Monografi Kerukunan dan Jejak Damai Santo – Sultan di Balik Perang Salib
Penulis hendak mengajak pembaca pada peristiwa toleransi di balik Perang Salib yang tak banyak yang mengetahuinya. Ini adalah karya agung Paul Moses, seorang berkebangsaan Amerika Serikat dengan judul bukunya The Saint and The Sultan: The Crusades, Islam, and Francis of Assisi’s Mission of Peace. Kisah tentang pemuka agama yang memiliki wacana hebat soal kehidupan rukun di masa depan.
Sebuah catatan jejak perdamaian, kisah yang berusia hampir delapan ratus tahun tetapi tetap bergema dalam era ketika umat Kristen dan umat Islam saling curiga. Setidaknya, sampaian kisah ini akan mengubah pandangan pembaca dan membangun paradigma yang konstruktif dan dialogis terhadap sebuah permasalahan.
Perang Salib : Santo dan Sultan
Perang Salib sudah berkecamuk selama dua abad lebih, pasukan Kristen merebut Yerusalem dari pasukan Muslim pada 1099 M; tetapi Salahudin mengambil alih kembali kota suci tersebut delapan puluh delapan tahun kemudian. Dalam dekade berikutnya, para pemimpin agama meluncurkan upaya militer untuk saling rebut kota suci tersebut. Perang antar komunitas agama ini terus berlangsung berabad-abad.
Jejak perdamaian ini dimulai saat Sang Santo, Fransiskus ikut dalam pertempuran sengit di Assisi, kota kelahirannya. Tekanan yang begitu traumatik dampak perang menuntun Fransiskus dari Assisi menemui Sultan, menyerukan hidup damai dan rekonsiliasi. 1219 M di luar kota Damietta, Mesir yang sedang terkepung oleh peperangan, Sang Santo, Fransiskus dari Assisi berkeyakinan untuk menemui Sang Sultan, Malik al – Kamil dari Mesir.
Setelah melewati beberapa drama alot menjelang pertemuan upaya rekonsiliasi; Sang Santo akhirnya bisa berkhotbah tentang ajaran agama yang autentik terhadap peperangan di hadapan Sultan dan para pengikutnya. Ia mengutus diri sebagai juru damai, melawan hegemoni para pemuka agama yang abai terhadap problematika moral yang berabad – abad.
Dia menemui Sultan dengan spirit tersebut, bahwa kekerasan tidak adalah tidak benar dan merupakan perspektif yang salah dalam ekspansi pemeluk agama. Sungguhpun, Sang Sultan telah berlaku toleran memperbolehkan Fransiskus berkhotbah seorang diri di tengah komunitasnya.
Sang Sultan dan Sang Santo menyerukan masa lalu yang kelam yang mesti dipulihkan dan penghentian siklus kekerasan akibat Perang Salib. Walaupun konsensus damai tak serta merta terwujud dalam waktu yang dekat pasca pertemuan tersebut. Kisah Sang Santo dan Sang Sultan menjadi cermin refleksi atas sikap intoleran, ketertutupan, pendiskreditan, dan tindakan diskriminatif yang memicu perselisihan bahkan kekerasan. Mereka mengajarkan toleransi, saling percaya dan kepastian kerukunan di masa depan.
Monografi Kerukunan Umat Beragama di Ujung Barat Pandeglang
Agama merupakan elemen penting yang melahirkan peradaban sekaligus menjadi pilar utama penyangganya. Hampir semua peradaban di dunia tak lepas dari peran serta agama. Agama menjadi sumber inspirasi, fondasi dan etos yang menjaga keberlangsungan peradaban. Namun, tidak terpungkiri bahwa agama juga kerap ikut dalam alasan hancurnya peradaban, di sini agama kehilangan substansinya.
Secara normatif, agama selalu mengajarkan nilai – nilai kearifan, kebajikan, dan kasih sayang (rahmah). Namun, realitas sosial yang dihadapi selalu berada dalam kondisi yang berbalik. Ujaran kebencian, eksklusivitas, isu sektarian dan pendiskreditan agama tertentu sering kita temui di ruang – ruang perjumpaan publik. Kondisi realitis – empiris umat beragama yang diskriminatif dan intoleran sangat paradoksal dengan ketentuan normatif – ideal agama yang mengajarkan kearifan dan persaudaraan.
Di tengah segala permasalahan SARA yang terjadi, Indonesia memiliki lanskap kehidupan keagamaan yang menarik dan unik. Ini adalah salah satu monografi singkat tentang potret kerukunan umat beragama di Labuan, daerah pesisir di ujung barat Kabupaten Pandeglang.
Sepintas dianggap daerah yang dihuni oleh penduduk Muslim kental, karena menjadi basis Syarikat Islam saat masa perlawanan nasional dan keberadaan makam – makam ulama kharismatik pejuang kemerdekaan maupun pra kemerdekaan seperti Mama Asnawi Caringin, Syekh Daud Cigondang, dan Abuya Mukri. Namun, siapa sangka wilayah dengan populasi penduduk 56.000 orang ini mempunyai heterogenitas keagamaan dan etnis yang berbeda dari wilayah lainnya di Kabupaten Pandeglang.
***
Untuk skala kabupaten Pandeglang, hanya di Labuan di luar agama Islam sebagai agama mayoritas penduduk, dua komunitas agama lain (Hindu dan Kristen) dapat mengekspresikan kegiatan keagamaannya di rumah ibadah; Vihara Dhamma Ratana Labuan dan Gereja Pantekosta Labuan.
Selain rumah ibadah yang berdiri kokoh tanpa ada upaya konfrontasi, contoh kecil kerukunan itu terejawantah dalam kegiatan keagamaan atau tradisi tahunan seperti ngaleupeut (musim ketupat) dan Imlek. Masyarakat saling antar makanan sebagai perajut kebersamaan. Di tengah heterogenitas agama tersebut, interaksi sosial umat beragama begitu cair dan tak berjarak.
Dengan adanya modal sosial berupa sikap saling percaya (interpersonal trust) dan jaringan kewargaan (civic engagement) yang terkontruksi antar masyarakat membuat tindakan – tindakan terkoordinasi dengan baik. Di sini, komunitas muslim di Labuan tak memposisikan diri sebagai superioritas. Pola interaksi timbal balik (reciprocity interaction) antara anggota masyarakat yang berbeda keyakinan mampu menciptakan tatanan masyarat yang guyub dan toleran.
Wacana Keragaman Kaum Muda
Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Dhamanik mengungkapkan ada kecenderungan sikap intoleransi yang semakin menguat di kalangan anak muda terdidik. Temuan ini berdasarkan hasil kajian Komnas HAM sejak 2012 – 2018. Ahmad mengungkapkan indeks kecenderungan sikap intoleransi semakin menguat hingga mencapai lebih dari 50 persen.
Kecenderungan intoleransi yang menguat tersebut terjadi pada anak muda di rentang usia 15 – 35 tahun. Secara spesifik, contoh kecenderungan dari sikap tersebut ialah penerimaan anak muda terhadap praktik agama orang lain. Jika ada individu dari agama lain beribadah di dekat tempat tinggalnya, dia menyatakan menolak.
Kehidupan bersama dalam masyarakat yang multi agama bisa berdiri jika ditopang oleh beberapa pilar, salah satu pilar tersebut adalah wacana keragaman yang dimiliki oleh anak mudanya. Memaknai wacana keragaman anak muda sebagai kekuatan yang efektif dalam mengcounter monopoli eksklusivitas dan intoleran di ruang publik.
Dengan membaca kisah jalan menuju rekonsiliasi di balik Perang Salib dan monografi kerukunan di ujung barat Pandeglang. Penulis berkesimpulan dalam konteks keIndonesiaan agenda utama anak muda baru ini adalah soal unifikasi keragaman (identitas dan politik).
Langkah menuju unifikasi itu bisa ditempuh dalam dua hal. Pertama, politik rekognisi anak muda – yakni anak muda yang menghargai keberadaan kelompok lain yang berbeda dalam realitas – empiris. Kedua, inklusivitas anak muda – seberapa mapan anak muda dapat mengasosiasi hal – hal yang majemuk di ruang publik.
Sebab, jika anak mudanya memiliki pola yang tertutup terhadap kemajemukan maka kecil peluang dari berbagai entitas kelompok masyarakat sipil (civil society) dapat merajut proses kehidupan secara bersama. Dua hal tersebut akan menentukan kualitas ruang publik, mengakui aspirasi warga Negara yang beragam, mengasosiasi keputusan secara kolektif demi pencapaian kebaikan bersama.
Anak kampung yang punya banyak mimpi. Belajar dan menjadi pembakti di Cendekiawan Kampung. Sesekali menulis di beberapa platform digital.
