f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
lama

Makin Lama Makin Terasa

“Bu,…”

Suara itu terdengar sayup-sayup di telinga, ketika membuka mata ternyata ada tiga perawat berdiri di samping … sayapun terpaksa bangun dengan mata masih terasa kantuk dan badan terasa lemas karena kurang tidur.

“Minta tolong bu, bapaknya dibangunkan kami mau periksa.” Begitu perawat itu berkata.

“Mas … mas … bangun!” sambil mengusap pipinya yang sedang lelap tertidur karena kelelahan setelah kemarin tidak bisa tidur, tetapi suara saya tidak membuatnya terbangun.

“Coba sekali lagi bu, dibangunkan bapanya!” Perawat meminta kembali membangunkan dengan suaranya yang lembut.

“Mas … mas … bangun!” sesaat melihat perutnya tak bergerak, mulai pikiran bergelayut dan bingung mulai menerpa.

“Mba … suster ko perutnya diam saja …” postur beliau tinggi besar, biasa kalau tidur perutnya kan naik turun. Suasana mulai tambah bingung dan kalut, berusaha positif thinking sambil membaca ayat-ayat Allah.

“Sebentar ya bu kami periksa dulu.” Suster dan teman-temannya mencoba menenangkan dengan penuh sabar dan lembut. Tiga orang perawat itu melakukan pemeriksaan pada beliau, lalu terdengar suara dari salah seorang perawat berkata …

“Innalillahiwainnailaihirojiun … bapa sudah tidak ada bu, sabar ya bu”. Suasana semakin hening, saya hanya terdiam dan suara tangis mulai memecah keheningan dan bulir-bulir air mata tak terasa jatuh.

Kaget, bingung, campur aduk … “tadi tertidur suster ketika saya membacakan Al-Qur’an”. “Coba minta tolong dicek lagi mba!” Saya meminta perawat untuk memeriksa kembali beliau. Untuk meyakinkan saya, mba susterpun melakukannya dan hasilnya sama.

“Maaf bu, bapa sudah tidak ada.” Suster itu sambil memeluk menenangkan saya, mungkin karena saat itu saya hanya sendirian dan suster itu merasa simpati atas kejadian yang menimpa.

Hanya bisa termenung, kemudian mencoba menenangkan diri, mengambil ponsel untuk menghubungi orang tua di rumah. Karena kebetulan, bapa dari kampung sudah ada di rumah menemani anak-anak tetapi belum sempat datang ke rumah sakit.

***

Siapa yang harus dihubungi, dalam hati bertanya-tanya. Di rumah kan tidak ada ponsel. Dibuka-buka kontak ponsel, dan akhirnya menemukan kontak tetangga sebelah.

“Assalamualaikum … Pa, maaf mengganggu. Mau minta tolong sampaikan sama bapa saya, Mas Iwan sudah tidak ada.” Suaranya pelan dan parau.

“Apa bu … serius?” Nada kaget dari beliau, seolah tak percaya dengan berita yang disampaikan.

“Iya, minta tolong ya pa! Biar rumahnya dipersiapkan juga. Maaf, terima kasih pa.”

Suasana hening dan ponselpun seketika ditutup untuk mencari kontak kerabat yang lain. Akhirnya menemukan kontak ade kandung beliau yang kebetulan masih bisa dibilang dekat dengan tempat tinggal kami. Ketika dihubungi ade beliaupun terdengar kaget dengan kabar duka yang disampaikan. Dengan nada suara yang seperti kebingungan apa yang harus dilakukan karena ade adalah satu-satunya ade beliau.

Baca Juga  Upaya Pembentukan Keluarga Sakinah Perspektif Islam

“Lo bukannya kemarin masih telponan, ngobrol sama saya teh?” nada suaranya terdengar kaget mendengar berita yang disampaikan.

“Ya, teteh juga sama kaget de” Suasana hening dan saling diam sejenak. Tak lama kemudian pembicaraan dimulai kembali.

“Terus dari pihak rumah sakit bagaimana perlakuannya, bagus nggak?” Saking nggak percayanya, karena tadi sore masih ngobrol lewat ponsel sambil becandaan dan mengingatkan pada bapa dan ibu yang belum lama pergi menghadap Illahi.

“Alhamdulillah bagus de, mungkin sudah takdir, kita kan ga tau de.” Mencoba menenangkan adenya dengan suara yang lembut bahwa kematian itu tidak bisa diprediksi dan tidak melihat usia ataupun kondisi fisik yang sehat, padahal saat menelpon air mata jatuh terus menerus.

“Ya teh nanti ade ke sana ya, agak siangan.” Sabar ya teh” dengan suara lemah dan seperti kebingungan dan berusaha menenangkan juga. Akhirnya pembicaraanpun selesai dengan diakhiri menutup ponsel.

***

Kembali merenung, tersadar… sahabat beliau di tempat kerja belum ditelpon. Melangkah gontai meraih ponsel beliau di meja dekat tempat tidur beliau terbaring. Dicari kontaknya dan akhirnya menemukan sebuah nama. Nada di ponsel mulai memanggil, dengan harap-harap cemas menunggu jawaban. Tut…mulai gelisah…bagaimana ini…dan akhirnya…terdengar suara menyaut.

“Assalamualaikum…” suara terdengar parau karena baru terbangun dari tidur. Jam-jam sedang enak-enaknya tidur.

“Waalaikumussalam … maaf pa mengganggu tidurnya, saya mau mengabarkan suami saya sudah tidak ada pa…” saat itu tak tahan menahan tangis, tetapi di sana masih terdiam mencerna kata-kata saya.

“Innalillahiwainnailahirojiun…” baru terdengar sesaat dengan nada yang lemah tak sesuai dengan posturnya yang tinggi besar.

“Ya bu, nanti saya ke rumah sakit, ibu tenang ya!” mencoba menenangkan saya yang tadi tak tahan menangis. Dan akhirnya pembicaraanpun selesai dengan ditutupnya ponsel.

Satu lagi kontak yang dihubungi, sahabat kami semasa kuliah yang memang satu kota dan di rumah beliau kami tinggal ketika pertama kali datang ke kota ini untuk merantau. Beliaupun kaget dengan kabar yang saya sampaikan. Dan segera datang ke rumah sakit bersama keluarganya karena tahu di kota ini kami hanya perantau, tak ada sanak saudara. Alhamdulillah tak lama menunggu jawaban ponsel, langsung di jawab.

“Bun … Mas Iwan udah ga ada …” sambil menangis

“Beneran ini..?” nada suaranya tinggi karena kagetnya. 

“Ya bun.” Begitu kami memanggil, karena sudah seperti saudara.

“Ya sudah nanti kami ke rumah sakit ya, sabar ya.” Dengan suara lembut dan menenangkan.

Baca Juga  Mak Mani Ingin Melihat (1)

Semua memang tak disangka-sangka dan tidak bisa diprediksi. “Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Terjemah QS; Al Imron: 185).

Kematian memang tidak melihat usia muda atau tua, anak kecil atau orang dewasa, sehat atau sakit, ketika Allah menghendaki semua bisa terjadi. Kun fa ya kun … jadilah maka terjadilah.

***

Di rumah sakit, sambil menunggu almarhum dirapihkan dulu, datanglah sahabat yang tadi ditelpon. Serasa ada tenaga dengan kedatangan beliau, setelah tadi merasakan lemas yang begitu tiba-tiba.

“Sabar ya…” sambil memeluk erat. Dan hanya air mata yang menjadi jawabannya dan tumpah semua rasa yang tertahankan.

Ponsel mulai berdering sangat sering, mungkin karena sudah mendengar kabar meninggalnya suami. Ada beberapa yang diangkat, ada juga yang tidak.

“Bu, bapa akan dimasukkan ke mobil ambulance, yang mau menemani siapa?” perawat bertanya dengan sopan dan kata-katanya lembut.

“Saya suster, saya yang akan menemani beliau di mobil.” Berusaha tegar, walau harus di dalam ambulance dengan suaranya yang membuat pendengaran merasa takut.

“Ibu kuat…?” perawat kembali meyakinkan dengan bertanya.

“Insyaallah…” mencoba untuk selalu tegar sambil mempersiapkan diri untuk menemui anak-anak nanti di rumah. Langkah kaki mulai menuju mobil ambulance, setelah pamit pada sahabat yang tadi sudah datang dan berusaha menenangkan.

Di samping almarhum, duduk di dalam ambulance dengan hati dan pikiran yang tidak menentu, ditambah suara sirine yang membuat telinga dan perasaan semakin tidak menentu. Suasana di jalan masih terasa sepi, karena jam masih menunjukkan sekitar pukul 04.00 pagi. Lalu lintas belum seramai siang yang biasanya ramai.

Di dalam ambulance itu hanya bisa diam membisu, memegang tangan almarhum yang badannya ditutupi kain.

Akhirnya, sampai juga di rumah dengan disambut beberapa tetangga, yang sudah mempersiapkan semuanya.

Turun dari ambulance terasa tidak menapak kaki ini, seolah orang yang ada di sekitarpun memandang dengan begitu aneh.

***

Sesampainya di rumah, langsung menemui anak-anak yang masih tidur. Pertama kali yang dibangunkan si kaka, anak laki-laki yang mukanya potokopian dari ayahnya.

“Kaka, bangun nak (kaka bangun dari tidur)

“Kaka … ayah sudah tidak ada, ayah meninggal.” Sambil memeluknya dan berusaha untuk tidak menangis di depannya. Karena usianya sudah 10 tahun jadi cukup mengerti dengan ucapan tadi dan tangisnya pecah.

Tiba-tiba sikecil masuk kamar kakanya, dengan muka yang masih terlihat lemas karena baru terbangun dari tidur.

Akhirnya kamipun berpelukan bertiga. Mungkin dalam benak sikecil bertanya-tanya ada apa ini ? Kenapa ini ?

Baca Juga  Kado untuk Ratmi

Di tengah kebingungan hati, melihat anak-anak yang masih membutuhkan sosok seorang ayah, berusaha tegar dengan takdir yang baru saja terjadi.

Hari mulai beranjak siang, satu persatu-satu mulai berdatangan teman, sahabat, saudara untuk melihat dan mendoakan almarhum.

Semua yang terjadi memang di luar batas kita sebagai manusia, semua kaget dan bertanya-tanya, “kenapa, ko bisa, kemaren kan idul adha masih ada, sholat di mesjid, dan nyembelih hewan kurban, beliau kan terihat sehat-sehat saja”

Namanya usia kita tidak bisa memprediksi, saya sendiri saja kaget dan masih tidak percaya kalau beliau sudah tidak ada. Semua kembali pada qadha dan qodharnya Allah.

Beberapa hari setelah kepergian beliau, semua masih biasa dan berjalan seperti biasa, seolah beliau masih ada.

Saya menganggap, beliau sedang mengikuti pelatihan dan bertugas di luar daerah.

Satu minggu, satu bulan, semua kami lewati bersama tanpa beliau dan dimana setelah 40 hari ketiadaan beliau, baru menyadari dengan sungguh-sungguh kalau beliau sudah tidak ada dan memang tidak akan pulang kembali ke rumah.

40 hari berlalu, dengan terpaksa orang tua harus pulang kampung karena tidak mungkin harus menenami kami disini, karena di kampung banyak yang harus dilakukan setelah sekian lama ditinggal.

Kini tinggal kami bertiga dan alhamdulillah ditemani ade laki-laki saya yang dulu sekolah disini ikut bersama kami.

***

Awal beliau meninggalkan kami, belum terpikir apa yang harus dilakukan dan bagaimana ke depannya kehidupan akan berlangsung.

Pelan-pelan semua dilalui, dengan berusaha selalu ikhlas dengan takdir yang sudah terjadi.

Memang tak begitu sulit untuk mencari kesibukan atau kegiatan supaya pikiran teralihkan, mungkin karena saya seorang guru jadi disiang hari bisa berinteraksi dengan anak-anak di sekolah dan teman-teman sejawat. Untuk di rumah bisa dengan anak-anak.

4 bulan berlalu dan masa iddahpun selesai, saya langsung berangkat umroh sesuai dengan yang sudah direncanakan, 9 hari melaksanakan ibadah umroh dan di sana terasa nikmatnya beribadah.

Doa-doa dipanjatkan terutama untuk almarhum, masih terbayangkan ketika saya badal umroh untuk almarhum. Ketika itu saya sedang melakukan sa’i, saya melihat ada sepasang suami istri berdua, tiba-tiba air mata jatuh. Astagfirullohaladzim … segera saya sadarkan diri dengan menyebut asma-Nya.

Sesaat kejadian itu saya merasa tangan saya ada yang menarik dan merangkul untuk menyelesaikan sa’i. (Selalu berpikiran positif, semua terjadi atas kehendak Allah dan Allah menginginkan saya untuk tetap semangat melanjutkan hidup). Kematian itu pasti, tak mengenal usia dan kondisi sehat.

Masya allah sungguh luar biasa.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment