadi terasa… ah, begitulah.
Apalagi, jika situasi itu sampai pada tahap: “Saya tidak suka dengan si itu”. Bisa-bisa nggondok-nya hingga empat bulan sepuluh hari—lamanya seperti masa iddah. Lagi-lagi, apakah hal ini wajar? Tergantung, sih. Tapi sejauh ini, situasi yang buruk dapat dihindari—atau setidaknya diminimalisir. Berdasar pengalaman saya. Kan, rata-rata mereka sudah dewasa. Setidaknya dewasa menurut usia. Hanya, ya, itu tadi, karena semuanya melibatkan perasaan yang dominan.
Tapi yang sungguh tidak kalah remeh-temehnya. Ada yang batal ikut rapat gara-gara sedang tidak ada jilbab—mungkin kotor atau sedang dicuci—yang warnanya senada dengan baju yang rencananya akan dipakai. Jadi, saking bapernya, urusan padu-padan baju ternyata juga bukan perkara sembarangan, Sis.
Apalagi sosial media. Ia hadir menjadi medium yang sungguh tepat untuk menyalurkan aneka kepaberan dari makhluk Tuhan yang satu ini. Manusia-manusia supersensitif ini seolah menemukan “rumah” pertamanya. Berbagai jenis kebaperan bisa ditumpahkan di sana. Melalui banyak lini yang tersedia—mulai blog, jejaring sosial, blog mikro, hingga layanan berbagi media. Semuanya bisa menjadi senjata mematikan berikut peluru dengan aneka rupa kalibernya. Dipersenjatai gawai sebagai juru bidiknya. Akhirnya, pada titik yang lain, perkumpulan para baper ini akhirnya berbondong-bondong bermigrasi ke sosial media juga.
Pada akhirnya, percayalah, pasar malam tadi bisa berubah tempat pula di sosial media.
Ini pertanyaan menarik: Apakah hal serupa terjadi juga di organisasi para laki-laki? Mungkin saja iya. Mungkin saja tidak. Tapi, kan, saya tidak pernah bergabung menjadi anggota organisasi para laki-laki. Jadi, kurang tahu pasti. Mungkin saja, pergerakan yang dihuni para laki-laki kadang kala juga ada situasi yang melibatkan perasaan secara dominan. Tapi mungkinkah laki-laki sebaper perempuan?
Pada 16 Mei tahun ini, Nasyiatul Aisyiyah genap berusia 89 tahun. Luar biasa! 89 tahun bisa bertahan mengelola manusia-manusia baper. Selamat milad Nasyiatul Aisyiyah. Mari kita kelola kebaperan ini dengan baik. Toh, baper tidak selamanya buruk. Selamat milad Nasyiatul Aisyiyah. Para perempuan yang terdidik tiap hari, kemuliaan Islam dicari, bekerja digemari—meski kaum baper sejati. Usiamu sudah tidak lagi muda. Mari berguna untuk bangsa dan dunia.
Ketua Departemen Kader PWNA Jawa Timur
