f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
istri keluarga

Bolehkah Istri Memimpin Keluarga?

Realita sosial memperlihatkan kepada kita bahwa ada ketimpangan antara perempuan dan laki-laki. Perempuan dianggap sebagai manusia “tingkat dua” di bawah laki-laki. Bahkan seringkali perempuan didiskriminasi dan dimarginalkan.

Ketimpangan ini oleh sebagian besar karena kenyataan sosial yang masih mendukung dan melestarikan budaya patriarki (sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama). Apalagi, umat Islam belum bisa terlepas dari pemahaman yang bias gender dalam memahami doktrin terkait isu-isu feminisme.

Misalnya, banyak di antara umat Islam yang memiliki pemahaman bahwa, laki-laki itu lebih baik (afdhal) daripada perempuan. Sehingga perempuan tidak boleh menjadi pemimpin, baik dalam rumah tangga ataupun dalam ranah publik. Dasar dari pemahan semacam ini adalah surat An-Nisa ayat 34.

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ …

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”

Banyak ulama yang menjadikan ayat di atas sebagai dasar, bahwa dalam ranah keluarga ataupun publik laki-lakilah yang mestinya menjadi pemimpin.

Ada dua alasan, mengapa hak menjadi pemimpin dalam keluarga adalah mutlak milik laki-laki. Pertama, kelebihan laki-laki atas perempuan (بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ), menurut beberapa ulama, kelebihan itu maksudnya adalah kelebihan keilmuan, spiritualitas dan finansial. Kedua, karena laki-laki telah menafkahkan sebagian harta mereka untuk memenuhi kebutuhan keluarga (وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ).

***

Menurut Engineer, ayat itu tidak bisa menjaadi dasar untuk mendukung superioritas laki-laki atas perempuan. Karena redaksi ayat tersebut adalah “bi ma fadldlolallahu ba’dluhum ‘ala ba’dli” (karena Allah telah melebihkan sebagian kalian atas sebagaian yang lain). Jika Allah ingin menegaskan superioritas laki-laki atas perempuan; maka Allah akan mengungkapkannya dengan redaksi yang jelas, misalnya “bi ma fadldlala al-rijal ‘ala al-nisa” (karena Allah telah melebihkan laki-laki atas perempuan).

Baca Juga  Tak Ada yang Nyaman di Zona Nyaman

Ayat ini tidak bisa dipahami semata-mata sebagai ayat normatif, akan tetapi ayat ini adalah ayat yang memaparkan kondisi riil sistem keluarga pada saat Rasul Saw diutus.

Saat itu sistem keluarga yang berjalan adalah sistem patriarkhal (sistem yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama), karena saat itu hanya laki-laki saja yang memiliki kemampuan untuk memimpin keluarga dan memberi nafkah.

Sistem patriarkhal ada pada zaman Nabi Saw bukanlah sistem dalam Islam, melainkan budaya Arab. Sistem ini (pariarkhal) tidak mengandung nilai baik dan buruk, begitupun sistem matriarkhal juga tidak mengandung nilai baik dan buruk.

Baik dan buruk sistem tersebut tergantung bagaimana suatu komunitas dalam mempraktekannya. Sistem patriarkhal pada zaman jahiliyah dinilai buruk secara moral; karena saat itu kaum laki-laki seringkali melakukan penindasan kepada perempuan.

Maka suatu komunitas masyarakat boleh menggunakan tiga bentuk kepemimpinan dalam keluarga (patriarkhal, matriarkhal, kolektif) sesuai dengan budaya mereka. Jika dalam suatu komunitas masyarakat, istri (perempuan) mempunyai kelebihan baik dari segi keilmuan, spiritualitas, maupun finansial daripada laki-laki dan istri yang menafkahi keluarga maka boleh saja istri yang menjadi pemimpin dalam keluarga.

***

Begitu pula sebaliknya, jika dalam sebuah keluarga, suami yang memiliki keunggulan daripada istri dan suami yang menafkahi keluarga. Maka suami mempunyai hak untuk memimpin keluarga. Kepemimpinan kolektif juga bisa diterapkan jika keduanya sama-sama memiliki kemampuan.

Dengan demikian, suami tidak secara otomatis menjadi pemimpin keluarga, karena keunggulan tidak selamanya milik laki-laki. Baik laki-laki maupun perempuan keduanya memiliki kesempatan yang sama untuk berusaha dan menjadi unggul. Dengan demikian keduanya memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin dalam keluarga.

Ini sejalan dengan hadits Nabi saw: Dari ‘Abd Allâh bin ‘Umar radliya Allah ‘anhumâ bahwa dia mendengar Rasulullah shallâ Allâh ‘alayhi wa sallam bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam (kepala negara) adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami dalam keluarganya adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas orang yang dipimpinnya. Seorang istrei di dalam rumah tangga suaminya adalah pemimpin dia akan diminta pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (Ahmad ibn ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari  bi Syarh al-Bukhari, Juz 11 (Riyad: Dâr Thayyibah, 2005), hlm. 559)”.

Memang benar, ketidakpastian siapa yang menjadi pemimpin dalam keluarga berpotensi menimbulkan perselisihan antara suami dan istri dalam menentukan siapa di antara suami dan istri yang berhak menjadi pemimpin.

Baca Juga  Sampah Parasit bagi Manusia

Namun, perselisihan semacam ini sebetulnya bisa dapat terselesaikan dengan baik melalui musyawarah antara suami dan istri. Jika keduanya memahami bahwa siapapun dapat menjadi pemimpin dalam keluarga. Misalnya penentuannya atas dasar penghasilan suami/istri.

Kalaupun keduanya tidak mencapai titik temu karena keduanya memiliki pendapatan yang seimbang maka kepemimpinan kolektif juga bisa menjadi solusi. Dengan pemahaman seperti ini, maka akan memberi peluang terpilihnya pemimpin (dalam keluarga) yang benar-benar memenuhi syarat.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment