f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
usia

Bertambah Usia, Bertambah Manfaat untuk Sesama

Nama lengkapnya Kenanga Masri, akrab disapa Ummi Nang. Usia seakan tak menghalanginya untuk melakukan kegiatan sosial masyarakat. Di usianya yang kini memasuki kepala 6, semangatnya masih tetap membara. Sikap rendah hati dan selalu tampil apa adanya adalah salah satu sifat yang  membuat saya kagum. Usia tidak membuatnya menjadi seperti kebanyakan orang tua pada umumnya, semangatnya dalam membantu orang lain seakan tak ada habisnya. Semangat dalam menuntut ilmu dan sangat mencintai ilmu adalah salah satu di antara berbagai sifatnya. Terlihat dari banyaknya buku-buku yang ada di rak kamarnya. Ibu dari 13 orang anak ini memang patut kita teladani.

Dia adalah  istri pertama dari seorang ustaz yang biasa disapa Ustadz Hadi. Anak laki-lakinya ada 6 orang sedangkan anak perempuannya 7 orang. Bisa kita bayangkan, betapa riweuhnya mereka mengurusi anak, terlebih lagi ketika anak-anak mereka, memiliki kegiatan ataupun keinginan yang hampir bersamaan.

***

Menjalani kehidupan sebagai istri pertama dan tinggal satu rumah dengan istri kedua membuat saya kagum sekaligus takjub. Mendidik anak-anaknya dengan bekal agama yang benar adalah kewajiban orang tua dan ini sudah Ummi Nang buktikan. ”Saya seorang otodidak dididik oleh ayah dan ibu saya untuk mencintai belajar, kata ayah belajar itu tidak ada batas waktunya,” ceritanya waktu saya wawancarai.

Dia juga bercerita bahwa ayahnya adalah seorang pendidik yang mempunyai dedikasi tinggi dalam dunia pendidikan. Ummi Nang mempunyai impian untuk bisa memiliki banyak anak yang nantinya mereka semua akan menghidupkan rumah dengan warna-warna yang indah dengan bacaan Al-Qur’an. Mendirikan pondok pesantren adalah impiannya sejak dulu. Dan alhamdulillah, ia beserta keluarga mampu merealisasikan mimpinya dengan mendirikan pondok pesantren yang ia namai Sahabat Qur’an Ibnu Mas’ud. Pesantren ini bertempat di Yogyakarta, dan berlokasi persis di tengah sawah. Tempat yang cocok untuk menghafal Al-Qur’an.

Baca Juga  Hidup Bahagia Bersama Tumor di Dada

Pondok pesantren yang ia dirikan bersama anak dan keluarganya ini pada akhirnya membuahkan hasil. Walaupun di masa-masa awal pendirian pondok, sempat dia menjual mobil untuk keperluan pembangunan. Ada puluhan santri yang tinggal di dalamnya, usianya pun beragam. Santrinya juga banyak yang berasal dari luar daerah Jogja. Hebatnya lagi pondok pesantren ini dikepalai oleh anaknya sendiri. Tenaga pengajarnya kebanyakan dari anak dan menantunya. Karena kebanyakan dari anaknya adalah jebolan pondok pesantren. Semua anaknya mampu menyelesaikan hafalan Al-Qur’an. Hanya beberapa anak saja yang tidak masuk pondok pesantren. Ada juga yang kuliah secara umum di Universiras Islam Indonesia dan lulus dengan predikat cumlaude. Dia menuturkan, bahwa setelah anak-anaknya lulus dari pondok, mereka bekerja sebagai guru tahfidz; kemudian mereka juga membiayai kuliahnya sendiri karena sedari kecil mereka sudah dididik untuk mandiri dan punya rasa malu untuk meminta pada orang tua, kecuali memang dalam kondisi darurat.

***

Oh iya, pondoknya memang tidak terlalu besar, namun sangat memberi kemanfaatan untuk semua. Tenaga pengajar dan karyawannya merasa sangat terbantu. Menurutnya, mendirikan sekolah adalah impian dari kedua orang tuanya, sekolah yang bisa merubah peradaban dan dibina oleh guru yang berdedikasi tinggi. Alasan lain dari pendirian pondok ini salah satunya ialah dia ingin membangun sebuah wadah sebagai tumbuhnya keilmuan dari sebuah generasi yang dengan ilmunya itu dia berharap  mendapatkan cipratan pahala dari amal saleh mereka.

Harapan dari pendirian pondok pesantren ini dia sampaikan semoga terus berkembang, melahirkan para penghafal Al-Qur’an dan semoga Allah takdirkan mereka semua menjadi penjaga Al-Qur’an serta memuliakannya. Harapan untuk seluruh santrinya semoga mereka selalu mencintai Al Qur’an dengan hatinya, mengamalkan dan mengajarkannya hingga suatu saat akan tumbuh generasi yang cinta ilmu, cinta Al-Qur’an, cinta kebaikan dan bisa menjadi rahmatan lil ‘alamiin.

Selain menjadi pengasuh pondok pesantren, dia juga mengumpulkan barang-barang bekas (barkas) yang ia kumpulkan dari wali santri dan tetangga. Mulai dari pakaian sampai perlengkapan rumah tangga. Barang bekas yang ia jual harganya sangat murah. Mulai dari satu set gamis hanya Rp.15.000,00 sampai Rp.20.000,00. Banyak yang datang untuk membeli dan nantinya akan dijual kembali dengan harga yang bisa dibilang cukup murah. Tidak jarang dia juga sering memberikan baju kepada semua karyawannya secara cuma-cuma. Sering masyarakat sekitar yang kurang mampu ia undang dan kemudian ia beri baju yang masih layak pakai. Tenaga memang tidak seberapa tetapi semangatnya untuk bisa mengambil peran di masyarakat seakan tidak ada habisnya. Terlahir dari keluarga yang berada tidak membuatnya malu untuk banyak berbuat kebaikan bagi yang membutuhkan. Pernah suatu hari dia mendonasikan baju-baju layak pakai untuk korban bencana. Semua hasil penjualan dari barang bekas dia donasikan seluruhnya untuk biaya pembangunan pondok pesantren.

Baca Juga  Rasuna Said : Orator Perempuan dari Tanah Minang
***

Masyarakat sekitar pun merasa terbantu dengan adanya sosok Ummi Nang. Hampir setiap bulan, ia rutin membagikan paket sembako kepada masyarakat sekitar. Sembako yang ia bagikan berisi bahan makanan. Sering saya memperhatikan sikap dan tingkah lakunya yang tegas tetapi lembut. Matanya yang teduh memberikan kenyamanan bagi siapa saja yang menatapnya. Membuat saya tersadar akan arti pentingnya berbagi kepada yang membutuhkan. Sikap bijaksana dan rendah hati menjadikan orang-orang merasa nyaman saat berada di dekatnya. Dia juga sangat memperhatikan akan hal kebersihan, bahkan tidak malu saat membersihkan kamar mandi santri yang terlihat kotor. Ia sering mengadakan kerja bakti di lingkungan pondok pesantren dan dia juga turun langsung untuk mengawasinya. Apapun ia lakukan asalkan pekerjaan itu masih bisa ia jangkau.

Pernah terlintas saat pertama kali saya bekerja disini, mendapati seorang atasan masih mau membersihkan kamar mandi dan menyapu halaman merupakan suatu hal yang jarang dilakukan. Tetapi sifat yang sederhana dan bersahaja itu tidak lantas membuatnya menjadi sombong. Seharusnya kita sebagai generasi muda bisa jauh lebih semangat dalam menebar kebermanfaatan. Usia yang masih mudah, tenaga yang masih kuat dan pengetahuan yang luas adalah salah satu alasan untuk bisa lebih bermanfaat. Khusunya mahasiswa, yang diharapkan mampu menjadi agent of change atau agen perubahan yang bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Ummi Nang membuktikan, bahwa usia yang sudah senja tidak menghalanginya untuk terus berbuat kebaikan. Tidak ada alasan untuk tidak bermanfaat bagi orang lain karena menurutnya,“Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat, maka dari itu tebarkanlah manfaat untuk semua.” Sering saya meminta nasihat darinya perihal peliknya kehidupan ini. Dia mendengarkan dengan penuh seksama dan memberikan solusi serta saran yang memotivasi.

Baca Juga  Di Bawah Ancaman Milenial Homeless, Jadi Ayah Penakut atau Ayah Pemberani?
***

Terima kasih Ummi Nang, sudah mengajarkan banyak hal baik dalam hidup. Terima kasih pula untuk kebaikan-kebaikan yang sudah engkau berikan, saya hanya bisa membalas semua kebaikanmu dengan doa yang bisa saya lantunkan setiap waktu. Setelah beberapa bulan saya bekerja dan tinggal di pondok pesantren ini, saya belajar apa itu arti sebuah keikhlasan, kebahagiaan, tanggungjawab, serta mengerti apa artinya berbagi dan bersyukur di setiap keadaan.

Harapan sederhana saya adalah bisa bermanfaat sepertimu, yang nantinya bisa mengabdi untuk pondok pesantren ini dan membuat saya ingin selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Terakhir, untukmu dan keluarga, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan, keselamatan, kelancaran dalam hidup serta semoga selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin Yaa Rabbal’alamin.

Bagikan
Post a Comment