f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
syafii maarif

Meneladani Syafii Maarif, Tokoh Pemikir Islam Progresif Indonesia

Kondisi kebangsaan kita saat ini masih belum mampu berpikir maju ke depan dan masih terus hidup di masa lalu. Bangsa yang belum juga merdeka dari pikiran dan perbuatan-perbuatan, yang berwatak kolonial. Baik dari pejabat pemerintah ataupun dari masyarakat. Yang mudah sekali tersulut amarahnya dan dapat menyebabkan perpecahan seperti permasalahan kebangsaan  kita dalam waktu dekat ini. Dalam tulisan ini penulis beranggapan bahwa sejarah perlu mencatat dalam era yang serba ruwet dan njelimet yang penuh huru-hara antar sesama bangsa.

Bahwa pernah ada pahlawan kemanusiaan yang tampil membela keberagaman, membela minoritas, membela kaum yang tidak berdaya, melawan pejabatpemerintah yang korup, melawan kebijakan pemerintah yang tidak berlandaskan Pancasila dan membaktikan segenap pemikirannya kepada masyarakat dan negara.

Kelahiran Buya Syafii Maarif

Mengenal sosok Ahmad Syafii Maarif sebagai tokoh Muhammadiyah dalam  konteks hari ini, bukan hanya sebagai tokoh Muhammadiyah saja. Melainkan kelahirannya di Indonesia hingga saat ini beliau adalah bapak bangsa bagi warga negara Indonesia. Meski, ia tidak mempunyai jabatan struktural dalam kursi pemerintahan di Indonesia; tapi Ahmad Syafii Maarif telah menjadi tokoh masyarakat kita baik di kalangan Persyarikatan ataupun non- Persyarikatan.

Dalam Autobiografi Ahmad Syafii Maarif “Memoar Sang Anak Kampung” Ahmad Syafii Maarif lahir pada 31 Mei 1935. Menurut catatan kakaknya yaitu Alm.Rahima di sebuah rumah bertanduk empat gaya khas Minang buatan ayahnya, di kawasan jorong kecil dan sepi bernama Calau Sejak (1 Desember 2010 dimekarkan menjadi sebuah Nagari dengan nama baru: Sumpur Kudus Selatan, tetapi adat kelembagaannya tetap menyatu dengan Nagari Induk).

Latar belakang Buya Syafii Maarif dalam perkembangannya; menurut Sanusi Latief adalah  tokoh yang membebaskan dari lingkungan yang serba sederhana dan rutin dengan batang sempurnya yang terus mengalir tanpa henti. Kemudian berangkat ke Yogyakarta setelah Syafii Maarif merampungkan Madrasah Mu’allimin Lintau selama tiga tahun, juga telah membebaskan dari kebiasaan menyandang bedil ke sana ke mari sebagai wujud kesukaan Syafii Maarif dalam  menembak hewan. 

Baca Juga  Generasi Micin Penyedap Rasa Bangsa

Adalagi sahabat  Buya Syafii Maarif yaitu bernama Amien Rais; yang mengenalkan dan meminta rekomendasi kepada Fazlur Rahman agar Buya Syafii Maarif dapat diterima untuk meneruskan kuliah di Universitas Chicago tahun 1979-1982. Jasa kedua tokoh ini sudah terekam dalam memori hidupku. Keduanya adalah fasilitator yang efektif bagi Buya Syafii Maarif untuk mengembara lebih jauh dengan modal dasar yang semakin bertambah

Beramal dan berjuang lewat gerakan Muhammadiyah.

Sebuah gerakan Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah; haruslah merupakan gerakan transformasi sosio-budaya, sosio-ekonomi dan sosio-politik, menuju terciptanya sebuah kehidupan kolektif yang adil, maju, makmur di bawah naungan rahmat dan ridha Allah. 

Buya Syafii Maarif menginginkan Gerakan Muhammadiyah seperti dalam buku yang ditulisnya Di Tengah Pergumulan Islam dan Politik; perlu melangkahkan kaki menuju ke arah realiasi cita-cita besar ini. Tetapi, sebelum ke sana, Islam perlu dipahami dengan cara yang sungguh-sungguh, komprehensif dan berencana.

Buya Syafii Maarif yang selalu mengajak masyarakat Indonesia bertoleransi. Ia pun mengajak warga Muhammadiyah agar wawasan umat Islam yang mondial tidak hanya dimiliki oleh sebagian kecil umat Islam. Islam bukanlah agama elitis yang hanya dipahami oleh sekelompok orang saja. Islam sejak semula adalah gerakan kemanusiaan yang pada masa lampau pernah memperlihatkan dinamika gerak kreatif.

Penulis beranggapan sumber daya manusia jika ingin merdeka dari watak-watak kolonial yang mengakar; kita harus memulai dari pemikiran yang progresif atau berkemajuan tanpa mengedepankan amarah.

***

Bagi Syafii Maarif beramal dan berjuang di Muhammadiyah atau kalangan akademisi adalah untuk mendombrak cara berpikir yang lapuk; dan menggantikannya dengan pola pemikiran yang berorientasi ke depan. Dalam hal ini, membangun kesadaran umat manusia yang memproyeksikan surga bersifat metafisik hanya untuk diri sendiri dan ibadah secara personal.

Baca Juga  Asma binti Yazid; Sang Intelektual dan Orator Perempuan (Khatibatun Nisa)

Padahal pada hakikatnya kita semua berhak mengajak manusia untuk berbuat baik dan tinggal di surga bersama. Surga terlalu luas jika untuk sendiri dengan hal ini mengajak masyarakat untuk mengorientasikan Islam kepada orang-orang di sekeliling kita tidak hanya untuk kita saja.

Buya Syafii Maarif adalah tokoh Muhamadiyah dan pemikirannya pun tidak melenceng dari para pendahulu tokoh Muhammadiyah. Muhammadiyah hadir untuk keberagaman dan Muhammadiyah adalah gerakan terbuka yang mana menjunjung tinggi nilai toleransi yang ada.

Setelah Muhammadiyah terus melakukan syiar untuk bangsa melalui tokoh-tokoh cendikiawan muslim yang reformis; Muhammadiyah berhasil mendapat penerimaan oleh masyarakat Indonesia dengan gerakan amar makhruf nahi munkar dan gerakan sosial yang begitu dekat dengan masyarakat.

Keteladan Ahmad Syafii Maarif

Tokoh Muhammadiyah yang masih hidup dan masih mengamati dinamika kebangsaan dan keumatan ini tentunya masih ada di Indonesia. Di usianya yang mulai renta akan tetapi ia tidak pernah absen dalam mengawal perkembangan bangsa. Ia adalah tokoh bangsa dapat saya katakan Buya Syafii Maarif adalah bapak bangsa di era abad 21 yang selalu memberikan pandangan terhadap kenegaraan kita.

Melihat kondisi bangsa dan umat saat ini, mungkin saja banyak yang pesimis. Entah kapan negeri ini segera “mentas”  dari carut marut yang kian tak menentu ini. Tapi, tidak bagi Ahmad Syafii Maarif. Pesimisme baginya harus dibuang jauh-jauh. Syafii adalah sedikit cendekiawan muslim yang saat ini yang secara serius merasa ikut menanggung nasib dan beban yang sedang dihadapi bangsa Indonesia, Ahmad Syafii Maarif dapat dikedepankan sebagai contoh.

Wajah yang kurus dengan garis-garis ketuaan yang makin tegas, kumis dan jenggot yang memutih, dan kepala depannya yang selalu berkerut; menampakan seolah seluruh persoalan bangsa ini sedang menumpuk di kepalanya. Ekpresi wajahnya yang nyaris selalu serius, dengan rona dan sorot mata yang terkesan sedih. Mengisyaratkan begitu seriusnya persoalan bangsa yang sedang dipikirkannya; “Kehancuran bangsa ini hampir sempurna, kita harus menyelamatkannya” begitu kata Buya Syafii Maarif.

Baca Juga  Rohana Kudus Sang Pelopor Renaisans Kaum Perempuan di Minangkabau (Part 1)

Dengan hal itu, Buya Syafii Maarif dalam menghadapi persoalan bangsa ini tidak pernah pesimis, apalagi apatis. Ia tetap mencoba membantu dan ikut memperbaiki dan mengubah nasib bangsa ini, setidaknya proses perubahan ke arah yang lebih baik.

Buya Syafi Maarif yang telah renta selalu menginspirasi para kaum muda dan akademisi serta cendikiawan masa kini. Keoptimisannya berusaha meyakinkan kita supaya menjadikan dinamika bangsa ini adalah tanggung jawab bersama dan kita harus merubah ke arah yang baik. Ahmad Syafii Maarif selalu mengajak untuk tidak memaki-maki keadaan yang memang secara moral semakin meluncur.

Bagikan
Post a Comment