f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
peradaban

Masjid sebagai Wajah Peradaban Islam

Menjelang bulan suci Ramadan, ada sebagian dari kita merindukan nuansa berburu takjil, beberapa juga merindukan kehangatan beribadah. Apalagi yang pernah ke Jogja, sebagian mereka turut merindukan rentetan agenda Masjid UGM; selainnya, Masjid Jendral Sudirman dan Masjid Jogokariyan yang hidup dengan tradisi intelektual. Ramadan yang turut menjadi sempalan kerinduan akan kehangatan kepada tempat bernaung yang kerap kita sebut sebagai rumah Allah.

Baru-baru saja, panitia Masjid Kampus UGM di akun resminya memberitahukan kepada seluruh umat Muslim di Yogyakarta terkait rentetan pembicara yang akan mengisi di bulan Suci Ramadan 1443 Hijriah. Ini sudah membudaya dalam agenda tahunan dari masjid UGM.

Menjadi hal yang menarik, karena Masjid Kampus UGM mampu menjadi salah satu contoh corak transformasi masjid menjadi rumah peradaban. Ia membicarakan beragam persoalan sosial, serta agenda-agenda perubahan yang berangkat dari kesadaran umat Islam.

Hal yang dinanti-nantikan menjawab pada kritikan yang mengarah pada umat Muslim itu sendiri; tentang bagaimana menjamurnya dakwah konservatif yang sementara ini masih menjadi wajah umat Islam di tanah air kita. Hadiirnya Masjid UGM dan masjid-masjid lainnya adalah tanda sebagai pengeras suara bahwa masjid perlu kemudian menjadi sentral dari lahirnya tradisi intelektual Muslim. Masjid harus mampu menjadi tempat produksi dari lahirnya wacana-wacana progresif terkait kegamaaan dan kebangsaan.

Dari Masjid untuk Peradaban

Mengenai makna dan fungsi masjid, kita dapat memaknai lebih dari QS. Surah An-Nuur ayat 36-37, bahwa masjid merupakan tempat untuk memuliakan nama Allah dengan berzikir, salat, serta menunaikan zakat.

Namun jelas bahwa masjid adalah rumah Allah, maka segala aktivitas di dalamnya adalah ibadah, karena pada hakikatnya manusia adalah hamba-Nya. Perlu digaris bawahi semua aktivitas yang bukan termasuk tindakan-tindakan yang melanggar ajaran agama.

Baca Juga  Perilaku Adaptif Manusia dalam Berinteraksi Sosial di Masa Pandemi COVID-19

Harun Nasution menerangkan bahwa di masa perjalanan sejarah Islam, masjid selain menjadi sebagai tempat ibadah, juga sebagai tempat mengatur strategi, menyampaikan pidato-pidato, dan bahkan sampai memutuskan perkara peradilan. Masjid dalam sejarahnya menjadi simbol penting bagi umat Muslim, melambangkan syiar dakwah dan bukan hanya sebatas pusat peribadatan.

Sejak masa awal perjalanan nabi, ketika hijrah. Pembangunan masjid untuk menjalin ruang solidaritas antara kaum Muhajirin dan Ansor, hingga kini kita kenal sebagai masjid Nabawi. Waktu itu masjid memiliki fungsi selain tempat peribadatan, juga sebagai islamic center, tempat pengaduan kepada Rasulullah terkait seluruh permasalah sosial masyarakat waktu itu.

Revitalisasi masjid di Indonesia, terutama di Bulan Suci Ramadhan adalah bentuk di mana masjid memiliki kemungkinan besar menjadi corong lahirnya peradaban madani, menjadi titik temu antara bagaiamana dimensi spiritual dan dimensi sosial mampu bersatu-padu. Revitalisasi ditandai dengan bangkitnya tradisi intelektual yang itu timbul dari masjid ke masjid.

Penulis beranggapan bahwa masjid di masa sekarang perlu sampai pada titik kebangkitannya, melalui dakwah transformatif berbasis budaya dan ilmu pengetahuan untuk timbul sebagai counter narasi terhadap dakwah konservatif.

Sehingga, masjid mampu menjadi satu-satunya yang memiliki pengeras suara untuk merumuskan formulasi-formulasi sumbangsi bagu dalam jalannya peradaban. Secara sederhana ada beberapa rumusan fungsi masjid. Pertama, fungsi sebagai tempat peribadatan untuk lebih dekat kepada Allah Swt. Kedua, fungsi pendidikan sebagai tempat hidupnya tradisi intelektual. Ketiga, fungsi sosial sebagai tempat di mana segala persoalan sosial diperbincangkan.

Catatan Penutup

Berangkat dari kesadaran historis akan keberadaan Islam sebagai rahmatan lil alamin; keberadaan masjid harus mampu menjadi salah satu penghasil wacana-wacana kritis yang menginterupsi jalannya peradaban. Di sisi lain, Islam di tengah perkembangan zaman dengan keragaman umatnya, revitalisasi masjid menjadi hal yang penting untuk kemudian menjadi bentuk counter narasi terhadap menjamurnya dakwah konservatif dalam beberapa tahun terakhir.

Bagikan
Post a Comment